Dari Jagung hingga Jambu Mete, CPNS Dinas Pertanian NTT Belajar Langsung di Lapangan

KUPANG, 30 Oktober 2026 – Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan kegiatan belajar lapangan pada tiga subsektor pertanian, yakni tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini berlangsung di Demplot Ke-2 Gelar Teknologi Jagung Hibrida Oepura, Balai Benih Induk (BBI) Tarus, serta lokasi pengembangan benih jambu mete di Tilong.
Melalui pembelajaran langsung di lahan pertanian dan lokasi pembibitan, para CPNS memperoleh pengalaman praktis mengenai teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, hingga pengamatan kondisi kesehatan bibit. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas aparatur agar memiliki pemahaman teknis yang dapat menunjang pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat, khususnya petani di NTT.
Praktik Pemeliharaan Jagung Hibrida dan Bawang Merah
Pada subsektor tanaman pangan, kegiatan dilaksanakan di Demplot Ke-2 Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida yang berlokasi di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.
Para CPNS terlibat langsung dalam pemeliharaan tanaman jagung melalui pengairan, penyiangan gulma, serta penyemprotan pupuk daun. Pengairan dilakukan untuk menjaga ketersediaan air dan kelembapan tanah yang diperlukan tanaman selama masa pertumbuhan.
Sementara itu, penyiangan dilakukan dengan membersihkan rumput liar atau gulma di sekitar tanaman jagung. Langkah ini penting untuk mengurangi persaingan dalam memperoleh unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh.
Kegiatan dilanjutkan dengan praktik penyemprotan pupuk daun secara merata sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman. Melalui tahapan tersebut, para CPNS mempelajari pentingnya pemeliharaan yang tepat dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan jagung secara optimal.
Pembelajaran kemudian mencakup subsektor hortikultura melalui kegiatan budidaya bawang merah di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Kabupaten Kupang.
Di lokasi ini, para CPNS melakukan pengamatan pertumbuhan bawang merah sekaligus mempraktikkan identifikasi dan pengendalian gulma pada lahan demplot. Kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lahan, mengenali kondisi pertanaman, serta melakukan pemeliharaan sesuai kebutuhan tanaman.
Melalui pengalaman langsung ini, para CPNS diharapkan semakin memahami penerapan teknik budidaya bawang merah yang efektif sebagai salah satu komoditas hortikultura penting dalam mendukung penyediaan pangan daerah.
Pelajari Pembibitan dan Pengawasan Mutu Jambu Mete di Tilong
Pada subsektor perkebunan, kegiatan belajar lapangan dilaksanakan di lokasi pengembangan benih jambu mete di Tilong bersama staf Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT.
Kegiatan difokuskan pada pembelajaran teknik pembibitan dan pemeliharaan jambu mete, mulai dari penyiraman, pembersihan lingkungan pembibitan, pencabutan gulma, hingga pengamatan pertumbuhan dan kondisi kesehatan bibit.
Di lokasi tersebut, jumlah bibit jambu mete yang dikembangkan dilaporkan mencapai 24.000 anakan. Bibit yang diamati oleh para CPNS berumur sekitar dua bulan, dengan tinggi kurang lebih 5 sentimeter dan memiliki 4–5 helai daun.
Selain mempelajari tahapan pemeliharaan, para CPNS juga melakukan pengamatan terhadap bibit yang menunjukkan gejala bercak pada daun. Bibit yang terindikasi mengalami gangguan dipisahkan dari bibit sehat sebagai langkah penanganan awal dan bagian dari upaya menjaga kondisi pembibitan.
Pengamatan tersebut menjadi pembelajaran penting mengenai perlunya deteksi dini gangguan tanaman serta pengawasan kesehatan bibit sebelum memasuki tahapan pengembangan selanjutnya.
Ketersediaan bibit jambu mete yang sehat dan bermutu merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pengembangan perkebunan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap teknik pembibitan dan pemeliharaan sejak tahap awal perlu terus diperkuat.
Perkuat Kompetensi Aparatur untuk Mendukung Pertanian NTT
Kegiatan belajar lapangan pada tiga subsektor ini menjadi sarana bagi CPNS Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT untuk menghubungkan pengetahuan teknis dengan kondisi nyata di lapangan.
Tidak hanya memahami kegiatan pertanian dari sisi administrasi dan perencanaan, para CPNS juga memperoleh pengalaman dalam menghadapi berbagai kebutuhan pemeliharaan tanaman, pengelolaan lahan, serta pengawasan kualitas bibit.
Pembelajaran lintas subsektor ini sekaligus memperkuat pemahaman bahwa pengembangan pertanian membutuhkan keterpaduan antara teknologi budidaya, ketersediaan benih bermutu, pengelolaan sumber daya, dan sumber daya manusia yang kompeten.
Melalui keterlibatan aktif aparatur muda dalam kegiatan teknis pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang mampu mendukung pelayanan pertanian secara lebih responsif dan berbasis kebutuhan lapangan.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan komoditas unggulan lokal, serta pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan Nusa Tenggara Timur secara berkelanjutan.
