Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Hama pada Tanaman Jagung: Jenis, Gejala, dan Pengendalian

July 21, 2026July 21, 2026 Artikel
Hama pada Tanaman Jagung Jenis, Gejala, dan Pengendalian

Hama pada tanaman jagung dapat menyerang sejak tanaman tumbuh hingga tongkol mendekati panen. Serangan berat mampu menghambat pertumbuhan dan menurunkan kualitas hasil. Setiap hama jagung memiliki lokasi serangan dan gejala yang berbeda. Karena itu, petani perlu memeriksa daun, batang, titik tumbuh, bunga, dan tongkol.

Identifikasi yang tepat membantu petani menentukan tindakan pengendalian. Kesalahan identifikasi sering menyebabkan pemborosan biaya dan kegagalan pengendalian.

Pada artikel ini kita akan membahas 5 hama tanaman jagung yang perlu mendapat perhatian karena sering menyerang bagian tanaman dan fase pertumbuhan yang berbeda.

Perbedaan Hama dan Penyakit Tanaman Jagung

Petani perlu membedakan hama dan penyakit tanaman jagung sebelum mengambil tindakan. Hama berasal dari organisme seperti serangga, tungau, dan hewan pengerat. Sebaliknya, jamur, bakteri, virus, atau organisme sejenis memicu penyakit. Faktor lingkungan juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai penyakit.

Serangan hama pada jagung biasanya meninggalkan bekas gigitan, lubang gerekan, kotoran larva, madu embun, atau serangga hidup. Penyakit biasanya menimbulkan bercak, pustula, pembusukan, perubahan warna, atau pertumbuhan abnormal. Namun, diagnosis lapangan tetap memerlukan pengamatan menyeluruh.

5 Hama pada Tanaman Jagung: Jenis, Gejala, dan Pengendalian

Sebagian hama pada tanaman jagung hidup terlindung dalam pucuk, batang, atau tongkol. Kondisi tersebut menyulitkan pengendalian setelah larva masuk. Pemantauan membantu petani menemukan telur dan larva muda. Pada fase tersebut, pengendalian mekanis, hayati, dan kimia lebih efektif.

Petani juga perlu memahami ambang pengendalian. Istilah ini menunjukkan tingkat serangan yang memerlukan tindakan untuk mencegah kerugian ekonomi. Pengamatan sebaiknya mencatat jumlah tanaman terserang, larva hidup, kelompok telur, dan musuh alami. Catatan tersebut mendukung keputusan yang lebih tepat.

Berikut ini 5 Hama pada Tanaman Jagung yang perlu kita ketahui lengkap dengan jenis, gejala, dan Pengendaliannya.

1. Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)

Ulat grayak jagung merupakan serangga invasif dari famili Noctuidae. Larva menyerang daun, pucuk, bunga jantan, dan kadang tongkol.

Ulat muda mengikis permukaan daun. Ulat besar memakan jaringan daun dan meninggalkan lubang tidak beraturan.

Larva mempunyai tanda menyerupai huruf Y terbalik pada kepala. Empat titik gelap membentuk pola persegi pada bagian belakang tubuh.

Kementerian Pertanian mencatat penyebaran S. frugiperda pada berbagai wilayah Indonesia. Hama ini dapat menyerang daun, batang, bunga, buah, dan titik tumbuh jagung. Kementerian Pertanian

Gejala Hama Ulat Grayak Jagung

Beberapa gejala hama ulat grayak jagung dapat terlihat sejak tanaman berumur muda, antara lain:

  1. Ulat muda menghasilkan bercak transparan menyerupai jendela pada daun.
  2. Ulat besar menghasilkan lubang lebar dan tidak beraturan.
  3. Larva memusatkan serangan pada pucuk atau gulungan daun.
  4. Kotoran larva menumpuk pada pucuk dan menyerupai serbuk gergaji basah.
  5. Serangan berat merusak titik tumbuh dan menghambat pembentukan daun baru.
  6. Daun yang membuka menunjukkan pola lubang berderet.

Petani dapat mengenali hama ulat grayak pada jagung melalui kombinasi ciri tubuh dan kerusakan. Satu ciri saja belum cukup untuk memastikan spesies.

Frass merupakan istilah ilmiah untuk kotoran larva dan sisa jaringan tanaman. Jumlah frass biasanya meningkat seiring pertumbuhan larva.

Cara Mengatasi Ulat Grayak pada Jagung

Penerapan cara mengatasi ulat grayak pada jagung perlu mengikuti prinsip Pengelolaan Hama Terpadu atau PHT. Berikut ini beberapa langkah cara mengatasi ulat grayak pada tanaman jagung:

  1. Periksa tanaman sejak daun pertama muncul.
  2. Periksa bagian bawah daun untuk menemukan kelompok telur.
  3. Musnahkan kelompok telur dan larva muda secara manual.
  4. Pertahankan predator, parasitoid, dan serangga bermanfaat lainnya.
  5. Gunakan benih sehat dan lakukan pemupukan berimbang.
  6. Hindari pemberian nitrogen secara berlebihan.
  7. Pilih biopestisida yang sesuai untuk larva muda.
  8. Arahkan aplikasi menuju pucuk tempat larva bersembunyi.
  9. Gunakan insektisida kimia hanya setelah pengamatan mendukung tindakan tersebut.
  10. Ikuti dosis, interval, sasaran, dan masa tunggu pada label.

Program pengendalian ulat grayak pada tanaman jagung perlu mengutamakan larva muda. Larva besar lebih tahan dan mampu bersembunyi dalam pucuk.

Produk berbasis Bacillus thuringiensis dapat membantu mengendalikan larva muda. Namun, petani harus memilih produk yang memiliki izin untuk jagung. Jamur entomopatogen juga dapat mendukung pengendalian. Mikroorganisme tersebut menginfeksi serangga tanpa merusak jaringan tanaman.

FAO menyarankan pemantauan rutin, perlindungan musuh alami, dan tindakan berbasis kondisi lapangan. Panduan FAO tentang pengelolaan ulat grayak

2. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)

Hama penggerek batang jagung menyerang daun, bunga jantan, batang, tangkai tongkol, dan tongkol. Larva muda memakan daun sebelum masuk ke batang.

Setelah masuk, larva membuat saluran gerekan dalam jaringan. Saluran tersebut mengganggu distribusi air dan nutrisi. Batang yang rusak mudah patah atau rebah. Kerusakan juga dapat menghambat pengisian biji.

GBIF menerima Ostrinia furnacalis sebagai nama spesies yang sah. Spesies ini juga dikenal sebagai Asian corn borer. Data taksonomi GBIF

Gejala Hama Penggerek Batang Jagung

Petani dapat mengenali gejala hama penggerek batang jagung melalui tanda-tanda berikut:

  1. Daun muda memiliki lubang kecil yang tersusun berderet.
  2. Larva merusak bunga jantan sebelum memasuki batang.
  3. Batang memiliki lubang gerekan yang mengeluarkan serbuk.
  4. Jaringan dalam batang membentuk lorong berwarna kecokelatan.
  5. Batang atau bunga jantan mudah patah.
  6. Tanaman mengalami pertumbuhan tidak seragam.
  7. Tongkol menjadi kecil akibat gangguan distribusi nutrisi.

Lubang pada daun biasanya muncul setelah daun membuka. Pola tersebut terbentuk ketika larva melubangi daun yang masih menggulung.

Pengendalian Hama Penggerek Batang Jagung

Strategi pengendalian hama penggerek batang jagung harus menargetkan telur dan larva muda. Insektisida sulit menjangkau larva dalam batang. Berikut ini langkah pengendalian hama penggerek batang pada jagung:

  1. Atur waktu tanam secara serempak pada satu kawasan.
  2. Hindari perbedaan umur tanaman yang terlalu jauh.
  3. Lakukan rotasi dengan tanaman bukan inang.
  4. Terapkan tumpang sari yang sesuai dengan kondisi lahan.
  5. Potong dan kelola sisa batang setelah panen.
  6. Gunakan perangkap feromon untuk memantau ngengat jantan.
  7. Lindungi parasitoid telur seperti Trichogramma.
  8. Gunakan agen hayati yang memiliki izin resmi.
  9. Aplikasikan insektisida sebelum larva memasuki batang.

Dokumen prakiraan OPT Kementerian Pertanian mencantumkan ambang satu larva per tanaman. Dokumen itu juga mencantumkan satu kelompok telur pada 30 tanaman. Petugas setempat perlu menyesuaikan ambang dengan varietas, umur tanaman, dan kondisi wilayah. Prakiraan OPT tanaman pangan Kementerian Pertanian

3. Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera)

Hama penggerek tongkol jagung biasanya menyerang saat tanaman membentuk rambut tongkol. Ngengat betina meletakkan telur pada rambut tersebut. Larva muda memakan rambut sebelum bergerak menuju ujung tongkol. Selanjutnya, larva memakan biji jagung yang masih muda.

Kerusakan larva membuka jalan bagi jamur dan bakteri. Akibatnya, tongkol dapat membusuk dan kehilangan kualitas.

GBIF mencatat Helicoverpa armigera sebagai spesies yang sah dalam famili Noctuidae. Data taksonomi GBIF

Gejala Hama Penggerek Tongkol Jagung

Beberapa gejala hama penggerek tongkol jagung meliputi tanda-tanda berikut:

  1. Rambut tongkol tampak terpotong atau rusak.
  2. Ujung tongkol memiliki bekas gerekan.
  3. Kotoran larva menumpuk di sekitar ujung tongkol.
  4. Larva memakan biji dari bagian atas menuju bagian dalam.
  5. Biji muda berlubang, rusak, atau gagal berkembang.
  6. Tongkol menunjukkan pembusukan setelah serangan berat.

Larva H. armigera memiliki sifat kanibal. Karena itu, petani sering menemukan satu larva besar pada satu tongkol.

Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung

Program pengendalian hama penggerek tongkol jagung perlu dimulai sebelum larva masuk ke tongkol. Berikut ini langkah-langkah pengendaliannya:

  1. Pantau tanaman sejak rambut tongkol muncul.
  2. Ambil telur dan larva muda secara manual pada lahan kecil.
  3. Kumpulkan tongkol rusak yang menjadi sumber larva.
  4. Olah tanah setelah panen untuk mengganggu pupa.
  5. Manfaatkan parasitoid telur dari kelompok Trichogramma.
  6. Gunakan biopestisida untuk larva muda.
  7. Pilih insektisida yang terdaftar untuk jagung dan hama sasaran.
  8. Hindari aplikasi saat lebah aktif mengunjungi bunga.
  9. Ikuti masa tunggu panen yang tercantum pada label.

Kementerian Pertanian mencantumkan ambang tiga tongkol rusak dari 50 tanaman saat bunga mulai terbentuk. Petani tetap perlu mengikuti rekomendasi petugas setempat.

4. Lalat Bibit (Atherigona exigua)

Hama lalat bibit pada jagung menyerang tanaman saat fase awal pertumbuhan. Serangan berat dapat mengurangi jumlah tanaman produktif. Lalat dewasa meletakkan telur pada daun atau bagian dekat pangkal tanaman. Larva bergerak menuju gulungan daun dan titik tumbuh.

Larva termasuk kelompok belatung karena berasal dari ordo Diptera. Tubuhnya tidak memiliki kaki dan berwarna pucat.

Penelitian Kementerian Pertanian menempatkan Atherigona exigua sebagai hama penting pada pertanaman jagung. Penelitian tersebut juga menguji sumber ketahanan varietas. Repositori Kementerian Pertanian

Gejala Serangan Lalat Bibit pada Jagung

Petani perlu memeriksa beberapa gejala serangan lalat bibit pada jagung berikut:

  1. Daun tengah berubah menjadi kuning.
  2. Pucuk mudah tercabut dari pangkal tanaman.
  3. Pangkal pucuk membusuk dan mengeluarkan bau.
  4. Titik tumbuh mati atau mengalami gejala hati mati.
  5. Tanaman menjadi kerdil dan menghasilkan tunas samping.
  6. Bibit layu meskipun tanah memiliki cukup air.

Petani perlu membelah pangkal tanaman untuk memastikan serangan. Belatung biasanya berada dekat jaringan titik tumbuh yang rusak.

Pengendalian Hama Lalat Bibit pada Jagung

Pengendalian hama lalat bibit pada jagung perlu berfokus pada pencegahan dan perlindungan tanaman muda. Berikut ini langkah pengendalian hama lalat bibit pada tanaman jagung:

  1. Gunakan benih sehat dengan daya tumbuh tinggi.
  2. Tanam secara serempak pada waktu yang sesuai.
  3. Pertahankan kelembapan tanah tanpa menciptakan genangan.
  4. Gunakan pupuk secara seimbang.
  5. Periksa tanaman sejak bibit muncul.
  6. Cabut dan musnahkan bibit dengan titik tumbuh mati.
  7. Lakukan penyulaman jika kehilangan tanaman masih memungkinkan.
  8. Gunakan varietas yang memiliki ketahanan lebih baik.
  9. Pertimbangkan perlakuan benih yang terdaftar pada wilayah berisiko.
  10. Ikuti petunjuk penyuluh atau petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan.

Penyemprotan daun sering gagal ketika larva telah mencapai titik tumbuh. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan memberi hasil lebih baik.

5. Kutu Daun Jagung (Rhopalosiphum maidis)

Kutu daun pada jagung hidup berkoloni pada pucuk, daun, batang, bunga jantan, atau kelobot. Serangga ini mengisap cairan melalui jaringan floem. Tubuh kutu biasanya berwarna hijau kebiruan hingga gelap. Kaki dan bagian ujung tubuhnya memiliki warna lebih gelap.

Populasi dapat meningkat dengan cepat pada kondisi yang sesuai. Kelebihan nitrogen juga dapat mendorong pertumbuhan jaringan yang disukai kutu.

Gejala Kutu Daun Jagung

Beberapa gejala kutu daun jagung dapat muncul bersamaan. Berikut ini adalah gejala kutu daun jagung yang perlu diketahui:

  1. Petani menemukan koloni padat pada pucuk atau bunga jantan.
  2. Daun berubah menguning dan menggulung.
  3. Tanaman muda mengalami pertumbuhan terhambat.
  4. Permukaan tanaman terasa lengket akibat madu embun.
  5. Jamur jelaga tumbuh pada permukaan yang tertutup madu embun.
  6. Bunga jantan menghasilkan serbuk sari lebih sedikit.
  7. Tanaman menunjukkan gejala infeksi virus tertentu.

Kutu daun juga dapat membawa virus tanaman. Namun, petani memerlukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan penyebab gejala virus.

University of Connecticut menjelaskan warna tubuh dan tanaman inang Rhopalosiphum maidis. Hama ini menyerang jagung dan berbagai tanaman serealia. UConn Integrated Pest Management

Pengendalian Serangan Kutu Daun pada Jagung

Strategi pengendalian serangan kutu daun pada jagung perlu mempertahankan musuh alami. Berikut ini langkah pengendalian serangan kutu daun pada tanaman jagung:

  1. Pantau pucuk, bagian bawah daun, dan bunga jantan.
  2. Hindari pupuk nitrogen secara berlebihan.
  3. Kelola rumput inang di sekitar pertanaman secara tepat.
  4. Pertahankan kumbang koksi, larva lalat bunga, dan serangga sayap jala.
  5. Pantau semut yang melindungi koloni kutu.
  6. Gunakan insektisida selektif ketika populasi terus meningkat.
  7. Hindari insektisida berspektrum luas tanpa hasil pengamatan.
  8. Pastikan cairan mencapai lokasi koloni.

Musuh alami sering menekan populasi kutu secara efektif. Insektisida yang tidak selektif dapat membunuh musuh alami dan memicu peningkatan kembali.

Cara Memilih Obat Hama Jagung yang Tepat

Tidak ada satu obat hama jagung yang mampu menyelesaikan seluruh masalah. Petani harus menyesuaikan produk dengan spesies, fase hidup, dan lokasi serangan.

Produk biologis dapat mengandung bakteri, jamur, virus, atau ekstrak tumbuhan. Produk tersebut bekerja paling baik pada kondisi dan sasaran tertentu.

Insektisida kimia memerlukan pemilihan cara kerja yang tepat. Penggunaan berulang dari kelompok sama dapat mempercepat resistensi. Perhatikan prinsip berikut saat memilih produk:

  1. Pastikan label mencantumkan tanaman jagung dan hama sasaran.
  2. Periksa nomor pendaftaran produk.
  3. Gunakan dosis sesuai label.
  4. Kenakan alat pelindung diri secara lengkap.
  5. Hindari pencampuran tanpa petunjuk label.
  6. Patuhi interval aplikasi dan masa tunggu panen.
  7. Hindari penyemprotan saat angin kuat atau hujan.
  8. Rotasikan kelompok cara kerja insektisida.
  9. Catat produk, dosis, waktu, dan hasil aplikasi.
  10. Simpan pestisida dalam kemasan asli.

Jangan menyemprot hama pada tanaman jagung hanya berdasarkan kalender. Gunakan hasil pengamatan dan ambang pengendalian sebagai dasar keputusan.

Langkah Pemantauan Hama di Lahan Jagung

Pemantauan rutin membantu petani menemukan serangan sebelum kerusakan meluas. Berikut ini langkah pemantauan hama di lahan jagung yang perlu dilakukan:

  1. Tentukan beberapa titik pengamatan yang mewakili seluruh lahan.
  2. Pilih tanaman secara berurutan pada setiap titik.
  3. Periksa bagian bawah daun, pucuk, batang, bunga, dan tongkol.
  4. Catat telur, larva, kutu, lubang gerekan, dan tanaman rusak.
  5. Catat keberadaan predator, parasitoid, serta larva yang terinfeksi patogen.
  6. Hitung persentase tanaman terserang.
  7. Bandingkan hasil dengan ambang pengendalian setempat.
  8. Pilih tindakan dengan risiko paling rendah.
  9. Evaluasi hasil beberapa hari setelah tindakan.
  10. Simpan catatan untuk musim tanam berikutnya.

Kesimpulan

Hama pada tanaman jagung memerlukan identifikasi dan pengendalian yang berbeda. Ulat grayak merusak pucuk, sedangkan penggerek menyerang batang dan tongkol. Lalat bibit merusak titik tumbuh tanaman muda. Sementara itu, kutu daun mengisap cairan dan menghasilkan madu embun.

Pemantauan rutin menjadi dasar keberhasilan pengendalian. Petani perlu menggabungkan teknik budidaya, mekanis, hayati, dan kimia secara terukur. Pendekatan PHT membantu menjaga produksi sekaligus melindungi lingkungan. Penggunaan pestisida harus mengikuti label, ambang pengendalian, dan rekomendasi petugas setempat.

Post navigation

Previous Previous
Dinas Pertanian NTT Ikuti Lokakarya Pengelola Retribusi Daerah
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search