Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Edukasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Produksi Padi NTT Tembus 1 Juta Ton, Jagung Malah Turun

November 8, 2026November 8, 2026 Artikel
Produksi Padi NTT Tembus 1 Juta Ton, Jagung Malah Turun
Kadis Pertanian NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, saat diwawancarai detikBali di Kupang, Sabtu (7/11/2026)

Produksi padi di Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi menembus 1 juta ton pada 2026. Namun, di tengah kenaikan produksi padi tersebut, hasil panen jagung justru mengalami penurunan.
Ancaman El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Maret 2027 turut menjadi tantangan bagi sektor pertanian di wilayah itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, mengatakan produksi padi tahun ini meningkat dibandingkan 2025 yang tercatat sebanyak 968 ribu ton. Berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi hingga Desember 2026 bisa mencapai lebih dari 1 juta ton.

“Data BPS produksi padi kita itu meningkat dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu produksi padi kita 968 ribu ton tapi sampai saat ini data BPS prediksi sampai Desember 2026 bisa sampai 1 ribu ton lebih,” ujar Joaz, Sabtu (7/11/2026).

Menurutnya, peningkatan produksi didukung curah hujan yang tinggi pada Januari-Maret 2026. Kondisi itu memungkinkan petani menanam padi hingga dua kali. Ketersediaan pupuk dan bantuan pertanian juga mempercepat masa tanam kedua.

“Karena memang pada saat awal bulan Januari-Maret itu, hujan masih banyak dan petani bisa tanam sampai dua kali,” jelasnya.

Produksi Jagung Menurun
Berbanding terbalik dengan padi, produksi jagung NTT justru menurun. Joaz menyebut perubahan pola tanam menjadi salah satu penyebabnya. Petani yang sebelumnya menanam jagung setelah padi kini lebih banyak menanam padi dua kali dalam setahun.

“Sekarang Kementerian Pertanian bantuan ke kita cukup banyak NTT. Hanya produksi jagung kita agak menurun. Kenapa demikian, karena orang tanam jagung setelah tanam padi, nah kalau tanam dua kali padi, maka jagung satu kali, pada saat air turun seperti saat ini air sudah tidak ada lagi,” terangnya.

Di sisi lain, NTT menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Februari atau Maret 2027. Kondisi ini menjadi tantangan karena wilayah NTT memiliki musim hujan yang relatif pendek, yakni 3-4 bulan, sedangkan musim kemarau berlangsung 7-8 bulan.

“Yang memang saat El Nino ini kita sangat terdampak, terutama sahabat-sahabat petani kita di desa-desa, apalagi kita ini sebenarnya kena dua kali, karena musim hujan kan hanya 3-4 bulan. Sedangkan, musim keringnya 7-8 bulan,” tambah Joaz.

NTT Siapkan Mitigasi Kekeringan
Menghadapi ancaman tersebut, Pemprov NTT telah mengimbau dinas pertanian kabupaten/kota dan petani melakukan mitigasi serta adaptasi. Salah satunya dengan menanam komoditas yang tidak membutuhkan banyak air, seperti sorgum, jagung, kacang-kacangan, dan tanaman hortikultura.

Pemprov NTT juga menyalurkan bantuan pompa air untuk menyelamatkan lahan persawahan. Pada 2025, sekitar 100 unit pompa air telah disalurkan. Sementara tahun ini, permintaan petani mencapai 50-60 unit di seluruh NTT.

Sementara itu, penyerapan hasil panen oleh Bulog menunjukkan tren positif. Bulog telah menyerap hampir 8 ribu ton padi dari target sekitar 7 ribu ton. Adapun penyerapan jagung mencapai lebih dari 2 ribu ton dari target sekitar 3 ribu ton.

Joaz menyebut wilayah yang paling terdampak kekeringan saat ini antara lain Lembata, Larantuka, Sumba Barat Daya, dan Belu. Meski demikian, dampaknya terhadap produksi padi dinilai tidak signifikan.

“Jadi memang daerah yang paling terdampak itu untuk saat ini di daerah yang kering seperti Lembata, Larantuka, Sumba Barat Daya, tapi tidak signifikan. Belu juga sendiri tapi produksi padi kita bagus jagung yang turun,” tutupnya.

Sumber: Detik Bali

Post navigation

Previous Previous
Tour de EnTeTe 2026 Bawa Berkah bagi Pedagang Madu di TTU, Warga Juga Terima Bantuan Rumah
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Edukasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search