Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Kementan Target Revitalisasi 247 Ribu Hektare Kebun Kakao hingga 2027

September 21, 2026September 21, 2026 Artikel
Kementan Target Revitalisasi 247 Ribu Hektare Kebun Kakao hingga 2027

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan revitalisasi dan perluasan kawasan kakao nasional seluas 247.260 hektare pada 2025 hingga 2027. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki produksi dan produktivitas kakao sekaligus memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.

Direktur Perbenihan Perkebunan Kementan, Ebi Rulianti mengatakan, target pengembangan kawasan kakao tersebut mencakup kegiatan peremajaan dan perluasan. Pada 2025, pengembangan kawasan dilakukan seluas 4.266 hektare.

“Yang paling besar targetnya di tahun ini ada 174.260 hektare. Ini untuk perluasan 71.722 dan untuk peremajaan sendiri 102.488,” kata Ebi dalam Webinar yang bertajuk ‘Hari Kakao Nasional, Mendorong Hilirisasi untuk Kesejahteraan Pekebun’, Jakarta, baru-baru ini.

Sementara pada 2027, sambung Ebi, Kementan memproyeksikan kegiatan perluasan dan peremajaan kakao seluas 59.974 hektare.

Ebi mengatakan, program tersebut diperlukan karena produktivitas kakao nasional masih rendah. Rata-rata produktivitas kakao Indonesia berada di kisaran 700-800 kilogram per hektare per tahun, sementara di negara lain dapat mencapai sekitar 1,5 ton per hektare.

Menurut dia, rendahnya produktivitas juga berkaitan dengan kondisi tanaman kakao yang sudah tua dan rusak. Selain itu, masih terdapat petani yang menggunakan benih yang tidak bersertifikat dan berlabel.

“Sebagian besar bahan tanaman kita sudah banyak yang tua dan rusak, produktivitasnya juga masih rendah. Kemudian masih banyak juga yang menggunakan benih yang tidak bersertifikat dan berlabel,” ujarnya.

Untuk mendukung peremajaan, pemerintah memberikan bantuan benih sebanyak 1.000 batang per hektare. Benih yang diberikan terdiri atas seedling dan sambung pucuk.

Ebi menjelaskan, penggunaan seedling akan diupayakan sekitar 20 persen dari total populasi untuk menjaga keragaman genetik. Sementara sebagian besar benih menggunakan sambung pucuk karena ketersediaan benih seedling dari kebun induk atau kebun hibridisasi masih terbatas.

Selain benih, pemerintah juga menyiapkan bantuan untuk persiapan tanah dan pekerja untuk pemeliharaan tanaman.

Ebi menekankan penggunaan benih unggul menjadi bagian penting dalam pengembangan kakao karena tanaman perkebunan merupakan investasi jangka panjang. Namun, penggunaan benih unggul saja tidak cukup untuk meningkatkan produksi jika tidak disertai penerapan praktik budidaya yang baik atau good agricultural practices (GAP) serta pendampingan kepada petani.

“Benih sendiri memang bukan segala-galanya, tetapi segala sesuatunya dimulai dari benih,” katanya.

Menurut Ebi, keberhasilan program hilirisasi kakao membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, asosiasi, dan pemerintah daerah. Kementan dalam hal ini berfokus pada penyiapan bahan baku melalui perbaikan tanaman, sementara pengembangan hilirisasi membutuhkan peran berbagai pihak.

Dia mengatakan perbaikan tanaman kakao juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku dari luar. Di sisi lain, peningkatan produksi juga diarahkan untuk mendukung peningkatan ekspor kakao, baik dalam bentuk olahan maupun bahan mentah.

Untuk mendukung kebutuhan benih, Ebi menyebut potensi benih kakao saat ini tersebar di berbagai provinsi. Potensi benih untuk batang bawah mencapai sekitar 506 juta, entres 258 juta, dan kebun induk 26 juta.

“Insyaallah untuk kebutuhan benih nasional ini bisa dipenuhi dari seluruh provinsi. Saya cukup pede, cukup firm dengan penyediaan benih kakao ini secara nasional,” ujarnya.

Kementan juga mendorong pembangunan kebun-kebun sumber benih baru, terutama untuk varietas-varietas unggul yang telah dilepas. Selain itu, pemerintah membuka peluang bagi swasta untuk ikut membangun kebun sumber benih kakao.

Ebi mengatakan program tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi kakao, tetapi juga diharapkan menggerakkan ekonomi di tingkat pedesaan. Produksi benih di lokasi pengembangan kawasan dapat menyerap tenaga kerja mulai dari pengisian polybag, penyemaian, pemupukan, penyiraman, pengendalian hama dan penyakit hingga proses penyaluran benih.

Dampak terhadap produksi kakao nasional, kata dia, tidak dapat langsung terlihat dalam satu atau dua tahun. Hasil dari perbaikan tanaman diperkirakan baru dapat dinikmati dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: Majalah Hortus

Post navigation

Previous Previous
Pemkab Ngada dan BULOG Salurkan Bantuan Beras bagi 14.807 Penerima Manfaat
NextContinue
Demplot Ke-2 Gelar Teknologi Jagung Hibrida di Oepura Terus Tumbuh, Pemeliharaan Diperkuat
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search