BMKG: Musim Kemarau Masih Berlangsung di NTT, Masyarakat dan Petani Diimbau Waspada Kebakaran Lahan
KUPANG, 26 Oktober 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk periode 24–26 Oktober 2026. Berdasarkan informasi tersebut, tidak terdapat wilayah di NTT yang masuk kategori peringatan dini hujan sedang hingga ekstrem maupun angin kencang. Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca kering yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Dalam informasi yang diterbitkan pada Sabtu (24/10/2026), BMKG menjelaskan bahwa angin monsun timur masih aktif dan menyebabkan musim kemarau tetap berlangsung di wilayah NTT. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, serta kawasan yang memiliki vegetasi kering.
BMKG juga mengingatkan potensi angin kering yang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran pada lahan pertanian, padang rumput, maupun kawasan hutan.
Tidak Ada Peringatan Hujan Ekstrem, Kondisi Kering Tetap Perlu Diwaspadai
Berdasarkan dokumen peringatan dini Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, seluruh kategori peringatan cuaca pada 24, 25, dan 26 Oktober 2026 tercatat nihil atau NIL.
Kategori tersebut meliputi status Waspada untuk hujan sedang hingga lebat, Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat, Awas untuk hujan sangat lebat hingga ekstrem, serta peringatan dini angin kencang.
Informasi ini berlaku untuk setiap periode 24 jam, mulai pukul 08.00 WITA hingga pukul 08.00 WITA pada hari berikutnya.
Meskipun tidak terdapat wilayah yang masuk dalam kategori peringatan dini tersebut, kondisi musim kemarau yang masih berlangsung tidak dapat diabaikan.
Situasi ini sejalan dengan prakiraan cuaca nasional BMKG periode 23–29 Oktober 2026 yang menunjukkan bahwa kondisi panas dan relatif kering masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Minimnya curah hujan dan berkurangnya kadar air pada vegetasi dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Petani NTT Perlu Mengantisipasi Kekeringan dan Risiko Kebakaran Lahan
Bagi sektor pertanian NTT, kondisi cuaca kering menjadi salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan kegiatan budidaya, terutama menjelang musim tanam.
Keterbatasan air dapat memengaruhi pengolahan lahan, pertumbuhan tanaman, dan keberhasilan penanaman apabila tidak diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air yang tepat.
Petani diimbau memperhatikan kondisi kelembapan tanah, memastikan ketersediaan sumber air, serta menyesuaikan jadwal penanaman dengan perkembangan prakiraan cuaca dan informasi musim dari BMKG.
Selain itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, termasuk saat membersihkan sisa tanaman atau mempersiapkan lahan pertanian. Vegetasi yang mengering akibat kemarau dapat menjadi bahan yang mudah terbakar, terlebih ketika disertai hembusan angin.
Langkah pencegahan juga penting dilakukan di kawasan peternakan, khususnya padang penggembalaan yang memiliki banyak rumput kering. Kebakaran pada kawasan tersebut dapat mengurangi ketersediaan hijauan pakan ternak sekaligus mengganggu aktivitas peternakan masyarakat.
BMKG secara nasional juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghemat penggunaan air, meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan, serta menghindari aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.
Informasi Cuaca Menjadi Dasar Perencanaan Pertanian yang Adaptif
Pemanfaatan informasi cuaca dan iklim menjadi bagian penting dalam membangun sektor pertanian NTT yang lebih tangguh menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Melalui pemantauan prakiraan cuaca secara berkala, petani dan penyuluh pertanian dapat memperoleh bahan pertimbangan dalam menentukan waktu pengolahan lahan, memilih komoditas yang sesuai, mengatur kebutuhan air, hingga merencanakan kegiatan penanaman.
Penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, penyuluh pertanian, dan kelompok tani juga diperlukan agar informasi cuaca dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dalam jangka panjang, pengelolaan air yang efisien, penerapan teknologi pertanian adaptif terhadap iklim, serta penguatan pemanfaatan informasi meteorologi di tingkat petani diharapkan dapat mendukung keberlanjutan produksi pertanian dan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur.
Masyarakat dapat mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui situs resmi BMKG maupun aplikasi InfoBMKG.
Dengan kewaspadaan bersama dan pemanfaatan informasi cuaca yang tepat, risiko kerugian akibat kekeringan dan kebakaran lahan diharapkan dapat diminimalkan, sekaligus menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian, peternakan, dan penghidupan masyarakat NTT.
