Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

El Niño Sangat Kuat, Dinas Pertanian NTT Perkuat Antisipasi Kekeringan dan Musim Tanam

October 21, 2026October 21, 2026 Artikel
El Niño Sangat Kuat, Dinas Pertanian NTT Perkuat Antisipasi Kekeringan dan Musim Tanam

KUPANG – Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat yang melanda Indonesia pada 2026 menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Berkurangnya curah hujan, meningkatnya risiko kekeringan, serta potensi mundurnya awal musim hujan menjadi tantangan bagi petani dalam menentukan waktu tanam dan menjaga produktivitas pertanian.

Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam dialog Kupang Menyapa yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Kupang, Selasa (20/10/2026), dengan menghadirkan perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Kepala UPT Proteksi TPHP Gabriel Gara Beni, SP bersama Stasiun Klimatologi Kupang. Dialog ini membahas perkembangan fenomena El Niño, dampak kekeringan terhadap lahan pertanian, serta langkah antisipasi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan daerah.

El Niño Sangat Kuat, Musim Hujan di NTT Diperkirakan Mundur

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada dasarian pertama Oktober 2026, indeks ENSO periode Agustus–September–Oktober mencapai +3,08 yang menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Fenomena ini berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk NTT.

Dalam prediksi musim hujan 2026/2027, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah NTT mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026, meskipun awal musim hujan dapat berbeda antardaerah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena keterlambatan hujan berpotensi menggeser jadwal tanam dan memengaruhi ketersediaan air bagi tanaman.

Pemantauan Stasiun Klimatologi NTT hingga akhir September 2026 juga menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah telah mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari. Bahkan, beberapa lokasi mencatat periode tanpa hujan melampaui 130 hari, antara lain di wilayah Kota Kupang, Lembata, Ngada, dan Ende.

Kondisi tersebut menuntut perencanaan kegiatan pertanian yang lebih cermat, terutama pada lahan sawah yang bergantung pada curah hujan dan wilayah pertanian dengan sumber pengairan terbatas.

Lebih dari 800 Hektare Tanaman Padi Terdampak Kekeringan

Dalam dialog tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menyampaikan bahwa berdasarkan laporan sementara petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), lebih dari 800 hektare tanaman padi telah terdampak kekeringan hingga Oktober 2026.

Dari luasan tersebut, sekitar 40 hektare dilaporkan mengalami puso atau gagal panen. Angka ini masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti perkembangan laporan dari petugas lapangan di kabupaten/kota.

Padi sawah menjadi komoditas yang paling banyak dilaporkan terdampak. Sementara itu, berdasarkan informasi yang dibahas dalam dialog, belum terdapat laporan dampak kekeringan terhadap tanaman jagung dalam skala yang sebanding.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian dalam menghadapi musim tanam Oktober–Maret (Okmar). Pergeseran awal musim hujan dapat memengaruhi jadwal penanaman, terutama pada lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Petani Diimbau Menyesuaikan Waktu Tanam dengan Kondisi Iklim

Menghadapi kondisi tersebut, petani di NTT diimbau untuk tidak terburu-buru melakukan penanaman ketika hujan pertama mulai turun.

Hujan sesaat belum tentu menandakan bahwa musim hujan telah berlangsung secara konsisten. Apabila penanaman dilakukan terlalu awal dan hujan kembali berhenti, tanaman yang baru tumbuh berisiko mengalami kekurangan air.

Karena itu, penentuan waktu tanam perlu mempertimbangkan informasi iklim BMKG, kelembapan tanah, ketersediaan sumber air, serta pendampingan penyuluh pertanian.

Pada lahan dengan keterbatasan air, petani juga dapat mempertimbangkan tanaman berumur pendek dan relatif lebih toleran terhadap kondisi kering, seperti kacang-kacangan, ubi, jagung, serta komoditas hortikultura tertentu sesuai karakteristik lahan.

Langkah penyesuaian ini sejalan dengan informasi yang disampaikan RRI Kupang pada 7 Oktober 2026 mengenai pentingnya pemilihan komoditas dan waktu tanam berdasarkan ketersediaan air untuk mengurangi risiko gagal panen.

Dinas Pertanian NTT Perkuat Dukungan Alsintan dan Pengairan

Sebagai bagian dari langkah antisipasi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus memperkuat kesiapan sarana dan prasarana pendukung pertanian.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui sistem brigade alat dan mesin pertanian (alsintan). Sistem ini memungkinkan pemanfaatan peralatan pertanian, termasuk traktor dan pompa air, secara bergantian berdasarkan kebutuhan kelompok tani.

Dukungan pompanisasi menjadi salah satu perhatian penting dalam penanganan kekeringan, khususnya pada lahan pertanian yang masih memiliki akses terhadap sumber air.

Dalam dialog Kupang Menyapa, turut dibahas pemanfaatan sekitar 80 unit pompa air untuk mendukung penanganan kekeringan di Kabupaten Kupang.

Pemanfaatan pompa air perlu mempertimbangkan kondisi sumber air yang tersedia. Pada wilayah dengan sumber air yang telah mengering, diperlukan langkah penyesuaian pola tanam maupun pengelolaan sumber daya air agar kegiatan pertanian tetap dapat berlangsung.

Di samping dukungan pengairan, Dinas juga menyiapkan sarana pengendalian organisme pengganggu tumbuhan melalui lima gudang pestisida yang tersebar di sejumlah wilayah NTT. Kesiapan ini menjadi bagian dari perlindungan tanaman terhadap potensi gangguan hama dan penyakit.

Upaya tersebut didukung koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, penyuluh pertanian, dan instansi terkait untuk mempercepat penanganan kebutuhan petani di lapangan.

Petani yang membutuhkan informasi maupun dukungan sarana pengairan dapat berkoordinasi melalui penyuluh pertanian atau dinas yang menangani urusan pertanian di wilayah masing-masing.

Menjaga Produksi Pangan melalui Adaptasi Iklim dan Kolaborasi

Meskipun menghadapi tantangan kekeringan, Pemerintah Provinsi NTT tetap berupaya menjaga keberlanjutan produksi tanaman pangan sepanjang 2026.

Target produksi padi NTT tahun 2026 berada di atas 1,1 juta ton gabah kering giling (GKG). Pencapaiannya terus didorong melalui penyediaan benih, pengelolaan air, mekanisasi pertanian, pendampingan petani, serta pengembangan kawasan pertanian yang memiliki sumber air memadai.

Selain peningkatan produksi padi, pengembangan pangan lokal yang adaptif terhadap kondisi agroklimat NTT juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Diversifikasi pangan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu komoditas sekaligus meningkatkan pemanfaatan hasil pertanian lokal.

Di sisi lain, kolaborasi dengan BMKG menjadi semakin penting agar informasi iklim dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pertanian. Melalui penyuluhan dan kegiatan Sekolah Lapang Iklim, petani dapat meningkatkan pemahaman mengenai prakiraan musim, curah hujan, serta pengelolaan usaha tani yang lebih adaptif.

Penguatan jaringan irigasi, pemanfaatan teknologi pertanian, dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan juga diperlukan agar dukungan pembangunan pertanian dapat menjangkau lahan produksi secara lebih efektif.

Dengan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BMKG, penyuluh, dan petani, berbagai langkah antisipasi kekeringan diharapkan mampu mengurangi risiko kerugian usaha tani sekaligus menjaga ketersediaan pangan masyarakat.

Kesiapan menghadapi perubahan iklim menjadi bagian penting dalam membangun pertanian NTT yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan, dengan tetap mengutamakan perlindungan petani serta penguatan ketahanan pangan daerah.

Post navigation

Previous Previous
Benih Jagung Jafran 1 Disalurkan Bertahap, Petani Kabupaten Kupang Bersiap Hadapi Musim Tanam
NextContinue
Dinas Pertanian NTT Jadi Narasumber Nasional Rembuk Peta, Bagikan Pengalaman Pemetaan Kopi di Alor
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search