Diseminasi Capaian Land4Lives di NTT Perkuat Ketahanan Pangan dan Pertanian Tangguh Iklim

Kupang – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur mengikuti Lokakarya Diseminasi Hasil dan Capaian Land4Lives di NTT yang dilaksanakan oleh ICRAF di Hotel Harper, Kupang, Kamis (17/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat kembali pembelajaran dan hasil pelaksanaan Land4Lives dalam memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan berkelanjutan, serta penghidupan masyarakat yang semakin tangguh menghadapi perubahan iklim.
Land4Lives atau Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia merupakan proyek kerja sama yang didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada dan dilaksanakan oleh ICRAF Indonesia. Program ini dikembangkan di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan dengan perhatian khusus pada masyarakat rentan, termasuk perempuan.
Kementerian PPN/Bappenas mencatat Land4Lives sebagai bagian dari kolaborasi Indonesia dan Kanada untuk memperkuat penghidupan tahan iklim dan ketahanan pangan, sekaligus mendukung praktik pertanian cerdas iklim serta pengelolaan bentang lahan yang lebih baik.
Dari Riset Aksi hingga Pertanian Cerdas Iklim
Di NTT, pelaksanaan Land4Lives berfokus antara lain di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam periode kegiatan di tingkat kabupaten dan desa dari Agustus 2022 hingga Agustus 2026, berbagai pendekatan dikembangkan melalui riset aksi yang menghubungkan kebutuhan masyarakat di tingkat tapak dengan perencanaan dan kebijakan pembangunan.
Kegiatan tersebut mencakup penyusunan kebijakan dan program restorasi hutan serta bentang lahan, pengelolaan daerah aliran sungai untuk adaptasi perubahan iklim, perbaikan penggunaan lahan, serta upaya perlindungan lingkungan untuk mendukung mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Pada tingkat masyarakat, pendekatan dimulai melalui Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA), dilanjutkan dengan pembentukan kelompok usaha dan kelompok belajar hingga pengembangan Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI).
Pendekatan pertanian cerdas iklim menjadi penting bagi NTT yang menghadapi tantangan iklim dan ketersediaan air. Publikasi ICRAF mengenai pelaksanaan Land4Lives di TTS juga mencatat penerapan berbagai praktik seperti penyiapan lahan tanpa bakar, penggunaan pupuk dan pestisida nabati, sistem tumpang sari, kebun belajar agroforestri, serta penguatan kebun pangan rumah tangga.
Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas petani, pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan pangan keluarga, dan pengembangan usaha pertanian.
Pembelajaran Land4Lives Masuk Perencanaan Daerah
Salah satu bagian penting dari pelaksanaan Land4Lives adalah upaya menghubungkan hasil riset dan pengalaman masyarakat dengan perencanaan pembangunan daerah. Hasil dan pembelajaran program telah menjadi bagian dari proses penyusunan Masterplan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP) serta perencanaan pembangunan jangka menengah daerah.
Proses penyusunan Green Growth Plan NTT sebelumnya juga melibatkan pemerintah daerah, ICRAF Indonesia, sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil sehingga pendekatan pembangunan hijau tidak hanya dilihat dari sisi lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan aktivitas ekonomi serta keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Dalam diseminasi pada 17 September 2026, pembelajaran Land4Lives kembali ditekankan sebagai bagian yang perlu dijaga keberlanjutannya melalui sinergi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan desa serta berbagai mitra pembangunan. ANTARA melaporkan bahwa hasil program di NTT mencakup pemberdayaan masyarakat, penerapan pertanian berkelanjutan, penguatan kesetaraan gender, serta integrasi pembelajaran program ke dalam perencanaan daerah.
Memperkuat Pertanian NTT yang Adaptif dan Berkelanjutan
Bagi pembangunan pertanian di NTT, pengalaman Land4Lives memberikan pembelajaran mengenai pentingnya menggabungkan pengetahuan masyarakat, teknologi dan praktik budidaya adaptif, pengelolaan sumber daya alam, serta dukungan kebijakan dalam satu pendekatan yang saling terhubung.
Pertanian cerdas iklim dan pengelolaan bentang lahan yang baik dapat mendukung petani dalam menjaga produktivitas sekaligus menyesuaikan pola usaha tani terhadap perubahan kondisi iklim. Penguatan kelompok usaha juga membuka ruang untuk meningkatkan pengolahan hasil, akses pasar, dan efisiensi rantai pasok sehingga manfaat produksi pertanian dapat semakin dirasakan masyarakat.
Ke depan, keberlanjutan pembelajaran dan praktik baik yang telah dikembangkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, mitra pembangunan hingga masyarakat. Sinergi tersebut penting untuk memperkuat hasil pertanian lokal, meningkatkan ketahanan pangan, serta membangun sistem pertanian NTT yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan.
