Panen Raya Bawang Putih 30 Hektare di Nenas, Ubinan Tunjukkan 10–12 Ton per Hektare

Timor Tengah Selatan – Panen Raya Bawang Putih dilaksanakan di kawasan Kaenka, Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis, 1 Oktober 2026. Panen berlangsung pada areal pengembangan seluas 30 hektare dengan hasil ubinan menunjukkan produktivitas berkisar 10 hingga 12 ton per hektare.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si., Direktur Perbenihan Hortikultura Dr. Muhammad Agung Sunusi, S.P., M.Si., Plh. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Asisten II Pemerintah Kabupaten TTS, Polres TTS, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTS, Ketua dan anggota Komisi II DPRD, Camat Fatumnasi, Pemerintah Desa, para penyuluh pertanian, serta petani di lokasi kegiatan.
Kehadiran pemerintah pusat, pemerintah daerah, unsur legislatif, aparat keamanan, pemerintah kecamatan dan desa, penyuluh hingga petani menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam pengembangan bawang putih sebagai salah satu komoditas hortikultura strategis di wilayah dataran tinggi TTS.
Nenas Perkuat Potensi Sentra Bawang Putih NTT
Desa Nenas memiliki rekam jejak pengembangan bawang putih. Pada Mei 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT bersama Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian telah melakukan identifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) pengembangan bawang putih di desa tersebut sebagai bagian dari penguatan produksi bawang putih di NTT.
Pengembangan bawang putih di Desa Nenas juga bukan kegiatan yang baru dimulai tahun ini. Dokumentasi pertanian sebelumnya mencatat kegiatan perbenihan bawang putih varietas Sangga Sembalun telah dilaksanakan di Desa Nenas pada 2021. Kondisi dataran tinggi serta pengalaman masyarakat dalam membudidayakan komoditas ini menjadi modal penting bagi pengembangan bawang putih secara berkelanjutan.
Data BPS Kabupaten TTS juga mencatat aktivitas budidaya bawang putih di Kecamatan Fatumnasi. Pada 2025, luas panen bawang putih di kecamatan tersebut tercatat 9 hektare. Kehadiran areal panen raya seluas 30 hektare pada kegiatan kali ini memperlihatkan semakin besarnya ruang pengembangan komoditas bawang putih di wilayah tersebut.
Hasil Ubinan Capai 10–12 Ton per Hektare
Salah satu bagian penting dari kegiatan panen raya adalah pengukuran hasil melalui ubinan. Dari pengukuran di lokasi, produktivitas bawang putih berada pada kisaran 10 hingga 12 ton per hektare.
Angka tersebut menjadi gambaran potensi produksi dari pertanaman bawang putih yang dikembangkan petani di kawasan Kaenka. Hasil ini sekaligus memberikan dasar penting untuk evaluasi budidaya, mulai dari penggunaan benih, pengolahan lahan, pemupukan, pemeliharaan tanaman hingga penanganan pascapanen.
Penguatan produktivitas perlu berjalan bersama dengan ketersediaan benih bermutu dan pendampingan teknis kepada petani. Hal ini menjadi penting karena pengembangan bawang putih nasional tidak hanya membutuhkan perluasan areal tanam, tetapi juga sistem perbenihan yang mampu menyediakan benih secara berkelanjutan.
Secara nasional, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi bawang putih dalam negeri. NTT menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki peluang mendukung upaya tersebut melalui kawasan dataran tinggi yang sesuai untuk pengembangan bawang putih. Pada 2026, koordinasi pengembangan bawang putih di NTT juga telah melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga teknis pertanian, penyuluh dan petani.
Dari Produksi hingga Penguatan Rantai Pasok
Panen raya di Desa Nenas tidak hanya menunjukkan hasil budidaya di tingkat lahan. Pengembangan selanjutnya juga perlu diarahkan pada penguatan rantai usaha dari penyediaan benih, produksi, pendampingan budidaya, penanganan pascapanen hingga akses pasar.
Dengan rantai pasok yang semakin efisien, hasil pertanian lokal dapat memiliki posisi yang semakin kuat dalam memenuhi kebutuhan daerah maupun mendukung pasokan secara lebih luas. Penguatan produksi dari kawasan potensial seperti Fatumnasi juga membuka kesempatan bagi petani untuk meningkatkan skala usaha serta memperoleh nilai tambah dari komoditas yang dikembangkan.
Kolaborasi antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten TTS, penyuluh, pemerintah desa, aparat terkait dan petani menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pengembangan tersebut.
Panen raya bawang putih 30 hektare di Desa Nenas menjadi salah satu gambaran potensi pertanian dataran tinggi NTT yang dapat terus diperkuat melalui pemanfaatan potensi lokal, teknologi budidaya, pendampingan petani dan dukungan lintas sektor. Dengan pengembangan yang terarah dari hulu hingga hilir, bawang putih diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi petani sekaligus memperkuat kontribusi pertanian NTT terhadap penyediaan pangan nasional.
