Dari Kebun Sayur ke Usaha Bersama: KDD Popo Membangun Kemandirian Ekonomi

Kemandirian ekonomi tidak selalu berawal dari modal besar. Bagi Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Popo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, proses tersebut tumbuh dari kegiatan sederhana yang dikerjakan bersama: menanam sayuran, memproduksi tempe, dan menenun. Dari usaha-usaha inilah para anggota berupaya memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membangun aset ekonomi kolektif.
Hingga Oktober 2026, aset Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) KDD Popo telah mencapai Rp2,6 juta. Dana tersebut terhimpun dari hasil penjualan sayuran dan tempe, serta simpanan rutin anggota sebesar Rp20.000 per bulan. Capaian ini menjadi bukti nyata perkembangan usaha yang dibangun atas dasar kerja keras dan kontribusi bersama.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program pemberdayaan sosial-ekonomi yang didampingi oleh Yayasan Ayo Indonesia dengan dukungan MissionProkur SVD Steinhausen, Swiss. Program tersebut bertujuan mendorong penyandang disabilitas dan keluarganya mengoptimalkan potensi produktif, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendukung pemenuhan pangan bergizi di tengah tantangan perubahan iklim.
Aset Bersama dari Hasil Kerja dan Simpanan
Staf lapangan Yayasan Ayo Indonesia yang mendampingi KDD Popo, Vino Kary, menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi kelompok ini dirancang tidak hanya untuk menghasilkan produk, tetapi juga membentuk modal bersama guna mendukung kebutuhan para anggota.
Hasil budidaya sayuran dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga, sedangkan sebagian lainnya dijual di Pasar Todo setiap hari pasar, kepada pedagang sayur keliling, maupun melalui lapak kelompok di tepi jalan. Selain berkebun, para anggota juga memproduksi tempe sebagai unit usaha tambahan.
Pendapatan dari penjualan sayur dan tempe disalurkan untuk pembentukan aset UBSP. Sumber dana lain berasal dari iuran simpanan rutin anggota sebesar Rp20.000 per bulan.
Dengan demikian, akumulasi aset sebesar Rp2,6 juta per Oktober 2026 merupakan gabungan dari unit usaha dan tabungan anggota, bukan sekadar hasil penjualan dalam satu periode.
Ke depan, kelompok merencanakan pemanfaatan dana UBSP untuk membantu pembiayaan anggota melalui skema pinjaman berbunga rendah, yaitu sekitar 1–2 persen. Skema ini diharapkan dapat menopang kebutuhan finansial anggota sekaligus menjaga keberlanjutan usaha bersama.
Bagi KDD Popo, akumulasi aset ini menjadi sarana belajar mengelola sumber daya secara kolektif. Para anggota tidak hanya terlibat dalam proses produksi dan pemasaran, tetapi juga membiasakan diri menabung serta membangun mekanisme saling dukung secara ekonomi.
Penyandang Disabilitas sebagai Subjek Pembangunan
KDD Popo menjadi salah satu contoh pentingnya membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi dan sosial.
Melalui budidaya sayuran, pembuatan tempe, dan kerajinan tenun, anggota kelompok memiliki wadah untuk mengasah keterampilan sesuai potensi yang dimiliki. Kegiatan ini sekaligus membuka peluang bagi keluarga mereka untuk memperkuat sumber penghidupan dan menjaga ketahanan pangan harian.
Pendekatan ini menempatkan penyandang disabilitas bukan lagi sekadar penerima bantuan (objek), melainkan pelaku utama (subjek) yang ikut mengambil keputusan, bekerja, menghasilkan produk, dan membangun aset bersama.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang berpotensi mengganggu ketersediaan pangan dan pendapatan rumah tangga, kegiatan produktif semacam ini menjadi benteng ketangguhan keluarga. Budidaya sayuran, misalnya, mampu menyuplai kebutuhan gizi keluarga sekaligus memberikan penghasilan tambahan.
Meski demikian, keberlanjutan usaha tetap memerlukan pendampingan berkelanjutan, pengelolaan keuangan yang tertib, perluasan akses pasar, serta dukungan lingkungan sosial. Kemandirian ekonomi bukanlah hasil instan dari satu program bantuan, melainkan proses bertahap yang dibangun melalui keterampilan, kerja sama, dan tata kelola sumber daya yang konsisten.
Ekaristi Meneguhkan Semangat Kebersamaan
Semangat pemberdayaan tersebut kian diteguhkan melalui perayaan Ekaristi bersama KDD Popo pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Misa yang dipimpin oleh Pastor Paroki Todo, Prian Tangur, Pr., menjadi momentum untuk memperkuat iman sekaligus memperkokoh solidaritas Gereja terhadap penyandang disabilitas dan keluarga mereka.
Dalam homilinya, Pastor Prian menegaskan bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian utuh dari kehidupan Gereja. Mereka memiliki martabat, potensi, dan peran yang sama dalam membangun kehidupan bersama.
“Gereja ingin memastikan bahwa setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengalami kasih Allah. Mereka adalah bagian utuh dari Tubuh Mistik Kristus,” tegas Pastor Prian.
Ia menambahkan bahwa Ekaristi adalah wujud nyata solidaritas Allah kepada manusia. Solidaritas tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian, penerimaan, pendampingan, dan aksi nyata.
Gereja, menurutnya, dipanggil untuk berjalan bersama masyarakat yang rentan. Kehadiran Gereja tidak boleh berhenti pada perayaan ibadat semata, tetapi perlu dilanjutkan melalui kunjungan pastoral, pelibatan aktif dalam kegiatan gerejani, hingga dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi. Pelayanan pastoral idealnya menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat, termasuk kesejahteraan sosial dan ekonomi.
Belajar Mengembangkan Potensi dari Hal Kecil
Memetik pelajaran dari kisah mukjizat penggandaan roti oleh Yesus, Pastor Prian menginspirasi anggota KDD Popo untuk mengenali dan mengoptimalkan potensi yang ada.
Ia mengingatkan bahwa mukjizat besar berawal dari hal yang kecil. Apa yang ada di tangan diterima dengan rasa syukur, lalu dibagikan untuk memberi manfaat bagi banyak orang.
Pesan tersebut mengajak para anggota agar tidak berkecil hati atau meremehkan potensi diri. Setiap kemampuan, sekecil apa pun, dapat berkembang dan berdaya guna jika dijalani dengan rasa syukur, keterbukaan, dan semangat gotong royong.
Pastor Prian juga menekankan pentingnya keterbukaan hati untuk terus belajar dan bertumbuh bersama. Pesan ini selaras dengan prinsip kerja KDD Popo: mengolah sumber daya yang ada dan membangun usaha secara bertahap demi kesejahteraan keluarga.
“Kami Ingin Dapur Tetap Menyala Setiap Hari”
Harapan akan keberlanjutan usaha kelompok disampaikan oleh Bernadus Jetau, tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Todo yang kini aktif sebagai anggota KDD Popo.
Dalam acara penyambutan sebelum Misa, Bernadus menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pastor Prian yang memberikan penguatan moral bagi kelompok.
“Terima kasih atas kehadiran Pater yang telah memperkuat semangat dan pilihan kami dalam mengusahakan kebun sayur demi kepentingan ekonomi, pemenuhan gizi, dan kohesi sosial. Kami berharap komitmen ini terus berkembang agar dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, seperti makanan dan pakaian,” tutur Bernadus.
Ia menegaskan bahwa gerakan ini adalah wujud kemandirian anggota untuk meraih kesejahteraan melalui hasil keringat sendiri.
“Kehadiran Pater memacu kami untuk terus bekerja dan mewujudkan kesejahteraan dengan tangan kami sendiri. Apa yang kami tanam adalah upaya agar dapur kami tetap menyala setiap hari, kini dan di masa depan,” tambahnya.
Pernyataan Bernadus mencerminkan makna ekonomi yang sangat membumi. Bagi KDD Popo, usaha kelompok bukan sekadar angka-angka rupiah yang terkumpul, melainkan jaminan agar kebutuhan dasar harian keluarga terpenuhi, serta terbukanya ruang untuk berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
Merawat Iman, Memperkuat Kemandirian
Pengalaman KDD Popo membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan. Kegiatan produksi, pemasaran, dan tabungan bersama menjadi fondasi pembentukan modal kolektif, sementara pendampingan dan dukungan sosial menjadi penggerak semangat kelompok.
Perayaan Ekaristi bersama menegaskan kembali bahwa iman harus mewujud dalam tindakan nyata dan solidaritas sosial. Bagi Gereja dan masyarakat, berjalan bersama penyandang disabilitas berarti memberikan ruang yang setara bagi mereka untuk berpartisipasi, mengasah potensi, dan mandiri.
Ke depan, keberlanjutan KDD Popo akan sangat bergantung pada konsistensi kelompok dalam menjaga produktivitas, transparansi pengelolaan keuangan, perluasan jangkauan pasar, serta partisipasi aktif para anggotanya.
Dengan sinergi antara keluarga, Gereja, masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendamping, usaha yang berawal dari kebun sederhana ini diharapkan dapat terus menjadi pilar ketangguhan sosial-ekonomi bagi penyandang disabilitas dan keluarganya di Manggarai.
Sumber : Dari Kebun Sayur ke Usaha Bersama: KDD Popo Membangun Kemandirian Ekonomi
