Sorgum Lokal NTT Tumbuh di Lahan Petani Noelbaki, Potensi Pangan Adaptif untuk Lahan Kering

Noelbaki, Kabupaten Kupang – Pertanaman sorgum lokal Nusa Tenggara Timur tumbuh di lahan milik petani bernama Umbu di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Keberadaan pertanaman ini memperlihatkan bahwa pangan lokal yang telah lama dikenal masyarakat NTT tetap memiliki ruang untuk dikembangkan, terutama pada wilayah dengan karakter lahan dan iklim kering.
Dari dokumentasi pertanaman, tanaman sorgum telah membentuk malai dengan biji yang terlihat padat. Menariknya, tampak pula variasi warna pada malai dan biji, mulai dari warna terang hingga cokelat. Perbedaan tersebut menjadi salah satu gambaran keragaman sorgum lokal yang dipelihara di tingkat petani, meskipun jenis atau varietas spesifik pada pertanaman milik Umbu belum dapat dipastikan hanya berdasarkan dokumentasi visual.
Noelbaki merupakan salah satu desa di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Data pertanian Kecamatan Kupang Tengah menunjukkan bahwa sorgum memang telah dibudidayakan di wilayah tersebut, meski skalanya masih terbatas. Pada 2024, luas panen sorgum di Kecamatan Kupang Tengah tercatat 3 hektare dengan produksi 1,5 ton. Data tersebut merupakan kondisi tahun 2024 dan bukan angka pertanaman terkini 2026. BPS
Sorgum dan Karakter Lahan Kering NTT
Sorgum memiliki karakter yang membuatnya relevan dengan kondisi agroekosistem di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. BRMP Serealia Kementerian Pertanian pada April 2026 menyebut sorgum mempunyai toleransi yang baik terhadap kekeringan dan dapat beradaptasi pada lahan suboptimal, sehingga NTT termasuk wilayah yang memiliki peluang untuk pengembangannya. Serealia BRMP
Hubungan antara NTT dan sorgum sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Literatur pertanian Kementerian Pertanian mencatat bahwa sorgum telah lama diusahakan sebagian masyarakat NTT, terutama pada wilayah kering seperti Sabu, Rote, Sumba, dan sebagian Pulau Timor. Budidaya tersebut menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat dalam menyesuaikan pilihan tanaman dengan kondisi lingkungan setempat. Repository Pertanian
Karakter tersebut membuat sorgum berpotensi melengkapi pilihan komoditas pangan masyarakat, bukan sekadar menggantikan komoditas lain. Semakin beragam sumber pangan yang dapat dibudidayakan, semakin besar pula pilihan petani dalam memanfaatkan lahan sesuai kondisi air, musim, dan kebutuhan usaha tani.
Selain bijinya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sorgum merupakan tanaman multiguna. Biji sorgum dapat diolah menjadi beras sorgum maupun tepung sebagai bahan berbagai produk pangan, sedangkan bagian tanaman lainnya memiliki peluang dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan dan pengembangan produk turunan. Kementerian Pertanian pada 2026 juga terus mendorong pengembangan budidaya sorgum sebagai salah satu sumber pangan sekaligus komoditas yang memiliki peluang pemanfaatan lebih luas. Tanaman Pangan
Dari Pertanaman Petani Menuju Rantai Nilai Sorgum
Keberadaan sorgum lokal di lahan petani seperti di Noelbaki menjadi penting apabila pengembangannya tidak berhenti pada tahap budidaya. Produksi di tingkat petani perlu terhubung dengan penanganan pascapanen, pengolahan, pengembangan produk dan akses pasar agar komoditas ini mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Arah tersebut juga mulai diperkuat di Kabupaten Kupang. Pada awal September 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT melakukan peninjauan pertanaman sorgum bersama pelaku usaha untuk memperkuat hubungan antara petani sebagai produsen bahan baku dengan kebutuhan pengolahan serta pasar. Produk berbasis sorgum yang telah dikembangkan di NTT antara lain beras sorgum, tepung sorgum, dan produk pangan olahan. Dinas Pertanian NTT
Kajian Kementerian Pertanian mengenai pengembangan agroindustri sorgum di NTT juga menunjukkan bahwa penguatan sorgum perlu berlangsung sepanjang rantai nilai, mulai dari produksi, kelembagaan petani, pengolahan hingga perluasan pemasaran. Dengan demikian, peningkatan produksi dapat berjalan bersama penciptaan nilai tambah dan pembukaan pasar bagi produk pangan lokal. Repository Pertanian
Pertanaman sorgum lokal di Noelbaki menjadi contoh nyata bahwa sumber daya genetik dan pangan lokal masih hidup di lahan petani. Pemeliharaan pertanaman seperti ini penting tidak hanya untuk menyediakan sumber pangan, tetapi juga untuk mempertahankan pengetahuan budidaya serta membuka ruang bagi pengembangan komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi wilayah.
Ke depan, penguatan produksi perlu dibarengi identifikasi bahan tanam, budidaya yang baik, penanganan pascapanen, teknologi pengolahan serta keterhubungan dengan pelaku usaha. Dengan kolaborasi petani, pemerintah, penyuluh, akademisi dan pelaku usaha, sorgum dapat mengambil peran lebih besar dalam diversifikasi pangan sekaligus membangun rantai pasok hasil pertanian lokal yang lebih efisien dan bernilai tambah di Nusa Tenggara Timur.
