Dinas Pertanian NTT Dukung Kesiapsiagaan Krisis Pangan di TTS, 4.000 Keluarga Jadi Sasaran Bantuan

TIMOR TENGAH SELATAN – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) turut mengambil bagian dalam kegiatan Gladi Kesiapsiagaan Krisis Pangan Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Aula Kantor Desa Kiufatu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (2/11/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi krisis pangan, sekaligus meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan bagi masyarakat yang berada di wilayah rentan rawan pangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT hadir bersama jajaran, termasuk Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan serta unsur Seksi Ketersediaan dan Distribusi Pangan. Kehadiran tersebut merupakan bentuk dukungan Pemerintah Provinsi NTT terhadap penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak dalam penanganan kerawanan pangan.
Kegiatan ini juga melibatkan jajaran Bapanas, perwakilan kementerian dan lembaga terkait, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, serta PT Pos Indonesia sebagai mitra pengangkutan dan distribusi bantuan pangan.
Pelaksanaan gladi kesiapsiagaan disertai penyerahan bantuan pangan secara simbolis kepada masyarakat. Sejumlah warga penerima manfaat mengikuti kegiatan di aula kantor desa dan menerima paket bantuan yang disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Bantuan Pangan Menyasar 4.000 Keluarga di 13 Desa
Program Aksi Kesiapsiagaan Krisis Pangan Tahun 2026 di Kabupaten Timor Tengah Selatan menyasar 4.000 keluarga penerima manfaat yang tersebar di 13 desa pada wilayah Kecamatan Amanuban Selatan dan Kecamatan Kualin.
Sasaran penerima merupakan keluarga dengan tingkat kesejahteraan desil 1 dan 2, yaitu kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
Penyaluran bantuan dijadwalkan berlangsung pada 2–4 November 2026, dengan kegiatan penyerahan secara simbolis dilaksanakan di Desa Kiufatu pada hari pertama.
Paket bantuan pangan yang disiapkan terdiri atas jagung bose sebanyak dua bungkus masing-masing 500 gram, kacang hijau, telur ayam ras sebanyak 20 butir, minyak goreng kemasan satu liter, serta susu bubuk sebanyak 10 saset.
Komoditas tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, sekaligus mengurangi beban pengeluaran pangan masyarakat penerima manfaat.
Kehadiran jagung bose dalam paket bantuan juga menunjukkan perhatian terhadap pemanfaatan pangan yang dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat NTT. Penguatan akses terhadap pangan yang beragam menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga, khususnya di wilayah yang menghadapi kerentanan pangan.
Perkuat Koordinasi dan Kesiapan Menghadapi Risiko Krisis Pangan
Gladi kesiapsiagaan krisis pangan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat koordinasi, pemahaman, dan kesiapan berbagai pihak dalam mengantisipasi potensi gangguan terhadap ketersediaan maupun akses pangan masyarakat.
Melalui keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan mitra distribusi, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat mekanisme penanganan kerawanan pangan secara terencana dan tepat sasaran.
Bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, kegiatan ini sejalan dengan upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan ketersediaan dan distribusi pangan, memperkuat pemanfaatan sumber pangan daerah, serta memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap kebutuhan pangan.
Penguatan sistem distribusi menjadi penting mengingat kondisi geografis NTT yang memerlukan koordinasi dan dukungan logistik antardaerah agar pangan dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata.
Melalui Aksi Kesiapsiagaan Krisis Pangan Tahun 2026, kolaborasi antara Bapanas, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan semakin memperkuat langkah pencegahan kerawanan pangan serta membangun sistem ketahanan pangan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
