Pelatihan Budidaya dan Pascapanen Tembakau di Malaka Dorong Peningkatan Kapasitas Petani

Kupang, 12 Mei 2026 – Pelatihan Budidaya dan Pascapanen Tembakau dilaksanakan di Kantor BPP Biudukfoho, Desa Naet, Kecamatan Rainhat, Kabupaten Malaka (Senin, 11 Mei 2026). Kegiatan ini menjadi upaya penguatan kapasitas petani dalam mengelola budidaya tembakau secara lebih tepat, produktif, dan berorientasi pasar.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta. Peserta berasal dari utusan 12 kelompok tani yang menjadi CPCL. Kelompok tani tersebut tersebar pada tiga kecamatan di Kabupaten Malaka.
Pelatihan ini turut dihadiri para Penyuluh Pertanian Lapangan di Kecamatan Rainhat. Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Malaka, khususnya Bidang Perkebunan, juga hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur ini memperkuat koordinasi teknis dalam pengembangan komoditas tembakau di tingkat lapangan.
Penguatan Kapasitas Petani Tembakau
Penyampaian materi dilakukan oleh petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bidang Perkebunan. Materi juga disampaikan oleh Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Malaka.
Pelatihan ini membahas tahapan budidaya tembakau secara menyeluruh. Materi dimulai dari perbenihan tembakau, pemilihan lahan, persiapan lahan, persemaian, hingga penanaman. Peserta juga menerima materi tentang pemeliharaan tanaman, panen, dan pengolahan pascapanen.
Varietas benih tembakau yang digunakan pada tahun 2026 adalah Varietas Bojonegoro 1. Pemilihan varietas ini menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan tembakau sesuai program pemerintah.
Metode pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi dan diskusi interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pengalaman, serta kendala yang dihadapi di lapangan.
Budidaya dan Pascapanen Menjadi Fokus Utama
Pelatihan Budidaya dan Pascapanen Tembakau menekankan pentingnya penerapan teknik budidaya yang sesuai. Pemilihan lahan menjadi tahap awal yang menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman.
Persiapan lahan juga menjadi perhatian utama. Lahan yang baik akan membantu tanaman tumbuh optimal sejak awal penanaman.
Tahap persemaian perlu dilakukan secara cermat. Bibit yang sehat akan menentukan kualitas tanaman pada fase berikutnya.
Pemeliharaan tanaman juga menjadi materi penting dalam pelatihan ini. Petani perlu memahami pengairan, pemupukan, pengendalian hama, dan perawatan tanaman secara tepat.
Tahap panen dan pascapanen turut menjadi fokus pembahasan. Pengolahan pascapanen yang baik akan memengaruhi mutu tembakau rajangan. Mutu hasil panen sangat menentukan nilai jual di tingkat petani.
Tantangan Pemasaran Tembakau di Malaka
Salah satu kendala utama dalam budidaya tembakau di Kabupaten Malaka adalah aspek pemasaran. Permasalahan ini menjadi perhatian serius bagi petani dan pemerintah daerah.
Dalam tiga tahun terakhir, harga tembakau di Malaka pernah berkisar pada angka Rp 400.000 per kilogram. Kondisi berbeda terjadi pada tahun lalu. Harga tembakau hanya mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram.
Penurunan harga tersebut berdampak pada semangat petani. Banyak petani menjadi kurang termotivasi untuk melanjutkan budidaya tembakau.
Salah satu penyebabnya berkaitan dengan karakteristik benih bantuan pemerintah. Benih tersebut dinilai memiliki kadar nikotin rendah. Sementara itu, masyarakat lebih banyak membutuhkan tembakau rajangan dengan kadar nikotin tinggi.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesesuaian antara varietas, kebutuhan pasar, dan preferensi konsumen. Program budidaya tembakau perlu mempertimbangkan aspek teknis dan aspek pemasaran secara bersamaan.
Perlu Sinergi Pemerintah dan Petani
Pengembangan tembakau tidak hanya membutuhkan peningkatan teknik budidaya. Petani juga memerlukan kepastian pasar dan harga yang layak.
Dukungan pemerintah menjadi penting dalam memperkuat rantai nilai tembakau. Pendampingan teknis perlu diikuti dengan strategi pemasaran yang lebih terarah.
Kegiatan serupa juga berlangsung di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Pelaksanaan kegiatan di beberapa kabupaten menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor perkebunan di NTT.
Melalui kegiatan ini, petani diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih baik. Petani juga diharapkan memahami pentingnya pengolahan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil.
Kesimpulan
Pelatihan Budidaya dan Pascapanen Tembakau di Kabupaten Malaka menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas petani. Kegiatan ini memberikan pemahaman teknis mulai dari perbenihan hingga pengolahan pascapanen.
Tantangan pemasaran masih menjadi persoalan utama yang perlu mendapat perhatian bersama. Penguatan budidaya perlu disertai strategi pasar yang sesuai kebutuhan konsumen.
Sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, penyuluh, dan kelompok tani menjadi kunci pengembangan tembakau di NTT. Melalui pendampingan berkelanjutan, komoditas tembakau diharapkan dapat memberi nilai ekonomi lebih baik bagi petani.
