Peningkatan Produksi Jagung NTT Didorong dari BBI Tarus, Gubernur Tekankan Kesejahteraan Petani

Kupang, 14 Agustus 2026 – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus memperkuat upaya peningkatan produksi jagung NTT melalui penerapan teknologi budidaya, penggunaan benih unggul dan pembangunan kemitraan dari hulu hingga hilir.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan Bawang Merah Provinsi NTT Tahun 2026 yang berlangsung di Balai Benih Induk Tarus, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Jumat, 14 Agustus 2026.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa pengembangan jagung tidak boleh berhenti pada peningkatan volume panen. Pertumbuhan produksi harus memberi dampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.
Jagung memiliki posisi penting bagi masyarakat NTT. Komoditas ini menjadi sumber pangan, bahan baku pakan, sumber pendapatan petani, sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.
Karena itu, peningkatan produktivitas harus terhubung dengan kepastian pasar, pembiayaan, teknologi, ketersediaan sarana produksi, pengolahan hasil dan kemitraan usaha.
Produksi Jagung NTT Tumbuh, Produktivitas Masih Perlu Ditingkatkan
Data Badan Pusat Statistik Provinsi NTT menunjukkan perkembangan positif produksi jagung. Luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 114,52 ribu hektare, naik 5,24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 108,82 ribu hektare.
Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 mencapai 305,34 ribu ton. Produksi tersebut meningkat 12,28 ribu ton atau 4,19 persen dibandingkan produksi tahun 2024 sebesar 293,05 ribu ton.
Namun, peningkatan luas panen dan produksi belum menjadi alasan untuk berhenti melakukan perbaikan. Materi resmi kegiatan mencatat produktivitas jagung NTT masih berada di kisaran sekitar 2,5 hingga 2,6 ton per hektare. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang peningkatan produktivitas melalui benih unggul, pemupukan tepat, pengelolaan air, mekanisasi dan penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan karakter lahan NTT.
Gebyar Gelar Teknologi di BBI Tarus karena itu tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial. Demplot menjadi ruang untuk melihat langsung daya adaptasi varietas, teknologi pemupukan dan praktik budidaya yang dapat dikembangkan lebih luas kepada petani.
Teknologi Harus Berujung pada Pendapatan Petani
Gubernur NTT menekankan satu arah penting dalam pembangunan pertanian. Produksi yang meningkat harus diikuti peningkatan nilai ekonomi yang diterima petani.
Arah tersebut relevan dengan kondisi kesejahteraan petani. BPS NTT mencatat Nilai Tukar Petani NTT pada Juni 2026 sebesar 100,02. Angka itu meningkat 0,15 persen dibandingkan Mei 2026. Namun, NTP subsektor tanaman pangan pada periode yang sama justru turun 0,23 persen.
Data tersebut memperkuat pentingnya pendekatan pembangunan jagung yang tidak hanya mengejar jumlah produksi. Produktivitas, biaya produksi, harga jual, kepastian pembeli dan nilai tambah harus dikelola dalam satu ekosistem.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT mendorong keterlibatan pemerintah pusat dan daerah, petani, penyuluh, perguruan tinggi, lembaga riset, perbankan, Perum Bulog, produsen benih, pelaku usaha serta berbagai mitra pembangunan.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dari Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung atau GEMA AGUNG NTT yang telah memiliki dasar kebijakan melalui Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 68 Tahun 2025 tentang Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung Nusa Tenggara Timur Tahun 2025-2029.
Dokumen sambutan Gubernur juga menempatkan GEMA AGUNG sebagai model kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas petani, lembaga keagamaan, perbankan, produsen benih, offtaker, koperasi dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem agribisnis jagung yang kuat dan berkelanjutan.
NTT Harus Menjadi Produsen Benih Jagung
Penguatan sektor perbenihan menjadi salah satu pesan penting dalam Gebyar Gelar Teknologi 2026.
Gubernur mendorong perusahaan benih yang berinvestasi dan memasarkan produknya di NTT agar tidak hanya menjadikan daerah ini sebagai pasar. Kemitraan perlu diperluas menuju pengembangan penangkar dan industri benih di NTT.
Pemerintah Provinsi NTT membuka ruang kolaborasi untuk pengembangan penangkaran benih jagung hibrida melalui pendampingan, penguatan kelembagaan dan dukungan kebijakan. Dengan lahan serta karakter agroklimat yang dimiliki, NTT mempunyai peluang untuk berkembang sebagai salah satu basis produksi benih jagung di kawasan timur Indonesia.
Langkah tersebut penting karena kemandirian benih akan memperpendek rantai pasok, memperkuat akses petani terhadap benih bermutu dan membuka aktivitas ekonomi baru di daerah.
Pada rangkaian gelar teknologi sebelumnya di BBI Tarus, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT juga telah menggandeng PT Pupuk Indonesia untuk melakukan pengujian sampel tanah. Hasil pengujian menjadi dasar penyusunan rekomendasi pemupukan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lahan.
Dari Produksi Menuju Pasar dan Hilirisasi
Peningkatan produksi jagung NTT harus bergerak sampai ke sisi hilir.
Petani membutuhkan pasar yang jelas. Pelaku usaha membutuhkan bahan baku dengan mutu dan volume yang konsisten. Lembaga pembiayaan dibutuhkan untuk mendukung modal usaha. Penyuluh dan perguruan tinggi dibutuhkan untuk memperkuat teknologi dan kapasitas petani.
Ekosistem tersebut menjadi penting agar peningkatan produksi menciptakan nilai tambah di NTT.
Arah itu juga konsisten dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTT yang mendorong transformasi pertanian dari produksi primer menuju pengolahan, pemasaran dan kemitraan. Dalam berbagai agenda pertanian sepanjang 2026, pemerintah daerah juga mendorong keterhubungan hasil pertanian dengan pasar lokal serta program pemerintah agar manfaat ekonomi dapat kembali kepada petani.
Bawang Merah TSS Ikut Diperkenalkan
Selain jagung hibrida, Gebyar Gelar Teknologi 2026 juga menampilkan pengembangan bawang merah menggunakan teknologi True Shallot Seed atau TSS.
TSS menggunakan biji sebagai bahan tanam, berbeda dengan sistem konvensional yang menggunakan umbi. Teknologi ini diuji sebagai salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi, khususnya biaya penyediaan benih bawang merah yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya besar bagi petani.
Kehadiran jagung hibrida dan bawang merah TSS sekaligus memperkuat fungsi BBI Tarus sebagai ruang pembelajaran teknologi pertanian bagi petani, penyuluh, pemerintah, perguruan tinggi dan dunia usaha.
Jagung untuk Masa Depan Keluarga Petani NTT
Gubernur NTT menegaskan bahwa masa depan pertanian daerah membutuhkan kerja bersama.
Petani harus mendapatkan teknologi yang dapat digunakan. Penyuluh harus hadir mendampingi. Produsen benih perlu membangun kemitraan jangka panjang. Perbankan harus membuka akses pembiayaan yang sehat. Pemerintah perlu memastikan kebijakan, sarana produksi, pasar dan hilirisasi berjalan dalam satu arah.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan jagung lebih banyak.
Tujuannya adalah membuat usaha tani semakin produktif, biaya produksi semakin efisien, pasar semakin pasti dan pendapatan keluarga petani semakin baik.
Dari ladang NTT, kita bangun pangan. Dari pangan, kita gerakkan ekonomi. Dari ekonomi, kita tingkatkan kesejahteraan petani.
Ayo Bangun NTT.
