Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Menjadi Acuan Penentuan Musim Tanam dan Antisipasi OPT di NTT

Kupang, 30 September 2026 — Prediksi musim hujan 2026/2027 yang disampaikan Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur menjadi informasi penting bagi sektor pertanian, khususnya dalam menentukan waktu tanam, menyiapkan pengelolaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Informasi tersebut diperoleh Ibu Asmah, Kepala Seksi Pengamatan dan Peramalan OPT UPTD Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, dalam Konferensi Pers Prediksi Musim Hujan 2026/2027 yang diselenggarakan Stasiun Klimatologi Kelas I NTT di Kupang, Rabu (30/9/2026). Hasil konferensi menjadi bahan perhatian Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Bapak Gabriel Gara Beni, dalam memperkuat kesiapsiagaan perlindungan tanaman menghadapi musim tanam 2026/2027.
Berdasarkan paparan BMKG, hingga 20 September 2026 seluruh 28 Zona Musim (ZOM) atau 100 persen wilayah daratan NTT masih mengalami musim kemarau. Awal musim hujan 2026/2027 diprediksi mulai pada November di 1 ZOM atau 2,84 persen wilayah, sedangkan 27 ZOM atau 97,16 persen diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Hal yang perlu menjadi perhatian sektor pertanian adalah 93,93 persen atau 26 ZOM diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal. Di sisi lain, sifat musim hujan pada 19 ZOM atau 75,52 persen diprediksi berada pada kategori normal. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2027 di 9 ZOM dan Februari 2027 di 19 ZOM.
Selain awal musim yang cenderung mundur, 18 ZOM atau 68,41 persen diprediksi mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dari normal. Kondisi inilah yang perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan waktu tanam tanaman pangan, terutama padi dan jagung.
Waktu Tanam Padi dan Jagung Perlu Disesuaikan
Prediksi tersebut memberikan pesan penting bagi petani: waktu tanam tidak sebaiknya hanya didasarkan pada hujan pertama, tetapi perlu disesuaikan dengan awal musim hujan di wilayah masing-masing dan kondisi ketersediaan air.
Pada Oktober–November 2026, ketika sebagian besar wilayah masih berada dalam periode kemarau, petani dapat memanfaatkan waktu untuk melakukan persiapan lahan, menyiapkan benih dan sarana produksi, memperbaiki saluran air, melakukan konservasi air serta melakukan langkah-langkah pencegahan OPT.
Memasuki Desember 2026, ketika 27 ZOM diprediksi mulai memasuki musim hujan, periode ini menjadi jendela awal tanam bagi sebagian besar wilayah NTT, dengan tetap menyesuaikan kondisi ZOM dan ketersediaan air setempat.
Untuk padi, khususnya sawah tadah hujan, penanaman perlu dilakukan ketika kondisi air sudah mendukung dan hujan mulai lebih konsisten. Penanaman terlalu awal berisiko menghadapkan tanaman muda pada kekurangan air apabila hujan kembali berhenti.
Sementara pada jagung di lahan kering, ketepatan waktu tanam menjadi sangat penting karena tanaman membutuhkan ketersediaan air yang cukup pada fase awal pertumbuhan. Petani perlu memanfaatkan awal musim hujan secara optimal, tetapi tetap menghindari penanaman hanya berdasarkan satu kejadian hujan.
Dengan demikian, Desember 2026 dapat menjadi periode penting untuk awal tanam di sebagian besar wilayah NTT, tetapi bukan berarti satu tanggal tanam berlaku untuk seluruh wilayah. Keputusan akhir tetap perlu mengikuti kondisi masing-masing ZOM, ketersediaan air dan informasi lapangan.
Hal ini sejalan dengan rekomendasi BMKG agar sektor pangan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi musim hujan.


Peluang Produksi Tetap Ada, tetapi Strategi Tanam Harus Tepat
Prediksi musim hujan yang datang lebih lambat bukan berarti petani tidak dapat memperoleh hasil produksi yang baik. Sebanyak 19 ZOM atau 75,52 persen diprediksi memiliki sifat musim hujan normal. Namun, karena sebagian besar wilayah diprediksi mengalami kemunduran awal musim dan durasi musim yang lebih pendek, maka ketepatan waktu tanam menjadi semakin penting.
Untuk itu, petani perlu menghindari dua kondisi yang sama-sama berisiko, yaitu menanam terlalu awal ketika ketersediaan air belum stabil dan menanam terlalu terlambat sehingga periode pertumbuhan tanaman tidak optimal dalam musim hujan yang relatif lebih pendek.
Pengelolaan air juga perlu menjadi bagian dari strategi. BMKG merekomendasikan pemanfaatan air hujan, peningkatan kapasitas tampungan air, identifikasi sumber air tanah, serta optimalisasi drainase dan konservasi air.
POPT Memperkuat Pengamatan dan Peringatan Dini
Informasi musim tersebut juga menjadi bahan penting bagi Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang berada di bawah UPTD Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan.
POPT memiliki peran penting dalam menerjemahkan informasi iklim menjadi informasi teknis di tingkat lapangan. Dengan mengetahui bahwa awal musim hujan cenderung mundur dan durasinya lebih pendek, pengamatan dapat dipersiapkan sejak masa peralihan musim hingga memasuki musim tanam.
POPT perlu memperkuat pengamatan terhadap kondisi pertanaman dan perkembangan OPT secara berkala, mencatat perkembangan populasi maupun gejala serangan, serta memberikan informasi peringatan dini kepada petani apabila ditemukan potensi peningkatan serangan.
Pada tanaman padi, pengamatan dapat diarahkan terhadap OPT seperti wereng batang coklat (WBC), penggerek batang, tikus, tungro, blas dan penyakit lainnya. Sementara pada jagung, kewaspadaan perlu diberikan terhadap OPT seperti ulat grayak jagung, penggerek batang, penggerek tongkol, lalat bibit, bulai dan tikus, sesuai dengan hasil pengamatan aktual di masing-masing wilayah.
Dengan demikian, pola kerja yang perlu diperkuat adalah:
Informasi BMKG → analisis kondisi wilayah → pengamatan POPT → peringatan dini → rekomendasi kepada petani → tindakan pengendalian.
Pendekatan ini memungkinkan petani tidak hanya menerima informasi bahwa musim hujan akan datang terlambat, tetapi juga memperoleh arahan yang lebih konkret mengenai kesiapan tanam dan pengelolaan pertanaman.
Sinergi Informasi Iklim dan Perlindungan Tanaman
Prediksi musim hujan 2026/2027 menjadi salah satu dasar bagi UPTD Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim tanam mendatang. Informasi tersebut perlu terus diterjemahkan melalui pengamatan lapangan oleh POPT dan dikomunikasikan kepada petani secara tepat waktu.
Dengan memperhatikan awal musim hujan, ketersediaan air, kondisi masing-masing ZOM, waktu tanam, pemilihan varietas dan perkembangan OPT, petani dapat menyesuaikan strategi budidayanya dengan kondisi musim yang dihadapi.
Dengan demikian, tujuan utama bukan sekadar menanam lebih cepat, tetapi menanam pada waktu yang tepat berdasarkan kondisi air dan musim, serta memastikan tanaman mendapatkan perlindungan sejak awal pertumbuhan.
Melalui sinergi antara informasi iklim BMKG, UPTD Proteksi, POPT, penyuluh dan petani, diharapkan risiko kegagalan pertanaman akibat salah waktu tanam, kekurangan air maupun gangguan OPT dapat ditekan dan produksi pertanian NTT pada musim 2026/2027 dapat tetap terjaga.
