Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem, 7 Provinsi Masuk Status Awas

August 4, 2026August 4, 2026 Artikel
BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem, 7 Provinsi Masuk Status Awas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau yang semakin intens.

Puncak El Nino diperkirakan melampaui kategori kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027, sehingga risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga cuaca panas ekstrem diprediksi meningkat.

Seiring kondisi tersebut, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026. Sejumlah wilayah bahkan masuk kategori “awas”, menandakan potensi dampak yang lebih serius apabila kondisi cuaca kering terus berlangsung.

BMKG: Puncak El Nino Diprediksi Melampaui Kategori Kuat

BMKG menyampaikan hasil pemantauan atmosfer menunjukkan El Nino masih terus menguat. Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026 yang dirilis pada Senin (3/8/2026), indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat sebesar +0,715 (+0,229), sedangkan nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Nino3.4 mencapai +2,45 (+2,19).

Data tersebut mengonfirmasi El Nino sedang berlangsung dengan intensitas kuat. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya memperkuat langkah mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas Indonesia sekaligus mendorong respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan

Berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer, BMKG menetapkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk periode Dasarian I Agustus 2026.

1. Status waspada

Kategori Waspada berlaku di sejumlah kabupaten/kota pada Provinsi Bengkulu, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, serta seluruh wilayah DKI Jakarta, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

2. Status siaga

Kategori Siaga mencakup sejumlah kabupaten/kota di Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.

Status Awas, Tujuh Provinsi Masuk Risiko Tertinggi

BMKG menetapkan tujuh provinsi yang sebagian kabupaten/kotanya berada pada kategori Awas, yaitu:

  1. Jawa Barat.
  2. Jawa Tengah.
  3. DI Yogyakarta.
  4. Jawa Timur.
  5. Bali.
  6. NTB.
  7. NTT.

Wilayah-wilayah tersebut berpotensi mengalami dampak kekeringan meteorologis yang lebih berat sehingga membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Sebagian Besar Indonesia Sudah Memasuki Musim Kemarau

BMKG mencatat hingga Dasarian III Juli 2026 sebanyak 73,8% wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami musim kemarau meliputi Aceh bagian utara, Sumatra Utara bagian selatan, Riau bagian selatan, Sumatra Barat bagian selatan, sebagian Kepulauan Riau, Bengkulu, sebagian Jambi, Sumatra Selatan, sebagian Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Untuk Dasarian I Agustus 2026, curah hujan secara umum diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, berkisar 0-150 mm per dasarian.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua diprediksi hanya menerima curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 mm per dasarian.

Ribuan Titik Alami Hari Tanpa Hujan, Bantul Capai 90 Hari

Selain curah hujan yang terus menurun, BMKG juga mencatat ribuan lokasi mengalami hari tanpa hujan (HTH) dalam durasi panjang.

“Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga Ekstrem panjang. HTH terpanjang selama 90 hari, terjadi di pos hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta,” tulis BMKG.

Data BMKG menunjukkan terdapat:

  • 322 titik mengalami HTH panjang selama 21-30 hari berturut-turut.
  • 1.657 titik mengalami HTH sangat panjang selama 31-60 hari berturut-turut.
  • 306 titik mengalami HTH ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari berturut-turut.

BMKG mengingatkan kondisi iklim saat ini berdampak pada berbagai sektor sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini.

Pada sektor pertanian, pelaku usaha tani diminta menyesuaikan jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Untuk sektor sumber daya air (SDA) dan energi, pengelola perlu menghitung ketersediaan air baku, menentukan volume air bendungan, serta mengantisipasi perubahan produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) agar pasokan energi tetap terjaga.

Pada sisi lain, minimnya curah hujan juga berpotensi menurunkan kualitas udara sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Pemangku kepentingan dan masyarakat luas perlu mewaspadai kondisi ini, sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem,” tulis BMKG.

BMKG juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan sektor kehutanan dan kebencanaan dalam menghadapi ancaman kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.

“Tak kalah penting, pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan wajib meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” tegas BMKG.

Meski membawa sejumlah risiko, BMKG menilai musim kemarau juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku sektor perikanan dan tambak garam untuk mengoptimalkan produksi garam serta memanfaatkan fenomena upwelling guna meningkatkan hasil tangkapan ikan.

Sumber : BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem, 7 Provinsi Masuk Status Awas

Post navigation

Previous Previous
Normalisasi Saluran Sekunder DI Bena Dipercepat, Dukung Persiapan Musim Tanam II di TTS
NextContinue
UPTD Proteksi TPHP Gelar Gerdal OPT Berbasis PGPR di Lahan KWT Melati Oeltua
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search