Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Sorgum NTT: Biji Kecil dengan Potensi Besar untuk Pangan dan Lahan Kering

September 25, 2026September 25, 2026 Artikel
Sorgum NTT Biji Kecil dengan Potensi Besar untuk Pangan dan Lahan Kering

Kupang – Di tengah tantangan pertanian lahan kering dan kebutuhan memperkuat keberagaman sumber pangan, sorgum kembali menarik perhatian sebagai salah satu komoditas yang relevan dikembangkan di Nusa Tenggara Timur. Tanaman serealia ini mampu beradaptasi pada kondisi relatif kering, dapat dimanfaatkan sebagai pangan maupun pakan, serta memiliki peluang diolah menjadi beragam produk bernilai tambah.

Bagi NTT, sorgum sebenarnya bukan tanaman yang benar-benar baru. Jejaknya telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat sejumlah wilayah, khususnya di Flores dan pulau-pulau sekitarnya. Di Flores Timur, sorgum dikenal antara lain dengan nama wata blolong atau wata solor, sementara sejumlah daerah lain memiliki penyebutan lokal yang berbeda. Upaya menghidupkan kembali pangan ini juga telah berlangsung bertahun-tahun melalui petani dan penggerak pangan lokal.

Mengapa Sorgum Menarik untuk NTT?

Salah satu keunggulan utama sorgum adalah kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan dengan ketersediaan air terbatas. BRMP Kementerian Pertanian menyebut sorgum toleran terhadap kekeringan dan dapat dikembangkan pada lahan suboptimal, termasuk lahan dengan tingkat kesuburan dan kemampuan menyimpan air yang relatif rendah. Karakter tersebut menjadikannya relevan bagi banyak kawasan pertanian lahan kering di NTT.

Sorgum juga mempunyai pemanfaatan yang luas. Bijinya dapat diolah menjadi berasan sorgum, tepung, mi, kue dan berbagai pangan olahan. Batang dan daun dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak, sementara jenis sorgum tertentu juga mempunyai peluang dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku industri.

Karakter ini membuat pengembangan sorgum tidak harus berhenti pada persoalan berapa banyak tanaman yang ditanam. Nilai ekonominya akan semakin kuat apabila produksi di lahan terhubung dengan penanganan pascapanen, pengolahan, pengemasan, pemasaran dan kebutuhan konsumen.

Bagaimana Kondisi Sorgum NTT?

Data Satu Data NTT yang diperbarui pada Maret 2026 mencatat luas panen sorgum NTT pada 2025 sebesar 691,80 hektare, dengan produksi 934,20 ton. Produktivitas tercatat 13,50 kuintal per hektare atau sekitar 1,35 ton per hektare.

Angka tersebut menarik jika dibandingkan dengan 2024. Pada tahun itu luas panen tercatat 1.953 hektare dan produksi 1.700 ton, dengan produktivitas 8,70 kuintal per hektare. Artinya, produktivitas yang tercatat pada 2025 meningkat, tetapi luas panen dan total produksi justru lebih rendah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas saja belum cukup. Keberlanjutan luas pertanaman, ketersediaan benih, pendampingan budidaya, kepastian pasar dan pengolahan hasil menjadi bagian penting apabila sorgum ingin dikembangkan secara konsisten.

Contoh di tingkat lapangan juga menunjukkan potensi tersebut. Pada pertanaman sorgum Bio Guma 3 di Kelompok Tani Waring Woja, Kabupaten Timor Tengah Selatan, produktivitas yang dilaporkan pada 2026 mencapai sekitar 2,5 ton per hektare. Angka pada satu lokasi ini tentunya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh NTT, tetapi memberikan gambaran bahwa dengan varietas dan pengelolaan yang sesuai, produktivitas sorgum masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Dari Pangan Tradisional Menuju Produk Bernilai Tambah

Sorgum juga menarik karena dapat mengikuti perubahan pola konsumsi masyarakat. Setelah melalui proses penyosohan, bijinya dapat dimasak sebagai pangan sumber karbohidrat. Jika digiling menjadi tepung, pemanfaatannya dapat diperluas untuk berbagai makanan olahan.

BRMP Pascapanen bahkan telah mengembangkan teknologi tepung sorgum rendah tanin serta mi berbasis sorgum. Penanganan tanin penting karena kadar yang tinggi pada beberapa sorgum dapat memberikan rasa sepat atau pahit dan memengaruhi penerimaan konsumen. Teknologi pengolahan memungkinkan karakter tersebut dikurangi sehingga bahan baku lebih mudah dikembangkan menjadi produk pangan.

Sorgum secara alami juga tidak memiliki karakter gluten seperti gandum, sehingga membuka peluang pengembangan produk pangan untuk konsumen yang membutuhkan pilihan bebas gluten. Namun, karakter produk akhirnya tetap bergantung pada varietas, formulasi dan proses pengolahannya.

Dengan demikian, peluang sorgum tidak hanya berada pada penjualan biji hasil panen. Tepung sorgum, beras sorgum, mi, pangan ringan hingga berbagai produk olahan lainnya dapat membuka ruang bagi usaha pengolahan pangan lokal sekaligus memperpanjang rantai nilai hasil pertanian NTT.

Pengembangan Sorgum Perlu Terhubung dari Hulu hingga Hilir

Arah tersebut mulai terlihat dalam pengembangan sorgum di Kabupaten Kupang. Pada September 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT bersama pelaku usaha melakukan peninjauan pertanaman sorgum untuk melihat potensi pengembangan sekaligus memperkuat hubungan antara produksi petani, pengolahan dan pemasaran hasil.

Pendekatan seperti ini penting agar pengembangan sorgum tidak menghasilkan produksi tanpa kepastian pemanfaatan. Petani memerlukan pasar, sedangkan usaha pengolahan membutuhkan pasokan bahan baku yang memiliki jumlah, mutu dan kontinuitas yang memadai.

Di sisi konsumsi, pengenalan sorgum juga menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pangan masyarakat. Badan Pangan Nasional sebelumnya turut mendorong penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi lokal di NTT, termasuk pemanfaatan sorgum sebagai salah satu sumber pangan daerah.

Sorgum Bukan Sekadar Pengganti Beras

Pengembangan sorgum tidak harus ditempatkan sebagai upaya menggantikan beras atau jagung sepenuhnya. Justru kekuatan sorgum terletak pada kemampuannya menambah pilihan.

Semakin beragam sumber pangan yang dapat diproduksi dan dikonsumsi masyarakat, semakin luas pula pilihan untuk menyesuaikan pertanian dengan kondisi agroklimat masing-masing wilayah. Bagi NTT yang mempunyai karakter lahan dan iklim beragam, pendekatan tersebut dapat mendukung pemanfaatan lahan secara lebih adaptif sekaligus mempertahankan kekayaan pangan lokal.

Dari biji yang kecil, sorgum memiliki rantai pemanfaatan yang panjang: dari ladang petani menuju meja makan, pakan ternak, usaha pengolahan hingga produk bernilai tambah. Tantangannya sekarang adalah mempertemukan budidaya yang produktif, benih yang sesuai, teknologi pascapanen, konsumsi masyarakat dan pasar dalam satu rantai yang berkelanjutan.

Dengan pengembangan yang berbasis potensi wilayah dan diikuti kolaborasi petani, pemerintah, lembaga riset, dunia usaha serta masyarakat, sorgum dapat menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan pertanian lahan kering dan keberagaman pangan Nusa Tenggara Timur.

Post navigation

Previous Previous
Belajar dari Lahan, CPNS Distankp NTT Ikut Rawat Jagung Hibrida di Demplot Oepura
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search