Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Edukasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Songkol, Olahan Singkong Warisan Nenek Moyang Manggarai Barat NTT

November 5, 2026November 5, 2026 Artikel
Dibuat dari tepung singkong kering dan dimasak dalam bambu, songkol menyajikan rasa manis gurih yang khas dari Manggarai Barat, NTT

Singkong termasuk pangan yang biasa ditanam masyarakat Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanaman ini bisa diolah menjadi makanan yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang.

Salah seorang warga, Agustinus Obat (60) dari Desa Wae Lolos, Kecamatan Sanonggoang mengatakan, salah satu olahan singkong yang menjadi makanan tradisional mereka secara turun-temurun songkol.

Songkol, warisan turun-temurun dari singkong di NTT

Perpaduan tepung ubi singkong, kelapa, dan gula merah Songkol terbuat dari tepung ubi singkong kering dan kelapa parut yang dimasak menggunakan satu ruas bambu yang dilubangi tengah bawahnya.

Sejak zaman dulu, songkol bisa dimakan sepanjang tahun karena bahan utamanya yakni ubi singkong yang mudah tumbuh dan bisa ditanam di mana saja.

Agustinus menuturkan, saat memanen ubi singkong, sebagian ubi disisihkan untuk dijemur menjadi gaplek lalu disimpan di atas tungku api yang disebut ca’o yang biasanya ada di dapur-dapur tradisional orang Manggarai.

Saat hendak membuat songkol, gaplek yang telah kering lalu ditumbuk sampai halus menjadi tepung, yang kemudian dijadikan bahan utama.

Secara umum, di Manggarai, bahan-bahan songkol adalah tepung ubi kering, kelapa parut, dan gula merah. Ketiganyakemudian dicampur menjadi satu dan dimasukan ke dalam bambu yang kemudian dimasak di panci tanah liat.

“Masaknya seperti kukus pakai panci dandang. Tapi ini menggunakan panci tanah yang diisi air. Bambu tempat diisinya adonan dipasang di atasnya dengan lubang di bagian tengah bawah bambu. Bagian atasnya ditutup rapat,” terang Agustinus kepada Kompas.com.

Sejak dulu, songkol dimasak menggunakan tungku api. Biasanya proses masaknya membutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam.

Setelah matang, makanan dari singkong ini kemudian dikeluarkan dari bambu. Teksturnya menjadi padat dan lengket dengan rasa perpaduan ubi singkong dan kelapa yang manis karena tambahan gula merah.

“Songkol ini dulu sebagai makanan pengganti makanan utama. Biasa dimakan untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam,” lanjutnya.

Di balik legit rasanya dan kemudahan menemukan bahannya, songkol tergolong nyaris dilupakan.

Maka dari itu, ada beberapa gerakan masyarakat di sekitar Desa Wae Lolos yang dilakukan untuk memperkenalkan makanan ini.

Salah seorang warga, Theresia Angelina Kartika Sari (31) menjadikan bale-bale di depan rumahnya sebagai Rumah Belajar untuk memperkenalkan berbagai makanan tradisional dari daerah mereka, termasuk songkol.

Rumahnya berada di jalur yang biasa dilewati wisatawan yang hendak mengunjungi beberapa tempat wisata air terjun di desa tersebut.

Ia menampilkan dan menyuguhkan makanan tradisional ke wisatawan yang lewat dan berkunjung.

Ia berharap makanan tersebut tidak hanya dikonsumsi masyarakat lokal, tapi juga diminati oleh masyarakat luar termasuk wisatawan dari luar negeri.

“Ini salah satu cara untuk melestarikan. Kalau banyak yang datang dan makan ini, maka bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sini dan masyarakat juga semakin rajin menanam ubi,” kata Theresia.

Sumber : Songkol, Olahan Singkong Warisan Nenek Moyang Manggarai Barat NTT

Post navigation

Previous Previous
UPTD PKDLHP NTT Rawat Bibit di Nurseri dan Jual 40 Anakan Kelapa Genjah
NextContinue
Pengendalian Hama Terpadu (PHT): Pengertian, Tujuan, Prinsip, dan Penerapannya
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Edukasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search