Dinas Pertanian NTT Intervensi Desa Manufui, Dorong Peningkatan Ekonomi dari Pangan Lokal

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong peningkatan ekonomi masyarakat Desa Manufui, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), melalui pengembangan pangan lokal.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan intervensi desa dengan Festival Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) yang digelar pada 25-26 September 2026. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, SP.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Christiany Ivonny Beda, SP, mengatakan intervensi desa tersebut merupakan bagian dari perhatian pemerintah terhadap daerah dengan kategori khusus atau rentan, termasuk wilayah desil 1 dan 2.
“Yang terutama yang mau dimunculkan ini adalah kegiatan intervensi desa melalui OPD dengan kegiatan Festival Pangan B2SA. Kegiatan intervensi desa ini digagas oleh Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur untuk memberikan perhatian khusus kepada daerah-daerah dengan kategori khusus atau rentan, desil satu atau dua yang ada di NTT,” kata Christiany kepada POS-KUPANG.COM
Menurutnya, kegiatan diawali dengan musyawarah desa untuk menggali potensi yang dimiliki masyarakat sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang selama ini menghambat peningkatan ekonomi desa.
Dalam musyawarah tersebut, masyarakat mengungkapkan potensi ubi dan pisang yang selama ini belum diolah secara maksimal menjadi produk bernilai tambah.
Salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat adalah akses transportasi dan pemasaran yang relatif sulit, terutama ketika memasuki musim hujan.
Melalui intervensi tersebut, Kelompok Nekmese Manufui didorong mengembangkan ubi dan pisang menjadi produk olahan.
Dua produk yang telah dihasilkan dan diluncurkan dalam kegiatan tersebut yakni keripik pisang dan keripik ubi.
Pengembangan produk tersebut mendapat dukungan dari Tim Penggerak PKK Kecamatan Santian dan PT Morige Nusa Tenggara melalui pendampingan pengolahan pangan lokal dan pengembangan kemasan.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT juga memberikan bantuan mesin pengolahan pangan senilai Rp50 juta kepada Kelompok Nekmese Manufui.
Bantuan tersebut berupa mesin pencacah, mesin pengiris, mesin peniris minyak, peralatan kemasan dan perlengkapan pendukung lainnya.
“Tujuan harapannya adalah biar produk itu bisa mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan pendapatan bagi mama-mama di sana,” ujar Christiany.
Ia mengatakan pemasaran produk akan terus didorong melalui kerja sama dengan SMK Restorasi Manufui, PT Morige Nusa Tenggara dan pemanfaatan NTT Mark yang telah dibangun di TTS.
Selain pengembangan pangan lokal, Festival B2SA juga dirangkaikan dengan pemberian makanan B2SA kepada 150 anak untuk mendukung penanganan stunting dan masalah gizi.
Berdasarkan data Kepala Puskesmas Manufui, terdapat sekitar 90 anak stunting di wilayah tersebut, termasuk anak-anak dari desa tetangga.
Kegiatan lainnya yakni Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama Perum Bulog TTS. Masyarakat mendapatkan akses bahan pangan pokok seperti beras, gula dan minyak dengan harga yang lebih terjangkau.
Christiany mengatakan kegiatan tersebut sekaligus mendekatkan akses pangan kepada masyarakat Desa Manufui yang selama ini harus berbelanja kebutuhan pokok ke wilayah lain.
“Melalui Gerakan Pangan Murah ini kita bisa menyiapkan pangan yang dibutuhkan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan serta mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Intervensi juga dilakukan melalui pemberian bantuan benih hortikultura kepada empat desa dan kelompok tani. Bantuan tersebut diarahkan untuk pemanfaatan pekarangan guna memenuhi kebutuhan pangan bergizi sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Christiany menjelaskan konsep B2SA tidak hanya berfokus pada pemenuhan karbohidrat, tetapi juga mencakup sumber protein hewani dan nabati serta vitamin dan mineral.
“Pangan B2SA itu bukan hanya kita karbohidrat saja, tetapi melengkapi semua sumber protein, sumber protein hewani, nabati, kemudian vitamin dan mineral,” jelasnya.
Festival B2SA di Desa Manufui juga diisi dengan pameran UMKM dari desa dan sekolah, bimbingan teknis pengolahan pangan lokal, pagelaran seni budaya, serta kunjungan lahan pertanian sayuran dan perkebunan jambu mete.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT bersama tim BPP Kecamatan Santian melihat potensi air permukaan, sumber mata air dan perkebunan jambu mete seluas 75 hektare yang merupakan bantuan Pemerintah Provinsi NTT dan Kementerian Pertanian.
Christiany berharap intervensi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan festival, tetapi dilanjutkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, sekolah, Puskesmas, kelompok perempuan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan pelaku usaha.
Ia menilai pengolahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat Desa Manufui.
“Diharapkan produk OVOP itu juga yang tadinya ubi kayu, barangkali empat batang dibeli dengan harga yang murah, tapi setelah diolah menjadi keripik ubi, harganya sudah mencapai satu bungkus dengan berat mungkin sekitar 150 sampai 200 gram. Itu harganya bisa mencapai Rp20 ribu,” katanya.
Dengan demikian, potensi pangan lokal diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berkembang menjadi sumber pendapatan dan penggerak perekonomian masyarakat Desa Manufui.
Sumber : Dinas Pertanian NTT Intervensi Desa Manufui, Dorong Peningkatan Ekonomi dari Pangan Lokal
