Tindak Lanjuti Dampak Gempa Flores, DistanKP NTT Tinjau Irigasi Rusak di Waekokak Nagekeo

Kupang, 9 September 2026 – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo meninjau area pertanaman padi dan jaringan irigasi di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut atas kunjungan Gubernur NTT ke Kabupaten Nagekeo sekaligus bagian dari upaya penanganan dampak gempa Flores yang turut memengaruhi infrastruktur pertanian di wilayah tersebut.
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi jaringan irigasi yang mengalami patahan dan mengganggu distribusi air menuju lahan pertanian. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pasokan air yang tidak optimal berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman padi dan keberlanjutan usaha tani masyarakat.
Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 tercatat bermagnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG mencatat episenternya berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo. Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-arc Thrust dan menimbulkan dampak di sejumlah wilayah Flores, termasuk Kabupaten Nagekeo.
Kerusakan Irigasi Ganggu Aliran Air ke Sawah
Dari hasil peninjauan lapangan, terlihat adanya bagian jalur irigasi yang patah sehingga aliran air menuju area persawahan tidak dapat berlangsung sebagaimana mestinya. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat mengecek langsung kondisi saluran untuk mendapatkan gambaran mengenai kerusakan dan kebutuhan penanganannya.
Kerusakan jaringan irigasi di Waekokak sebelumnya juga dilaporkan oleh TVRI News sebagai salah satu dampak gempa. Berdasarkan laporan tersebut, kerusakan saluran menyebabkan aliran air menuju lahan pertanian terganggu dan berdampak pada sekitar 160 hektare lahan pertanian. Sejumlah bagian jaringan dilaporkan patah akibat guncangan gempa.
Penanganan terhadap jaringan yang rusak juga telah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II. Dari sisi pertanian, kondisi tersebut tetap perlu dikawal agar pemulihan jaringan air dapat berjalan seiring dengan kebutuhan tanaman dan keberlangsungan produksi petani.
Ketersediaan air menjadi faktor penting bagi pertanaman padi. Gangguan distribusi dalam waktu yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kekurangan air pada lahan, sehingga pemulihan fungsi irigasi menjadi bagian penting dalam menjaga tanaman yang telah dibudidayakan masyarakat.
Perkuat Koordinasi Penanganan Infrastruktur Pertanian
Melalui kunjungan lapangan tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menghimpun kondisi faktual sebagai bahan koordinasi dan tindak lanjut dengan pihak-pihak terkait.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT juga menjalankan fungsi koordinasi dengan Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, dalam menyampaikan kondisi serta kebutuhan sektor pertanian yang ditemukan di lapangan. Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian memiliki tugas dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan bidang lahan dan irigasi pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya lahan dan air untuk mendukung keberlanjutan produksi pertanian.
Koordinasi tersebut penting agar penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur secara fisik, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan produksi pertanian dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada lahan sawah.
BNPB sendiri mencatat Nagekeo sebagai salah satu kabupaten yang terdampak gempa Flores M7,7 dan menjadi bagian dari wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan pascabencana.
Jaga Produksi Pangan dan Keberlanjutan Usaha Tani
Pemulihan jaringan irigasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di Nagekeo. Saluran yang kembali berfungsi dengan baik akan membantu distribusi air menjadi lebih efektif, memberikan kepastian bagi kegiatan budidaya, serta mengurangi risiko gangguan produksi akibat kekurangan air.
Upaya tersebut juga sejalan dengan penguatan sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap berbagai risiko, termasuk bencana alam. Infrastruktur produksi yang baik, didukung koordinasi lintas sektor dan respons lapangan yang cepat, menjadi bagian penting dalam menjaga hasil pertanian lokal dan keberlanjutan ekonomi petani.
Kunjungan ke Waekokak sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah pusat, instansi pengelola sumber daya air, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana.
Dengan penanganan yang terkoordinasi, fungsi jaringan irigasi diharapkan dapat kembali optimal sehingga kebutuhan air pertanaman padi tetap terjaga, aktivitas usaha tani masyarakat dapat berlanjut, dan pemulihan kehidupan masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo dapat berjalan semakin baik.
