Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus untuk Pengendalian Hama Brontispa pada Anakan Kelapa di Ende

Kupang 3 Juni 2026 – Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus dilakukan oleh Sub Lab Hayati Ende, Sie Lab Hayati & Biopestisida UPTD PKDLHP. Kegiatan ini berada di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT.
Kegiatan tersebut menjadi tindak lanjut hasil inventarisasi hama pada anakan kelapa. Inventarisasi sebelumnya dilakukan oleh staf Sub Laboratorium Hayati Ende.
Hasil pengamatan menemukan serangan hama Brontispa longissima pada anakan kelapa. Serangan tersebut ditemukan di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.
Brontispa longissima dan Ancaman pada Anakan Kelapa
Brontispa longissima Gestro merupakan hama berbahaya pada tanaman kelapa. Hama ini menyerang bagian daun muda, terutama daun yang belum membuka sempurna.
Serangan Brontispa perlu mendapat perhatian serius. Pada tanaman muda, serangan berat dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas.
Rujukan FAO menyebutkan bahwa larva dan imago Brontispa menyerang daun kelapa muda. Serangan berat bahkan dapat menyebabkan tanaman kelapa mati.
Pentingnya Pengendalian yang Ramah Lingkungan
Pengendalian hama tidak hanya bertujuan membasmi populasi secara total. Pengendalian diarahkan untuk menekan populasi di bawah ambang kerusakan.
Karena itu, pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu atau PHT menjadi sangat penting. PHT mendorong pengendalian yang efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.
FAO juga menjelaskan bahwa pengendalian hayati dapat mengurangi ketergantungan pada insektisida. Pendekatan ini berdampak baik bagi lingkungan dan pengelolaan jangka panjang.
Peran Parasitoid Tetrastichus dalam Pengendalian Brontispa
Salah satu musuh alami Brontispa adalah parasitoid Tetrastichus brontispae. Parasitoid ini bekerja dengan memarasit larva tua dan pupa Brontispa.
Dalam pengendalian hayati, parasitoid membantu menekan populasi hama secara alami. Cara ini sejalan dengan prinsip PHT pada tanaman kelapa.
Kajian FAO menyebutkan Tetrastichus brontispae sebagai parasitoid larva dan pupa Brontispa. Parasitoid ini ditemukan berasosiasi kuat dengan pupa Brontispa di lapangan.
Tindak Lanjut Sub Laboratorium Hayati Ende
Sebagai tindak lanjut inventarisasi, Sub Laboratorium Hayati Ende melakukan Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus. Kegiatan ini dilakukan untuk menyediakan agens hayati dalam jumlah memadai.
Agens hayati tersebut disiapkan untuk mendukung pengendalian Brontispa di lapangan. Dengan demikian, populasi hama dapat ditekan secara berkelanjutan.
Langkah ini juga mendukung perlindungan anakan kelapa di wilayah Kabupaten Ende. Perlindungan dini penting agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Tahapan Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus
Tahap pertama adalah eksplorasi di lapangan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan larva, pupa Brontispa, dan pupa yang terinfeksi parasitoid.
Bahan hasil eksplorasi kemudian dibawa ke laboratorium. Selanjutnya, bahan tersebut diseleksi sebagai sumber inang dan sumber parasitoid.
Tahap ini sangat menentukan keberhasilan perbanyakan. Ketersediaan inang yang sehat menjadi faktor penting dalam proses pengembangbiakan parasitoid.
Pemeliharaan Larva Brontispa di Laboratorium
Larva Brontispa hasil eksplorasi dipelihara di laboratorium. Pemeliharaan dilakukan hingga larva berkembang menjadi pupa.
Pupa Brontispa kemudian digunakan sebagai inang bagi parasitoid. Inang yang sesuai membantu meningkatkan keberhasilan proses parasitisasi.
Riset JAAST menjelaskan bahwa Tetrastichus brontispae merupakan parasitoid larva-pupa. Parasitoid ini juga termasuk endoparasitoid gregarius.
Infeksi Pupa Brontispa oleh Parasitoid
Tahap berikutnya adalah proses infeksi atau parasitisasi. Pada tahap ini, pupa Brontispa diekspos kepada imago betina Tetrastichus.
Imago betina akan meletakkan telur pada inang yang sesuai. Selanjutnya, parasitoid berkembang di dalam tubuh inang.
Kajian JAAST menunjukkan perkembangan Tetrastichus brontispae dari telur hingga imago sekitar 18,95 hari. Data ini memperkuat pentingnya pengaturan waktu dalam perbanyakan.
Mendukung Produksi Kelapa di Kabupaten Ende
Kegiatan Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus menjadi langkah strategis bagi pengamanan tanaman kelapa. Terutama pada fase anakan yang masih rentan serangan.
Dengan tersedianya parasitoid, pengendalian dapat dilakukan secara lebih terarah. Pendekatan ini juga mengurangi risiko dampak negatif bahan kimia.
Selain itu, kegiatan ini memperkuat peran laboratorium hayati daerah. Laboratorium menjadi pusat dukungan teknis pengendalian hama ramah lingkungan.
Kesimpulan
Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus merupakan langkah nyata pengendalian hayati di Kabupaten Ende. Kegiatan ini dilakukan setelah ditemukan serangan Brontispa pada anakan kelapa.
Melalui eksplorasi, pemeliharaan inang, dan proses parasitisasi, Sub Lab Hayati Ende menyiapkan agens hayati yang dibutuhkan. Upaya ini mendukung pengendalian hama secara terpadu.
Dengan penerapan PHT, populasi Brontispa diharapkan dapat ditekan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, pertumbuhan dan produksi kelapa di Kabupaten Ende dapat tetap terjaga.
