Kelor Sebagai Penopang: Di Halaman Rumah Ada Gizi dan Peluang Ekonomi

Tanaman kelor (Moringa oleifera) yang tumbuh hampir di seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki potensi besar untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni memperkuat ketahanan pangan bergizi sekaligus menjadi penopang ekonomi masyarakat.
Tanaman yang dikenal mudah tumbuh dan selama ini dimanfaatkan masyarakat sebagai sayuran maupun pengobatan tradisional itu, apabila dikembangkan melalui budidaya, pengolahan dan pemasaran secara terintegrasi, berpeluang menjadi sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan. Kondisi itu terlihat di Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS.
Di tengah berbagai keterbatasan, tanaman kelor mudah ditemukan di halaman rumah warga Desa Nifukani dan menjadi salah satu sayuran yang dikonsumsi sehari-hari.

Warga RT 11/RW 05, Desa Nifukani, Oktovianus Saetban, mengatakan dirinya telah mengenal kelor sejak kecil karena tanaman tersebut sudah tumbuh di sekitar rumah dan biasa dimanfaatkan keluarganya sebagai sayuran maupun pengobatan tradisional.
“Kotong tau ini marungga (kelor) dari kotong lahir dia (kelor) sudah ada. Biasanya kotong ambil dia punya daun untuk buat sayur. Pake obat ju bisa, kalau anak mea (bayi) sakit demam dan kalau mea dia punya badan bintik-bintik, itu bisa ame dia punya daun, masak campur deng daun asam untuk kasih mandi,” ujarnya saat ditemui, Rabu (15/7/2026).
Menurut Oktovianus, masyarakat sebenarnya memiliki keinginan untuk mengembangkan kelor secara lebih serius. Namun, keterbatasan pengetahuan mengenai budidaya dan pengolahan serta belum jelasnya akses pasar menjadi kendala.
“Kotong ini mau untuk kembangkan biar jadi satu kebun, tapi kotong masih terbatas soal ilmu dan sebentar mau jual di mana. Karena sonde mungkin kotong bawa dia punya daun pi pasar,” ucapnya.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah program Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026 yang didukung CIMB Niaga mendorong penanaman kelor di wilayah tersebut. Sebanyak 400 anakan kelor disiapkan untuk ditanam di lahan warga.
Oktovianus kemudian menggerakkan warga RT 11/RW 05 Desa Nifukani untuk menangkap peluang tersebut. Warga mulai membersihkan lahan pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Setelah lahan dibersihkan, warga menggali sebanyak 400 lubang tanam dengan ukuran yang telah dipersiapkan untuk penanaman anakan kelor.
Tidak berhenti pada persiapan lahan, Oktovianus bersama warga juga mengangkut pupuk organik berupa kotoran sapi dan babi yang telah dikeringkan untuk dimasukkan ke dalam lubang sebagai bagian dari persiapan penanaman.
Sebanyak 400 anakan kelor yang telah dipersiapkan kemudian ditanam di lahan tersebut.
Oktovianus menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan sekaligus berharap pendampingan tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut hingga tahap pengolahan dan pemasaran.
“Terima kasih sudah membantu kami, kami minta untuk tetap bantu kami ke pasar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr. R.A. Karolina Tahun, mengatakan kelor merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak tumbuh di wilayah TTS dan memiliki kandungan gizi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurut Karolina, hampir seluruh bagian tanaman kelor dapat dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, tetapi daun merupakan bagian yang paling banyak digunakan.
“Tanaman kelor atau Moringa oleifera adalah salah satu tanaman herbal yang banyak tumbuh di wilayah beriklim tropis, termasuk di TTS. Hampir semua bagian dari tanaman ini bisa diolah menjadi obat herbal. Namun, bagian tanaman kelor yang paling sering digunakan dalam pengobatan tradisional adalah daunnya,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Ia menjelaskan, daun kelor selama ini dikenal masyarakat, antara lain, sebagai bahan pangan bagi ibu menyusui karena dipercaya membantu melancarkan ASI. Namun, manfaat daun kelor tidak hanya terbatas pada kebutuhan tersebut.
“Manfaat dari daun kelor sebenarnya lebih dari itu. Berkat berbagai nutrisi yang terkandung di dalamnya, daun kelor juga memiliki khasiat untuk memelihara kesehatan tubuh karena mengandung protein nabati yang cukup tinggi,” katanya menjelaskan.
Karolina mengatakan daun kelor mengandung berbagai vitamin, mineral dan senyawa aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan tersebut membuat kelor potensial dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan bergizi masyarakat
Ia menyebut, dari sisi gizi, daun kelor mengandung vitamin A, C dan E, protein, kalsium, zat besi serta antioksidan. Kandungan tersebut dapat mendukung daya tahan tubuh, membantu pemenuhan zat gizi dan mendukung kesehatan tubuh.
Berdasarkan data kandungan gizi yang disampaikannya, setiap 100 gram daun kelor mengandung sekitar 65 kilokalori, 12 gram karbohidrat, 9 gram protein, 5 gram serat, 200 miligram kalsium, 110 miligram fosfor, 4 miligram zat besi dan 300 miligram kalium.
Selain itu, daun kelor juga memiliki sejumlah manfaat yang selama ini dimanfaatkan dalam pengobatan dan pangan tradisional, antara lain membantu produksi ASI, mendukung pengendalian gula darah, menjaga kesehatan jantung, meningkatkan imunitas, membantu mencegah anemia dan mendukung kesehatan mata karena kandungan beta karoten serta vitamin A.
Bukan Pengganti Protein Hewani
Meski memiliki kandungan gizi yang tinggi, Karolina menegaskan kelor tidak boleh diposisikan sebagai satu-satunya sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi, khususnya bagi balita.
Menurutnya, pengolahan daun kelor perlu dikombinasikan dengan bahan pangan lain, terutama sumber protein hewani, agar kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terpenuhi secara lebih optimal.
“Daun kelor merupakan bahan makanan yang dapat digunakan untuk pemenuhan gizi balita. Namun, pengolahannya harus dilakukan dengan benar dan perlu divariasikan dengan sumber protein hewani yang lebih dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama dalam upaya pencegahan stunting,” ucap Karolina.
Ia mengatakan, tenaga kesehatan di lapangan terus melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat agar menanam serta memanfaatkan kelor sebagai salah satu sumber bahan pangan bergizi.
Namun, Dinas Kesehatan TTS saat ini tidak memiliki intervensi khusus yang menjadikan daun kelor sebagai makanan utama.
“Saat ini tidak ada intervensi secara khusus untuk mengutamakan daun kelor sebagai makanan utama karena perlu divariasikan dengan bahan makanan lain untuk pemenuhan gizi,” katanya.
Karolina menambahkan, edukasi mengenai cara mengolah kelor juga dilakukan melalui kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan di posyandu.
Ia mengingatkan agar daun kelor tidak dimasak terlalu lama karena proses pemanasan berlebihan dapat mengurangi kandungan vitamin dan nutrisi tertentu.
“Daun kelor sebaiknya dimasak sebentar saja, sekitar satu sampai dua menit dalam air mendidih setelah bumbu matang. Bahkan, api bisa dimatikan saat memasukkan daunnya agar vitamin dan nutrisi pentingnya tidak banyak rusak,” ujarnya.
Didorong Jadi Menu Beragam
Menurut Karolina, pemanfaatan kelor sebenarnya sudah pernah dikembangkan dalam bentuk produk olahan. Pada 2023, terdapat program Pemerintah Provinsi NTT berupa serbuk kelor hasil produksi UMKM yang dapat digunakan sebagai bahan campuran makanan, seperti kue dan jajanan, maupun dicampurkan ke dalam bubur atau nasi untuk anak balita dan ibu hamil. Selain itu, terdapat pula produk teh daun kelor.
Namun, ia menyebut salah satu kendala utama pemanfaatan kelor di masyarakat adalah keterbatasan inovasi dalam mengolah daun kelor menjadi berbagai jenis menu serta masih kurangnya upaya membudidayakan tanaman tersebut di lingkungan pekarangan rumah.
Karena itu, Dinas Kesehatan TTS terus mendorong edukasi pengolahan daun kelor menjadi berbagai menu dengan mengombinasikannya bersama sumber protein hewani.
Beberapa contoh menu yang dapat dikembangkan antara lain nugget ikan dan daun kelor, bubur jagung daun kelor, sate daging dengan daun kelor, dadar telur daun kelor hingga sayur bening kelor dengan daging.
“Langkah konkret yang telah dibuat oleh Dinas Kesehatan dan akan terus dilakukan adalah edukasi pengolahan daun kelor dalam berbagai bentuk olahan dengan bahan campuran sumber protein hewani, seperti nugget ikan dan daun kelor, bubur jagung daun kelor, sate daging daun kelor, dadar telur daun kelor dan sayur bening kelor dengan daging,” ucap Karolina.
Ia menegaskan, pemanfaatan kelor sebagai pangan bergizi harus ditempatkan sebagai bagian dari pola makan beragam, bukan sebagai pengganti seluruh sumber pangan.
“Catatan penting adalah pengolahan sebaiknya dilakukan bersama dengan bahan makanan lain, terutama sumber protein hewani. Protein hewani sangat diperlukan untuk pencegahan masalah stunting, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sehingga protein nabati dari daun kelor perlu dilengkapi dengan sumber protein hewani,” katanya menegaskan.
Dari Daun Kelor Menjadi Menu Bernilai Jual
Pemanfaatan kelor sebagai pangan bernilai tambah juga mulai terlihat dari berkembangnya produk kuliner berbasis kelor di Kota Kupang.
Salah satunya melalui La Moringa Kupang yang menyajikan puluhan menu dengan sentuhan kelor. Menu yang ditawarkan tidak hanya mengangkat cita rasa tradisional Indonesia, tetapi juga dipadukan dengan konsep makanan internasional.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat La Moringa, yakni “From Indonesia to the World”, dengan menjadikan kelor sebagai salah satu bahan utama dalam berbagai produk makanan dan minuman.
Pilihan menu terbagi dalam sejumlah kategori, mulai dari pastry, All Day Breakfast, olahan daging ayam, daging sapi, gelato hingga waffle. Harga menu pastry sendiri mulai dari sekitar Rp28 ribu.
Tidak hanya makanan, minuman yang disajikan juga mengusung bahan dasar kelor. Pada kategori Moringa Based, tersedia sejumlah pilihan seperti Moricha Tea, Moricha Cafe Latte hingga Moringa Sparkling Macchiato.
Salah satu menu yang menjadi rekomendasi adalah Sei Ori Sambal Talalu dengan harga sekitar Rp98 ribu. Menu tersebut memadukan nasi kelor berwarna hijau dengan irisan sei sapi, mi goreng, tumis bunga dan daun pepaya serta kremesan.
Sambal talalu menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam sajian tersebut. Sambal berwarna merah-oranye itu disajikan dalam mangkuk kayu kecil dan memberikan cita rasa pedas yang melengkapi gurihnya nasi kelor dan sei sapi.
Nasi kelor yang digunakan memiliki cita rasa gurih dengan aroma yang mengingatkan pada nasi uduk karena penggunaan santan. Teksturnya tidak terlalu pulen, tetapi tetap empuk dan mudah dikunyah.
Sementara itu, sei sapi disajikan dengan irisan yang cukup tebal. Bagian luarnya berwarna merah tua dan sedikit garing, sedangkan bagian dalamnya lebih lembut dan juicy. Aroma asap yang kuat menjadi karakter tersendiri dari olahan daging tersebut.
Kehadiran menu-menu tersebut menunjukkan bahwa kelor tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran rumahan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bahan baku produk kuliner dengan nilai jual lebih tinggi.
Seorang karyawan La Moringa Kupang yang ditemui Korantimor.com beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa kebutuhan daun kelor untuk aktivitas usaha tersebut mencapai sekitar 10 kilogram per hari.
“Di sini setiap hari hanya 10 kilogram daun kelor yang masuk, dan yang banyak itu kasih masuk ke pabrik,” ujarnya.
Sumber : Kelor Sebagai Penopang: Di Halaman Rumah Ada Gizi dan Peluang Ekonomi – Koran Timor
