Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Bawang Merah TSS di BBI Tarus Tunjukkan Potensi Hasil 37,6 Ton per Hektare

August 26, 2026August 26, 2026 Artikel

Kupang – Pengembangan bawang merah menggunakan teknologi True Shallot Seed (TSS) pada kegiatan Gelar Teknologi di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan oleh penyuluh pada 19 Agustus 2026, potensi hasil panen bawang merah tanpa daun pada areal seluas 6 are atau 600 meter persegi mencapai 2.256 kilogram atau 2,256 ton.

Jika dikonversikan ke satu hektare, potensi produktivitas tersebut mencapai 37,6 ton per hektare.

Hasil ini menjadi salah satu indikator penting dari rangkaian penerapan teknologi bawang merah TSS di BBI Tarus, mulai dari penggunaan benih, penyediaan sarana produksi, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen dan penanganan pascapanen.

Potensi Umbi Kering Simpan Mencapai 28,20 Ton per Hektare

Bobot bawang merah pada saat baru dipanen tidak sepenuhnya menjadi bobot akhir setelah melalui proses pengeringan dan penyimpanan. Air yang masih terkandung di dalam umbi dan bagian tanaman lainnya akan berkurang selama proses pelayuan dan pengeringan.

Dengan menggunakan asumsi susut bobot sebesar 25 persen, dari hasil segar 2.256 kg pada areal 6 are diperkirakan terjadi penurunan bobot sekitar 564 kg.

Dengan demikian, potensi hasil setelah pengeringan menjadi sekitar:

  • Umbi segar tanpa daun: 2.256 kg per 6 are
  • Potensi produktivitas segar: 37,6 ton/ha
  • Asumsi susut bobot: 25 persen
  • Estimasi susut bobot: 564 kg
  • Estimasi umbi kering simpan: 1.692 kg per 6 are
  • Potensi umbi kering simpan: 28,20 ton/ha

Angka tersebut merupakan potensi berdasarkan hasil ubinan, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai angka produksi final seluruh areal. Produktivitas aktual akan diketahui setelah keseluruhan tanaman dipanen, ditimbang dan melalui proses pascapanen.

TSS Menjadi Alternatif Teknologi Perbenihan Bawang Merah

True Shallot Seed atau TSS merupakan teknologi budidaya bawang merah yang menggunakan biji botani sebagai sumber benih, berbeda dengan pola konvensional yang umumnya menggunakan umbi sebagai bahan tanam.

Kementerian Pertanian menyebut penggunaan TSS memiliki beberapa keunggulan, antara lain kebutuhan volume benih yang lebih kecil, penyimpanan dan distribusi benih yang lebih mudah, serta peluang memperoleh bahan tanam yang lebih sehat. TSS juga dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan benih umbi bawang merah.

Pengembangan bawang merah TSS di BBI Tarus merupakan bagian dari Gelar Teknologi yang dimulai dengan penanaman perdana jagung hibrida dan bawang merah TSS pada 2 Mei 2026. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah, produsen benih, penyedia sarana produksi, penyuluh, perguruan tinggi, petani dan mitra pertanian.

Benih dan Saprodi Menjadi Fondasi Budidaya

Keberhasilan budidaya bawang merah TSS dimulai dari penggunaan benih yang baik dan sarana produksi pertanian atau saprodi yang tepat.

Karena menggunakan biji, TSS membutuhkan pengelolaan persemaian sebelum bibit dipindahkan ke lahan. Teknik persemaian menjadi salah satu tahapan penting karena kualitas bibit akan memengaruhi kemampuan tanaman beradaptasi setelah pindah tanam.

Rujukan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa budidaya TSS dapat dilakukan melalui beberapa metode, termasuk penanaman langsung, penyemaian untuk menghasilkan bibit sebelum pindah tanam, maupun produksi umbi mini.

Selain benih bermutu, sarana produksi perlu disiapkan secara terpadu, meliputi pupuk organik dan anorganik, sarana pengairan, alat budidaya serta sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Penggunaan pupuk dan sarana produksi harus dilakukan secara efektif dan sesuai dengan kondisi lahan serta kebutuhan tanaman. Pendekatan tersebut penting karena peningkatan produksi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya input, tetapi oleh ketepatan penggunaan input.

Persiapan Lahan untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman

Sebelum penanaman dilakukan, lahan perlu disiapkan agar memiliki kondisi yang mendukung pertumbuhan akar dan pembentukan umbi.

Pengolahan tanah bertujuan menciptakan struktur tanah yang gembur, memperbaiki aerasi dan membantu pengelolaan air. Kondisi drainase menjadi faktor penting dalam budidaya bawang merah karena tanaman membutuhkan air yang cukup, tetapi tidak menghendaki kondisi tergenang dalam waktu lama.

Persiapan lahan juga mencakup pembuatan bedengan, pemberian bahan organik dan pemupukan dasar sesuai kebutuhan tanaman.

Pada kondisi pertanian NTT yang sebagian besar berhadapan dengan karakter lahan kering dan keterbatasan air, pengelolaan kelembapan tanah menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi budidaya.

Gelar Teknologi di BBI Tarus memang dirancang sebagai ruang pembelajaran lapangan untuk melihat penerapan varietas, teknologi pemupukan serta praktik budidaya yang sesuai dengan karakter lahan Nusa Tenggara Timur.

Penanaman Bibit Bawang Merah TSS

Bibit yang telah melalui proses persemaian kemudian dipindahkan ke lahan yang telah disiapkan.

Pindah tanam perlu dilakukan dengan hati-hati agar akar bibit tidak mengalami kerusakan yang dapat menghambat pertumbuhan awal tanaman.

Pada fase awal setelah penanaman, ketersediaan air menjadi sangat penting agar bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan lapangan.

Populasi tanaman juga perlu diperhatikan. Tanaman yang mati atau tidak berkembang dengan baik dapat segera dievaluasi sehingga pertumbuhan tanaman di dalam petak tetap relatif seragam.

Teknologi TSS memang membutuhkan pengelolaan persemaian yang lebih intensif dibanding penggunaan umbi, namun teknologi ini menawarkan sejumlah keuntungan dari sisi penyediaan dan distribusi benih. Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan TSS sebagai salah satu alternatif teknologi bawang merah.

Pemeliharaan Menjadi Kunci Pembentukan Umbi

Setelah tanaman tumbuh, kegiatan memasuki tahapan pemeliharaan.

Pemeliharaan bawang merah perlu dilakukan secara konsisten melalui pengairan, pemupukan, pengendalian gulma serta pengamatan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman atau OPT.

Pengairan perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kondisi tanah. Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan, sedangkan air yang berlebihan dapat menciptakan kondisi lingkungan yang kurang baik bagi tanaman.

Pemupukan juga perlu dilakukan secara berimbang. Unsur hara dibutuhkan tanaman mulai dari fase pertumbuhan vegetatif sampai proses pembentukan dan pembesaran umbi.

Pada saat yang sama, gulma harus dikendalikan agar tidak menjadi pesaing dalam memperoleh air, unsur hara maupun cahaya.

Pengamatan lapangan secara rutin menjadi penting agar gangguan hama dan penyakit dapat diketahui lebih awal. Pengendalian OPT diarahkan dengan pendekatan pengendalian hama terpadu dan penggunaan pestisida secara bijaksana sesuai rekomendasi.

Dari Penanaman Perdana hingga Menjelang Panen

Perjalanan bawang merah TSS di BBI Tarus merupakan proses yang diamati secara bertahap.

Penanaman perdana jagung hibrida dan bawang merah TSS dilakukan pada 2 Mei 2026 sebagai bagian dari Gelar Teknologi BBI Tarus. Pemerintah Provinsi NTT menggandeng berbagai produsen dan mitra pertanian dalam kegiatan tersebut.

Pemantauan selanjutnya pada Juni 2026 menunjukkan bahwa bawang merah TSS tetap menjadi salah satu komponen penting dalam Gelar Teknologi. BBI Tarus ditempatkan sebagai ruang pembelajaran bersama bagi pemerintah, penyuluh, perguruan tinggi, produsen dan petani untuk melihat perkembangan teknologi langsung di lapangan.

Pada 14 Agustus 2026, pengembangan bawang merah TSS kembali menjadi bagian dari Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan Bawang Merah Provinsi NTT Tahun 2026 di BBI Tarus.

Lima hari kemudian, pada 19 Agustus 2026, penyuluh melakukan ubinan untuk memperoleh gambaran potensi hasil bawang merah TSS.

Hasilnya menunjukkan potensi yang menggembirakan: 2.256 kg umbi tanpa daun dari areal 6 are atau setara 37,6 ton per hektare.

Panen Dilakukan dengan Memperhatikan Kematangan Umbi

Tahap panen merupakan titik penting karena menentukan jumlah sekaligus mutu hasil yang akan memasuki proses pascapanen.

Bawang merah dipanen ketika tanaman telah menunjukkan tingkat kematangan yang sesuai. Pemanenan perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan fisik pada umbi.

Umbi yang terluka saat panen memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan.

Karena itu, hasil panen tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah atau bobot pada saat dicabut dari tanah. Kualitas umbi, kondisi fisik, tingkat kematangan dan kemampuan simpan juga menjadi faktor penting.

Pascapanen Menentukan Mutu dan Bobot Akhir

Setelah dipanen, bawang merah perlu melalui proses pelayuan dan pengeringan.

Tahapan ini diperlukan untuk menurunkan kadar air sehingga umbi memiliki kondisi yang lebih baik untuk disimpan maupun dipasarkan.

Pedoman budidaya bawang merah Kementerian Pertanian menempatkan kegiatan panen dan pascapanen sebagai bagian penting dari keseluruhan proses budidaya.

Pengurangan kadar air selama pengeringan akan menyebabkan bobot bawang merah menurun dibandingkan bobot segar pada saat panen.

Pada hasil ubinan BBI Tarus, dengan asumsi susut bobot 25 persen, potensi hasil umbi kering simpan diperkirakan mencapai 1.692 kg untuk areal 6 are atau sekitar 28,20 ton per hektare.

Perbedaan antara bobot segar dan bobot kering simpan tersebut penting dicatat agar data produktivitas dapat dipahami secara tepat dan tidak menimbulkan perbedaan interpretasi.

Hasil Ubinan Menjadi Bahan Evaluasi Teknologi

Potensi hasil 37,6 ton per hektare merupakan capaian awal yang penting, tetapi nilai utama dari Gelar Teknologi tidak berhenti pada angka produksi.

Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi untuk melihat keterkaitan berbagai komponen teknologi, mulai dari kualitas benih, persemaian, saprodi, kondisi tanah, penanaman, pengairan, pemupukan, pengendalian OPT hingga pengelolaan panen dan pascapanen.

Data hasil ubinan juga dapat menjadi dasar untuk membandingkan hasil aktual dengan teknologi dan pola budidaya lain pada kondisi agroekosistem Nusa Tenggara Timur.

BBI Tarus dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penanaman, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengujian teknologi sebelum praktik yang dinilai efektif didorong lebih luas kepada petani.

Mendorong Hortikultura NTT yang Produktif dan Efisien

Pengembangan bawang merah TSS menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan alternatif teknologi perbenihan dan budidaya hortikultura kepada petani NTT.

Kementerian Pertanian mencatat TSS memiliki keunggulan dari sisi kebutuhan volume benih yang lebih rendah, daya simpan benih yang lebih panjang serta peluang menghasilkan tanaman yang lebih sehat. Namun keberhasilannya tetap membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang baik pada setiap tahap budidaya.

Hasil ubinan di BBI Tarus memperlihatkan bahwa teknologi tidak dapat berdiri sendiri. Benih bermutu perlu didukung persiapan lahan yang baik. Penanaman harus dilanjutkan dengan pemeliharaan yang tepat. Produksi yang tinggi harus diikuti pengelolaan panen dan pascapanen yang mampu menjaga kualitas hasil.

Melalui Gelar Teknologi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur terus mendorong agar inovasi pertanian diuji langsung di lapangan, dipelajari bersama dan dikembangkan berdasarkan hasil nyata.

Dari 2.256 kg hasil ubinan pada areal 6 are, BBI Tarus memberikan satu pembelajaran penting: penerapan teknologi harus diukur dengan data.

Data tersebut menjadi dasar untuk mengevaluasi produktivitas, efisiensi dan kemungkinan pengembangan bawang merah TSS yang lebih luas sesuai potensi dan karakteristik wilayah Nusa Tenggara Timur.

Dari benih bermutu, budidaya yang tepat, hingga penanganan hasil yang baik, pertanian NTT terus bergerak menuju usaha tani yang semakin produktif, efisien dan memberikan nilai tambah bagi petani.

Ayo Bangun NTT.

Post navigation

Previous Previous
Kebijakan Kemanusiaan Gubernur Melki Pastikan Penyandang Disabilitas di Manggarai Terlayani Saat Bencana
NextContinue
Monitoring dan Evaluasi Intervensi Kerawanan Pangan di Kota Kupang
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search