Prospek Cuaca NTT 3–9 November 2026: BMKG Ingatkan Potensi Hujan, Petir, dan Angin Kencang
KUPANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang merilis prospek cuaca mingguan untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlaku pada 3–9 November 2026. Memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat.
Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer yang diterbitkan pada Selasa (3/11/2026), melemahnya angin Monsun Timur menjadi salah satu indikator bahwa wilayah NTT mulai memasuki masa pancaroba.
Secara umum, kondisi cuaca di NTT selama sepekan diprakirakan cerah hingga berawan dengan potensi hujan ringan sampai sedang di sejumlah wilayah. Suhu udara diperkirakan berkisar antara 16–37 derajat Celsius, sementara kelembapan udara berada pada kisaran 40–90 persen.
Prakiraan Cuaca di Sejumlah Wilayah NTT
BMKG membagi prospek cuaca menjadi dua periode, yakni 3–6 November dan 7–9 November 2026. Secara umum, pola cuaca pada kedua periode tersebut diprakirakan relatif serupa.
Wilayah Pulau Timor diprakirakan mengalami kondisi cerah berawan hingga berawan dengan potensi hujan ringan. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata, serta Pulau Alor dan Pantar.
Sementara itu, Pulau Flores memiliki potensi hujan ringan hingga sedang selama periode prakiraan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat yang menjalankan aktivitas di luar ruangan, termasuk kegiatan pertanian dan distribusi hasil produksi.
Berbeda dengan wilayah lainnya, Pulau Rote dan Pulau Sabu diprakirakan didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan selama 3–9 November 2026.
BMKG juga mencatat suhu muka laut di wilayah NTT berkisar antara 28–30 derajat Celsius. Selain itu, hasil pemantauan titik panas serta sebaran partikulat asap dari wilayah lain menunjukkan masih adanya potensi udara kabur atau haze di sejumlah wilayah.
Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem saat Masa Pancaroba
Dalam informasi peringatan dininya, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak hujan sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.
Masyarakat diharapkan memperhatikan perkembangan cuaca sebelum melaksanakan kegiatan di luar ruangan, terutama ketika terjadi peningkatan pertumbuhan awan hujan atau perubahan cuaca secara cepat.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan genangan, banjir, maupun longsor, kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan informasi peringatan dini terbaru.
Meskipun sebagian wilayah mulai berpotensi mengalami hujan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh wilayah NTT telah memasuki musim hujan secara bersamaan.
BMKG dalam prediksi musim hujan 2026/2027 memperkirakan sebagian kecil wilayah NTT mulai memasuki musim hujan pada November 2026, sedangkan sebagian besar wilayah lainnya diprakirakan mengalami awal musim hujan pada Desember 2026.
Informasi Cuaca Penting bagi Kegiatan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Perubahan kondisi cuaca pada masa pancaroba menjadi perhatian penting bagi sektor pertanian di NTT, terutama dalam mempersiapkan kegiatan budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Informasi prakiraan cuaca dapat dimanfaatkan petani dan penyuluh pertanian sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan waktu pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, hingga panen.
Potensi hujan di sejumlah wilayah juga perlu diantisipasi melalui pengelolaan air dan saluran drainase yang baik. Sementara itu, wilayah yang masih didominasi cuaca cerah perlu memperhatikan ketersediaan sumber air untuk mendukung kebutuhan tanaman.
Pemanfaatan informasi iklim secara tepat diharapkan membantu petani mengurangi risiko kerugian akibat perubahan cuaca sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mengajak masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha pertanian, untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi BMKG serta berkoordinasi dengan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing.
Kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim, didukung pemanfaatan informasi cuaca dan kolaborasi lintas sektor, menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
