OPLA Non Rawa 2025 Tingkatkan Indeks Pertanaman Padi di Kabupaten Sumba Barat Daya

Sumba Barat Daya – Pelaksanaan kegiatan Optimasi Lahan atau OPLA Non Rawa Tahun 2025 memberikan dampak positif terhadap peningkatan indeks pertanaman padi di Kabupaten Sumba Barat Daya. Dukungan pemerintah melalui pembangunan dan peningkatan infrastruktur irigasi membuat lahan pertanian yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun mulai dimanfaatkan hingga dua kali musim tanam.
Dampak tersebut terlihat pada lokasi OPLA di Poktan Tara Manu, Desa Karuni, Kecamatan Loura. Infrastruktur irigasi sepanjang 135 meter yang dibangun pada tahun 2025 telah mendukung pengairan lahan pertanian milik anggota Poktan.
Poktan Tara Manu memiliki 18 orang anggota. Keberadaan infrastruktur irigasi tersebut membantu petani meningkatkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200 atau dari satu kali menjadi dua kali musim tanam dalam setahun.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan bahwa kegiatan OPLA memberikan perubahan positif bagi petani, terutama dalam meningkatkan pemanfaatan lahan dan intensitas penanaman padi.
Peningkatan indeks pertanaman diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi, produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan petani. Ketersediaan air yang lebih baik memungkinkan petani mengelola lahan secara lebih optimal dibandingkan kondisi sebelum pembangunan infrastruktur irigasi.
Meskipun demikian, kegiatan pertanian di lokasi tersebut masih menghadapi gangguan hama tikus. Pemerintah daerah bersama koordinator penyuluh, penyuluh pertanian lapangan, Kabid PSP2HP Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Poktan akan melakukan langkah mitigasi serta pengendalian hama secara terpadu.
Pengendalian hama diperlukan agar peningkatan indeks pertanaman dapat diikuti dengan peningkatan hasil panen. Pendampingan penyuluh juga menjadi bagian penting dalam membantu petani menerapkan teknik budidaya dan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara tepat.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Balai Wilayah Sungai dan pemerintah kabupaten akan terus mendorong pelaksanaan kegiatan pertanian seperti OPLA, Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier atau RJIT, dan Irigasi Perpompaan atau IRPOM.
Sinergi berbagai pihak tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan air pada lahan pertanian, memperluas areal tanam, serta mendukung peningkatan produksi pangan di Kabupaten Sumba Barat Daya.
OPLA Poktan Dewa Doba Mencakup 139 Hektare
Manfaat kegiatan OPLA Non Rawa Tahun 2025 juga dirasakan oleh Poktan Dewa Doba di Desa Tamatana, Kecamatan Wewewa Timur. Poktan tersebut memperoleh dukungan optimasi lahan nonrawa seluas 139 hektare dengan pembangunan infrastruktur irigasi sepanjang 1.142 meter.
Infrastruktur tersebut terbagi dalam enam segmen. Segmen pertama memiliki panjang 380 meter, segmen kedua 216 meter, segmen ketiga 146 meter, segmen keempat 200 meter, sedangkan segmen kelima dan keenam masing-masing sepanjang 100 meter.
Jumlah keseluruhan keenam segmen tersebut mencapai 1.142 meter. Infrastruktur itu digunakan untuk mendukung pengairan lahan pertanian anggota Poktan Dewa Doba.
Sebelum memperoleh bantuan OPLA, indeks pertanaman di wilayah Poktan Dewa Doba masih berada pada IP 100 atau satu kali musim tanam dalam setahun. Setelah tersedianya infrastruktur irigasi, indeks pertanaman meningkat menjadi IP 200 atau dua kali musim tanam.
Poktan Dewa Doba berkomitmen meningkatkan indeks pertanaman hingga mencapai IP 300. Pencapaian target tersebut membutuhkan ketersediaan air yang berkelanjutan, pengelolaan jaringan irigasi yang baik, penggunaan sarana produksi yang tepat, pengendalian hama, dan pendampingan penyuluh secara konsisten.
Perwakilan Poktan Dewa Doba menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di tingkat provinsi dan kabupaten atas dukungan terhadap pelaksanaan OPLA Non Rawa Tahun 2025.
Apresiasi juga disampaikan kepada tim teknis, Balai Penyuluhan Pertanian Wewewa Timur, koordinator penyuluh, penyuluh pertanian lapangan pendamping, dan seluruh penyuluh di Kecamatan Wewewa Timur.
Pendampingan yang diberikan selama proses pekerjaan dinilai membantu pelaksanaan pembangunan infrastruktur irigasi sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Mendukung Peningkatan Produksi Pangan
Kegiatan OPLA tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan fungsi dan produktivitas lahan pertanian. Ketersediaan air yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan luas tanam dan frekuensi penanaman padi.
Peningkatan dari IP 100 menjadi IP 200 menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya hanya ditanami satu kali mulai dapat dimanfaatkan hingga dua kali musim tanam. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produksi padi apabila didukung pengelolaan budidaya, pemeliharaan jaringan irigasi, dan pengendalian hama yang baik.
Peningkatan produksi padi diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil produksi yang semakin baik juga diharapkan membuka peluang lebih besar bagi penyerapan gabah atau beras petani oleh Perum Bulog dan pasar lainnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya, penyuluh, tim teknis, Poktan, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dukungan pemerintah pusat tetap dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan kegiatan optimasi lahan dan pembangunan infrastruktur pertanian. Keberlanjutan program diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi pangan, pendapatan petani, dan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Sumba Barat Daya.
Keberhasilan pelaksanaan OPLA di Poktan Tara Manu dan Poktan Dewa Doba menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, Poktan, dan pemangku kepentingan lainnya. Pemeliharaan infrastruktur, pengaturan distribusi air, pengendalian hama, dan penguatan kelembagaan Poktan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat kegiatan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
