Pengembangan Trichoderma Sikka Perkuat Pengendalian Hayati di LL Sikka dan Sub Lab Nita

Kupang, 9 Juli 2026 – Pengembangan Trichoderma Sikka terus dilakukan oleh UPTD PKDLHP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT. Kegiatan ini dilaksanakan melalui Laboratorium Lapangan Sikka dan Sub Laboratorium Nita pada 8 Juli 2026. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan layanan laboratorium hayati dan penerapan teknologi ramah lingkungan di lapangan.
Kegiatan tersebut mencakup pengamatan isolat Trichoderma Sikka, sterilisasi alat dan ruangan, serta perbanyakan massal Trichoderma. Perbanyakan dilakukan menggunakan media beras dan serbuk gergaji sebagai bahan pendukung pertumbuhan agens hayati. Selain itu, petugas juga melakukan aplikasi starter Trichoderma pada kebun pepaya dan cabai.
Penguatan Laboratorium Hayati
Laboratorium hayati memiliki peran penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Melalui laboratorium, mikroorganisme bermanfaat dapat diamati, diperbanyak, dan dimanfaatkan secara lebih terarah. Salah satunya adalah Trichoderma, yaitu cendawan antagonis yang banyak digunakan dalam pengendalian hayati.
Secara ilmiah, Trichoderma dikenal mampu membantu menekan perkembangan patogen tanah. Mekanismenya dapat terjadi melalui kompetisi ruang, kompetisi nutrisi, antibiosis, dan mikoparasitisme. Karena itu, Trichoderma sering digunakan untuk mendukung kesehatan akar dan keseimbangan mikroba tanah.
Dalam kegiatan ini, pengamatan isolat Trichoderma Sikka menjadi tahap awal yang sangat penting. Pengamatan dilakukan untuk memastikan kondisi isolat tetap baik dan layak diperbanyak. Tahap ini juga membantu menjaga mutu agens hayati sebelum digunakan di tingkat lapangan.
Sterilisasi dan Perbanyakan Massal Trichoderma
Sterilisasi alat, bahan, dan ruangan menjadi bagian penting dalam proses kerja laboratorium. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko kontaminasi dari mikroorganisme lain. Dengan kondisi steril, pertumbuhan Trichoderma dapat berlangsung lebih optimal.
Perbanyakan massal dilakukan menggunakan media beras dan serbuk gergaji. Beras berfungsi sebagai sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan cendawan. Sementara itu, serbuk gergaji dapat menjadi media organik pendukung bagi perkembangan biomassa mikroba.
Proses perbanyakan seperti ini membutuhkan ketelitian, kebersihan, dan pengawasan berkala. Kadar air, kebersihan media, dan lama inkubasi perlu diperhatikan. Dengan pengelolaan yang tepat, hasil perbanyakan dapat dimanfaatkan sebagai starter untuk aplikasi lapangan.
Aplikasi Lapangan dan Pengamatan Hama
Aplikasi starter Trichoderma dilakukan pada kebun pepaya dan cabai. Kegiatan ini menjadi penghubung antara kerja laboratorium dan kebutuhan petani di lapangan. Melalui aplikasi tersebut, agens hayati diharapkan dapat beradaptasi pada lingkungan tumbuh tanaman.
Pemanfaatan Trichoderma di lahan pertanian mendukung prinsip pengendalian hama terpadu. Pendekatan ini tidak hanya bergantung pada bahan kimia sintetis. Sebaliknya, pengendalian dilakukan melalui kombinasi cara biologis, teknis, dan budidaya sehat.
Selain itu, petugas juga melakukan pemisahan larva dan pupa Brontispae. Tahap ini penting untuk mengenali fase perkembangan hama secara lebih jelas. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengamatan populasi dan tindakan pengendalian berikutnya.
Nilai Edukasi bagi Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan di LL Sikka dan Sub Lab Nita tidak hanya bersifat teknis. Kegiatan ini juga memiliki nilai edukasi bagi petugas, penyuluh, dan kelompok tani. Mereka dapat memahami cara kerja agens hayati dari laboratorium hingga aplikasi di lahan.
Melalui Pengembangan Trichoderma Sikka, petani dapat diperkenalkan pada teknologi pertanian yang lebih ramah lingkungan. Teknologi ini membantu mengurangi ketergantungan terhadap input kimia berlebihan. Pada saat yang sama, kesehatan tanah dapat dijaga secara bertahap.
Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Laboratorium hayati menjadi pusat pembelajaran, pengujian, dan penyediaan solusi berbasis sumber daya lokal. Dengan demikian, inovasi pertanian dapat lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kesimpulan
Kegiatan UPTD PKDLHP melalui Laboratorium Lapangan Sikka dan Sub Laboratorium Nita menunjukkan komitmen dalam memperkuat pengendalian hayati. Pengamatan isolat, sterilisasi, perbanyakan massal, aplikasi starter, dan pengamatan hama menjadi rangkaian kerja yang saling mendukung.
Melalui Pengembangan Trichoderma Sikka, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mendorong penerapan teknologi hayati yang edukatif dan aplikatif. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pertanian yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
