Seminar GMKI Kupang Soroti Dampak El Niño terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT

KUPANG – Dampak fenomena El Niño terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, dan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian dalam Seminar GMKI Kupang yang mengangkat tema “Tiga Pintu Mendukung Satu Desa: Pemerintah, Masyarakat Sipil, dan Gereja Menghadapi El Niño”. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.(22/10/2026)
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, SP, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Konsultasi Studi Lokal (KSL) dan Konferensi Cabang (Konfercab) XXX Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang. Rangkaian KSL dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang.
Seminar tersebut mempertemukan unsur pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk membahas berbagai tantangan pembangunan daerah, terutama ancaman kekeringan yang berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian dan ketersediaan pangan masyarakat.
Dalam pemaparan materinya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menyajikan gambaran situasi pertanian dan ketahanan pangan daerah, termasuk potensi lahan pertanian serta berbagai tantangan yang perlu dihadapi untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa menghadapi El Niño tidak hanya berkaitan dengan upaya mengatasi kekurangan air, tetapi juga membutuhkan perencanaan pertanian yang adaptif, pemanfaatan teknologi, serta kerja sama berbagai pihak hingga tingkat desa.
Dampak El Niño terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT
Fenomena El Niño merupakan salah satu faktor iklim yang dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk NTT. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena sebagian kegiatan pertanian masyarakat masih bergantung pada ketersediaan air hujan.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada dasarian pertama Oktober 2026, indeks ENSO periode Agustus–September–Oktober tercatat sebesar +3,08 yang menunjukkan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Sementara itu, prediksi musim hujan 2026/2027 menunjukkan bahwa 27 dari 28 Zona Musim (ZOM) di NTT diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026. Sebanyak 26 ZOM diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal.
Situasi ini menjadi perhatian penting bagi petani, terutama dalam menentukan waktu tanam padi, jagung, dan komoditas pangan lainnya. Keterlambatan musim hujan dapat memengaruhi kesiapan lahan, ketersediaan air, pertumbuhan tanaman, hingga potensi hasil panen.
Menghadapi kondisi tersebut, langkah adaptasi perlu diperkuat melalui penyesuaian kalender tanam berdasarkan informasi iklim, pengelolaan sumber air secara efisien, pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah, serta pemanfaatan teknologi budidaya yang mendukung ketahanan tanaman terhadap kekeringan.
Pendampingan penyuluh pertanian dan pemanfaatan informasi cuaca juga menjadi bagian penting agar petani dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi iklim dan ketersediaan air di wilayah masing-masing.
Kolaborasi Tiga Pintu untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Desa
Tema seminar yang mengangkat konsep tiga pintu, yaitu pemerintah, masyarakat sipil, dan gereja, menekankan pentingnya keterlibatan berbagai unsur dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Pemerintah berperan melalui penyusunan kebijakan, penguatan program pertanian, penyediaan sarana pendukung, serta pelayanan dan pendampingan kepada petani. Upaya tersebut perlu didukung oleh partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air, pengembangan pertanian lokal, dan pemanfaatan lahan produktif.
Sementara itu, organisasi masyarakat sipil, termasuk mahasiswa dan kelompok pemuda, dapat berkontribusi melalui edukasi, penyebarluasan informasi, pengembangan inovasi, serta kegiatan pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.
Gereja, sebagai lembaga yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat, juga mempunyai ruang untuk mendukung penguatan kesadaran lingkungan, pemanfaatan pekarangan produktif, dan pengembangan pangan keluarga.
Kolaborasi tersebut menjadi relevan bagi NTT yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan kondisi pertanian dan ketersediaan sumber daya air yang beragam. Pendekatan bersama diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan potensi wilayahnya sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan pola musim.
Keterlibatan mahasiswa GMKI dalam seminar ini turut memperluas ruang partisipasi generasi muda untuk memahami tantangan pertanian dan ketahanan pangan serta mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Melalui diskusi dan pertukaran pengetahuan, persoalan perubahan iklim tidak hanya dilihat sebagai tantangan lingkungan, tetapi juga sebagai isu yang berkaitan dengan kesejahteraan petani, keberlanjutan produksi pertanian, dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Mendorong Pertanian Adaptif dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Seminar GMKI Kupang menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan perspektif pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan El Niño. Penguatan ketahanan pangan membutuhkan langkah yang terencana, mulai dari pengelolaan lahan dan air, pemanfaatan teknologi pertanian, hingga pengembangan komoditas pangan lokal yang sesuai dengan kondisi agroklimat NTT.
Peningkatan produktivitas pertanian juga perlu berjalan seiring dengan efisiensi pemanfaatan sarana produksi, penguatan akses petani terhadap informasi, serta upaya menjaga kelancaran distribusi hasil pertanian agar ketersediaan pangan masyarakat tetap terdukung.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, lembaga keagamaan, akademisi, dan generasi muda, berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian diharapkan dapat ditangani melalui pendekatan yang lebih terpadu dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Partisipasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT dalam Seminar GMKI Kupang sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi publik mengenai perubahan iklim dan pentingnya ketahanan pangan.
Dengan memperkuat kerja sama lintas sektor, pemanfaatan potensi pertanian lokal, serta penerapan teknologi dan informasi iklim secara tepat, pembangunan pertanian NTT diharapkan semakin adaptif, produktif, dan mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.
