Pameran Pangan Lokal 2026, Wabup Belu Ajak Masyarakat Bangga dan Konsumsi Pangan Lokal

Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, mengajak masyarakat untuk mencintai dan meningkatkan konsumsi pangan lokal sebagai bentuk dukungan terhadap petani, nelayan, pelaku UMKM serta masyarakat yang berada dalam rantai ekonomi pangan.
Hal tersebut disampaikan Wabup Vicente Hornai saat pembukaan Pameran Pangan Lokal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT di Kabupaten Belu, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Kreasi Lokal untuk Ketahanan Berkelanjutan” tersebut berlangsung di Alun-alun Kota Atambua (2-3 Oktober 2026).
Atas nama Pemerintah Kabupaten Belu, Vicente menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT yang telah memilih Kabupaten Belu sebagai tempat pelaksanaan pameran pangan lokal.
Ia juga menyambut kedatangan jajaran Pemerintah Provinsi NTT, peserta pameran dari berbagai kabupaten, pelaku UMKM dan seluruh pihak yang mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Menurut Vicente, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pameran dan perlombaan, tetapi menjadi ruang untuk mengembangkan sekaligus membanggakan kekayaan pangan lokal yang dimiliki masyarakat.
“Kegiatan ini bukan sekedar pameran dan perlombaan. Lebih daripada itu, menjadi ruang untuk mengembangkan dan membanggakan kekayaan pangan lokal yang kita miliki, khususnya di tengah tantangan pemenuhan pangan dan gizi yang lebih mandiri, kreatif, dan inovatif,” kata Vicente.
Ia mengatakan, semangat Rai Belu, Fila Ba Abut yang berarti kembali ke akar, mengajak masyarakat untuk menghargai dan mencintai warisan leluhur, termasuk pangan lokal yang dihasilkan dari tanah dan kebun sendiri.
Karena itu, menurut Vicente, gerakan konsumsi pangan lokal perlu dimulai sejak dini, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat hingga lingkungan pemerintah.
“Diversifikasi pangan perlu terus didorong agar masyarakat tidak hanya memanfaatkan satu jenis sumber pangan. Makanan yang mengenyangkan tidak hanya nasi. Olahan jagung bose maupun ubi rebus jauh lebih sehat dan bernutrisi tinggi,” ujarnya.
Vicente menambahkan, pemanfaatan pangan lokal saat ini semakin berkembang melalui kreativitas dan inovasi pelaku ekonomi kreatif serta UMKM.
Ibu-ibu dan pegiat UMKM, kata dia, mampu mengolah hasil pangan lokal menjadi produk siap saji yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Dengan demikian, adalah sebuah kebanggaan bagi kita, ketika produk pangan lokal semakin dikenal dan dikonsumsi di berbagai kalangan masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Vicente juga menyampaikan bahwa salah satu pangan lokal Belu, yakni Ai Uhik Kuhus, telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2026.
Sumber: Tribun Kupang
