Yuk, Intip Keseruan Fashion Show Pangan Lokal di CFD Kupang, Usung Tema “Dari Hulu ke Hilir”

KUPANG – Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 Tahun 2026 yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan El Tari, Kota Kupang, Sabtu (17/10/2026). Di tengah berbagai kegiatan edukasi dan promosi pangan lokal, sebuah fashion show bertema pertanian tampil dengan konsep kreatif yang memadukan hasil bumi, busana, dan pesan pembangunan pangan dari hulu hingga hilir.
Bukan sekadar memperagakan busana, para peserta tampil mengenakan beragam aksesori yang memanfaatkan komoditas pertanian, mulai dari jagung, padi, sayuran, buah-buahan, hingga aneka bahan alami lainnya. Sentuhan kain tenun bernuansa khas NTT turut melengkapi penampilan, menghadirkan perpaduan antara kreativitas, kekayaan pertanian, dan identitas budaya daerah.
Fashion show yang dikemas melalui konsep Mode Show Pangan Lokal NTT ini mengangkat tema besar “Dari Hulu ke Hilir, Pangan untuk Kesejahteraan”. Melalui empat pasangan peserta, berbagai komoditas pertanian ditampilkan sebagai bagian dari cerita perjalanan pangan, mulai dari pembibitan dan budidaya, penanganan hasil panen, hingga pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah.
Empat Tema Fashion Show, Empat Cerita tentang Pangan NTT
Keunikan fashion show ini terletak pada konsep yang dibawakan setiap pasangan. Masing-masing penampilan tidak hanya menonjolkan kreativitas busana, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya pengembangan pertanian yang terintegrasi dari proses produksi hingga menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Tema pertama mengangkat komoditas pisang, dengan cerita perjalanan dari benih sehat, proses budidaya, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga pemanenan dan pengolahan hasil. Melalui tema ini, pisang diperkenalkan bukan hanya sebagai buah untuk dikonsumsi langsung, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk olahan yang memiliki potensi nilai ekonomi.
Tema kedua mengangkat swasembada pangan melalui komoditas padi dan jagung. Penampilan ini menggambarkan pentingnya peran petani dalam menghasilkan bahan pangan, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, hingga panen dan penanganan pascapanen. Aksesori berupa jagung, padi, dan perlengkapan pertanian menjadi simbol kerja keras petani dalam menjaga ketersediaan pangan.
Tema ketiga menampilkan hortikultura dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dengan pesan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Beragam sayuran, cabai, bawang, dan hasil pekarangan menjadi inspirasi penampilan yang mengajak masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Melalui pemanfaatan pekarangan produktif, keluarga berpeluang memperoleh bahan pangan segar, mendukung konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), sekaligus mendapatkan tambahan penghasilan apabila hasil produksi melebihi kebutuhan sendiri.
Sementara itu, tema keempat mengangkat kopi dan kakao sebagai komoditas perkebunan bernilai ekonomi. Konsep ini memperkenalkan pentingnya menjaga kualitas hasil pertanian, memperbaiki penanganan pascapanen, serta mengembangkan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran agar produk lokal NTT memiliki daya saing dan peluang pasar yang lebih luas.
Keempat tema tersebut menggambarkan bahwa pertanian tidak berhenti ketika hasil panen diperoleh. Masih terdapat proses pengolahan dan pengembangan usaha yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku UMKM.
Ketika Hasil Bumi Menjadi Media Edukasi yang Kreatif
Fashion show pangan lokal menjadi salah satu kegiatan yang memberikan suasana berbeda dalam peringatan HPS ke-46 di kawasan CFD Kupang.
Dengan memanfaatkan hasil pertanian sebagai elemen busana dan aksesori, kegiatan ini menghadirkan cara yang lebih menarik untuk memperkenalkan potensi pangan lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Jagung tidak hanya dilihat sebagai bahan pangan, sayuran tidak hanya menjadi kebutuhan dapur, dan buah-buahan tidak hanya menjadi hasil panen. Seluruh komoditas tersebut juga dapat menjadi inspirasi kreativitas untuk menyampaikan pesan tentang pertanian dan ketahanan pangan.
Penampilan para peserta turut memperlihatkan bagaimana kekayaan hasil bumi NTT dapat dipadukan dengan unsur budaya lokal. Penggunaan kain bermotif khas daerah dan aksesori berbahan alami menjadi pengingat bahwa sektor pertanian memiliki hubungan erat dengan kehidupan, tradisi, dan identitas masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan wajah pertanian yang kreatif dan dekat dengan keseharian masyarakat. Melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan, pesan tentang pentingnya menanam, mengolah hasil, mengonsumsi pangan lokal, dan mendukung produk daerah dapat disampaikan kepada berbagai kalangan.
Dari Kreativitas Menuju Penguatan Pangan Lokal NTT
Fashion show ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HPS ke-46 yang juga menghadirkan Gerakan Pangan Murah, pameran produk pertanian, promosi UMKM pangan lokal, edukasi pertanian, serta berbagai pelayanan bagi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendorong pemahaman bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada kualitas, pengolahan, pemasaran, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Pendekatan dari hulu hingga hilir menjadi penting untuk memperkuat hubungan antara petani, pelaku pengolahan, UMKM, dan konsumen. Dengan pengelolaan yang lebih baik, hasil pertanian lokal berpeluang memperoleh nilai tambah, memperluas akses pasar, serta mendukung sistem pangan daerah yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar hiburan, fashion show pangan lokal pada peringatan HPS 2026 menjadi ruang edukasi yang menghubungkan kreativitas, budaya, dan potensi pertanian NTT.
Melalui keterlibatan berbagai pihak dan pemanfaatan sumber daya lokal, semangat membangun ketahanan pangan diharapkan terus berkembang menjadi langkah nyata untuk memperkuat kemandirian pangan, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
