Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Jahe Emprit dan Jahe Gajah Kelimutu: Potensi Agribisnis Ende Menuju Pasar Ekspor

June 24, 2026June 24, 2026 Artikel
Jahe Emprit dan Jahe Gajah Kelimutu Potensi Agribisnis Ende Menuju Pasar Ekspor

Kabupaten Ende memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas hortikultura, khususnya jahe emprit dan jahe gajah yang ada di kaki gunung kelimutu. Potensi ini terlihat dari kegiatan panen raya jahe di wilayah kaki Gunung Kelimutu yang melibatkan petani, pemerintah daerah, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta tim proyek HDDAP.

Wilayah ini memiliki tanah yang subur, iklim yang mendukung, dan pengalaman petani yang sudah terbentuk secara alami. Para petani tidak memulai dari nol. Mereka telah menanam jahe secara swadaya, mengenal karakter tanaman, memahami pola budidaya, dan mulai membangun jaringan pasar. Kondisi tersebut membuat intervensi program pengembangan menjadi lebih mudah dilakukan.

Dalam transkrip video, kegiatan panen raya ini disebut berlangsung di kawasan pengembangan jahe yang berada di kaki Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende. Komoditas yang dipanen meliputi jahe emprit dan jahe gajah. Kedua jenis jahe tersebut dinilai memiliki peluang ekonomi yang besar, baik untuk pasar lokal, pasar nasional, maupun pasar ekspor.

Petani Sudah Bergerak Sebelum Program Masuk

Salah satu kekuatan utama pengembangan jahe di Ende adalah inisiatif petani. Mereka sudah menanam jahe sebelum program HDDAP hadir. Bahkan, sebagian petani mulai menanam karena melihat tingginya permintaan pasar, terutama dari wilayah Jawa dan luar negeri.

Dalam penjelasan petani, kebutuhan pasar terhadap jahe cukup tinggi. Permintaan tersebut sempat meningkat pada masa pandemi Covid-19, terutama untuk kebutuhan bahan herbal dan rempah. Kondisi itu mendorong petani lokal untuk memperluas penanaman jahe.

Lahan potensial yang dikelola mencapai sekitar 300 hektare. Dari jumlah tersebut, sebagian sudah mulai dikelola dan sebagian lain masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Fakta ini menunjukkan bahwa Ende tidak hanya memiliki produksi awal, tetapi juga ruang ekspansi yang cukup luas.

Jahe Ende Punya Peluang Masuk Pasar Ekspor

Jahe dari kawasan Kelimutu disebut memiliki peluang masuk pasar ekspor. Beberapa tujuan pasar yang muncul dalam percakapan antara petani dan pihak terkait antara lain Eropa, Belanda, Abu Dhabi, serta pasar nasional melalui Surabaya dan Jakarta.

Namun, pasar ekspor memiliki standar yang ketat. Jahe yang dikirim harus memiliki ukuran tertentu, bersih, tidak patah, segar, dan memenuhi standar kualitas. Untuk jahe gajah, permintaan pasar ekspor disebut membutuhkan rimpang dengan ukuran besar, bahkan di atas 100 gram. Sementara itu, jahe yang patah atau rusak dapat menurunkan nilai jual.

Masalah ini menjadi perhatian penting. Jahe yang bagus di kebun belum tentu tetap bernilai tinggi jika rusak saat proses pengangkutan. Karena itu, kualitas pascapanen menjadi faktor penting dalam rantai agribisnis jahe Ende.

Jalan Usaha Tani Menjadi Kendala Utama

Salah satu persoalan besar yang dihadapi petani adalah akses jalan usaha tani. Petani menyebut bahwa jahe sering rusak saat diangkut dari kebun. Kondisi jalan yang belum memadai membuat petani harus menggunakan ojek untuk membawa hasil panen. Akibatnya, rimpang jahe berisiko patah, memar, atau rusak sebelum sampai ke gudang.

Biaya angkut juga menjadi beban tersendiri. Semakin jauh lokasi kebun, semakin tinggi biaya transportasi yang harus dibayar petani. Dalam kondisi tertentu, biaya angkut dapat mengurangi keuntungan petani secara signifikan.

Bagi petani, jalan usaha tani bukan sekadar fasilitas tambahan. Jalan menjadi syarat utama agar produksi jahe dapat masuk ke pasar dengan kualitas baik. Tanpa jalan yang layak, peluang ekspor akan sulit dicapai meskipun hasil panen melimpah.

HDDAP Diharapkan Memperkuat Hulu Sampai Hilir

Kehadiran HDDAP menjadi harapan baru bagi petani jahe di Kabupaten Ende. Program ini diarahkan untuk mendukung pengembangan komoditas dari hulu sampai hilir. Artinya, bantuan tidak hanya berhenti pada budidaya, tetapi juga mencakup pascapanen, pengolahan, kelembagaan, pemasaran, dan peningkatan nilai tambah.

Beberapa bentuk dukungan yang pemerintah berikan meliputi pembinaan petani, bimbingan teknis, bantuan alat dan mesin pertanian, dukungan irigasi, bangsal pascapanen, solar dryer dome, serta fasilitas untuk pengolahan produk turunan jahe.

Program ini juga diharapkan dapat membantu petani meningkatkan kualitas produksi. Dengan teknologi yang lebih baik, jahe dapat diproses secara lebih higienis, dikeringkan dengan standar yang lebih terukur, dan dipasarkan dalam bentuk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Hilirisasi Jahe Membuka Peluang UMKM

Jahe tidak harus dijual hanya dalam bentuk rimpang segar. Komoditas ini dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Beberapa produk yang dapat diolah antara lain simplisia, bubuk jahe, bumbu, minuman herbal, serta campuran produk berbasis rempah seperti serai dan kayu manis.

Hilirisasi menjadi langkah penting karena tidak semua jahe memenuhi standar pasar rimpang segar. Jahe yang tidak masuk grade ekspor masih dapat diolah menjadi produk lain. Dengan cara ini, petani dan pelaku UMKM tetap bisa memperoleh nilai ekonomi dari hasil panen yang tidak memenuhi standar bentuk atau ukuran.

Dukungan alat pengolahan sangat dibutuhkan. Pelaku UMKM membutuhkan peralatan yang higienis, aman, dan sesuai standar. Peralatan berbahan stainless menjadi penting agar produk olahan dapat memenuhi tuntutan kebersihan dan keamanan pangan.

Sertifikasi Benih Perlu Diperkuat

Selain infrastruktur dan pascapanen, sertifikasi benih juga menjadi perhatian. Petani telah memiliki sumber benih lokal dan penangkar benih. Namun, penguatan sertifikasi tetap diperlukan agar benih yang digunakan memiliki legalitas dan kualitas yang jelas.

Sertifikasi memberi kepastian bagi petani, pembeli, dan calon investor. Benih yang tersertifikasi juga membantu menjaga konsistensi mutu tanaman. Dalam jangka panjang, langkah ini dapat memperkuat posisi Ende sebagai kawasan produksi jahe yang terpercaya.

Kelembagaan Petani Menjadi Kunci

Pengembangan jahe skala besar tidak dapat berjalan hanya dengan pola individu. Petani perlu memperkuat kelembagaan agar produksi, pengolahan, keuangan, dan pemasaran dapat dikelola secara profesional.

Kelembagaan ekonomi petani dapat membantu menyatukan produksi, menjaga standar kualitas, mengatur jadwal tanam, memperkuat posisi tawar, dan membuka akses pasar yang lebih luas. Dengan kelembagaan yang kuat, petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga bagian dari sistem agribisnis yang lebih modern.

Ende Berpotensi Menjadi Sentra Jahe Berdaya Saing

Panen raya jahe emprit dan jahe gajah di kaki Gunung Kelimutu menunjukkan bahwa Kabupaten Ende memiliki modal dasar yang kuat. Petani sudah memiliki pengalaman budidaya. Lahan masih tersedia. Permintaan pasar terbuka. Produk turunan juga memiliki peluang besar.

Namun, potensi tersebut perlu dikelola secara serius. Tantangan utama berada pada akses jalan usaha tani, fasilitas pascapanen, alat pengolahan higienis, sertifikasi benih, sistem irigasi, dan kelembagaan petani.

Jika dukungan HDDAP berjalan tepat sasaran, jahe Kelimutu Ende dapat berkembang menjadi komoditas unggulan daerah. Tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga untuk memperkuat ekonomi lokal, membuka peluang UMKM, dan mendorong produk pertanian Ende menuju pasar ekspor.

Kesimpulan

Jahe emprit dan jahe gajah di Kabupaten Ende memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Kawasan kaki Gunung Kelimutu menyimpan potensi besar sebagai sentra produksi jahe berbasis agribisnis. Dukungan HDDAP dapat menjadi titik masuk penting untuk memperbaiki sistem budidaya, pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan kelembagaan petani.

Dengan pengelolaan yang tepat, jahe Ende tidak hanya menjadi hasil panen lokal. Komoditas ini dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.

Post navigation

Previous Previous
Balai Perhutanan Sosial Kupang Perkuat Kolaborasi FAPE-PS: Lahan hingga Off-Taker
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search