Perbanyakan Massal Parasitoid Tetrastichus di Sikka, Disiapkan untuk Kendalikan Hama Kelapa

SIKKA, 16 Oktober 2026 – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui UPTD Perbenihan, Kebun Dinas, dan Laboratorium Hayati Perkebunan melaksanakan kegiatan perbanyakan massal parasitoid Tetrastichus sebagai agen pengendali hayati hama Brontispa longissima pada tanaman kelapa. Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Lapangan Sikka dan Sub Laboratorium Nita, Jumat (16/10/2026), ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan musuh alami hama sebelum dilepaskan pada tanaman kelapa yang terserang di lapangan.
Kegiatan tersebut difokuskan pada proses pemarasitan atau infeksi pupa Brontispa longissima menggunakan parasitoid Tetrastichus, disertai pemberian larutan madu sebagai sumber makanan bagi parasitoid dewasa selama proses pemeliharaan dan perbanyakan di laboratorium.
Selain kegiatan teknis laboratorium, petugas juga melaksanakan pembersihan lingkungan kantor dan perawatan tanaman guna menjaga kebersihan, kenyamanan, serta kesiapan fasilitas pendukung kegiatan perlindungan tanaman perkebunan.
Perbanyakan Parasitoid sebagai Persiapan Pengendalian Hama di Lapangan
Perbanyakan massal parasitoid Tetrastichus merupakan salah satu tahapan penting dalam pengendalian hama kelapa secara hayati. Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan pupa Brontispa longissima sebagai inang bagi perkembangan parasitoid.
Dalam proses tersebut, parasitoid Tetrastichus memarasit pupa Brontispa dengan meletakkan telur pada tubuh inangnya. Telur kemudian berkembang menjadi parasitoid baru, sementara perkembangan hama yang menjadi inang terhambat.
Untuk menunjang keberlangsungan proses perbanyakan, petugas memberikan larutan madu sebagai sumber energi bagi parasitoid dewasa. Pemeliharaan dilakukan di laboratorium agar proses perkembangan dan perbanyakan parasitoid dapat berlangsung secara terkendali.
Hasil perbanyakan massal ini nantinya disiapkan untuk dilepaskan pada tanaman kelapa yang mengalami serangan hama Brontispa longissima. Parasitoid yang dilepaskan diharapkan dapat mencari dan memarasit inang di lingkungan pertanaman kelapa sehingga membantu menekan perkembangan populasi hama secara alami.
Pendekatan tersebut sejalan dengan praktik pengendalian hayati yang dikembangkan Kementerian Pertanian, yakni memperbanyak parasitoid di laboratorium sebelum memanfaatkannya untuk mengendalikan hama pada tanaman kelapa di lapangan.
Melindungi Tanaman Kelapa melalui Pengendalian Ramah Lingkungan
Brontispa longissima merupakan salah satu organisme pengganggu tumbuhan yang menyerang tanaman kelapa, terutama pada bagian daun muda atau janur yang belum membuka sempurna.
Serangan hama ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan daun, perubahan warna menjadi kecokelatan hingga mengering, serta mengganggu pertumbuhan tanaman. Pada tingkat serangan berat, kerusakan dapat berdampak terhadap perkembangan dan produktivitas tanaman kelapa.
Pemanfaatan parasitoid Tetrastichus menjadi salah satu alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan karena mengandalkan musuh alami untuk menekan populasi hama sasaran.
Melalui perbanyakan massal di laboratorium, ketersediaan agen pengendali hayati diharapkan dapat ditingkatkan sehingga mendukung kebutuhan pengendalian hama di wilayah pertanaman kelapa yang membutuhkan penanganan.
Upaya ini sekaligus memperkuat penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang mengutamakan pemanfaatan berbagai metode pengendalian secara tepat dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem pertanian.
Bagi petani, pengendalian hayati yang diterapkan secara efektif berpotensi membantu mengurangi risiko kerusakan tanaman, menjaga pertumbuhan kelapa, serta mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Kegiatan serupa juga telah menjadi bagian dari upaya perlindungan tanaman kelapa di NTT. Pada Juni 2026, Sub Laboratorium Hayati Ende melaksanakan perbanyakan parasitoid Tetrastichus sebagai tindak lanjut temuan serangan Brontispa longissima pada anakan kelapa di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.
Melalui penguatan kegiatan laboratorium hayati di Sikka dan Nita, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendukung pengembangan teknologi perlindungan tanaman yang lebih berkelanjutan.
Pengembangan agen pengendali hayati ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan pelayanan teknis perkebunan, mendukung perlindungan komoditas kelapa lokal, dan memberikan manfaat bagi petani dalam menjaga keberlanjutan usaha perkebunan di Nusa Tenggara Timur.
