Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Panen PM-AAS di Berbagai Daerah Tembus 10 Ton per Hektare

August 30, 2026September 1, 2026 Artikel
Panen PM-AAS di Berbagai Daerah Tembus 10 Ton per Hektare
Hamparan tanaman padi dalam penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang didorong Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani (Foto: Kementan)

Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) mulai menunjukkan peningkatan produktivitas padi di berbagai daerah. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong teknologi tersebut untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani.

Menurut Amran, Indonesia telah mencapai swasembada beras sehingga perhatian berikutnya diarahkan pada kesejahteraan petani. Teknologi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.

“Swasembada alhamdulillah sudah tercapai. Nah sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan,” ujar Amran dalam rilis resmi Kementan, Minggu 30 Agustus 2026.

PM-AAS dikembangkan dengan menggabungkan teknologi budidaya modern dan praktik pertanian Indonesia. Sistem tersebut salah satunya meningkatkan populasi tanaman melalui pola tanam jajar legowo.

Kementerian Pertanian (Kementan) menguji penerapan PM-AAS di berbagai lokasi dan kondisi agroekosistem. Pengujian tersebut dilakukan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan PM-AAS dirancang sebagai paket teknologi budidaya terpadu. Sistem tersebut mencakup varietas unggul, tanam rapat, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pengelolaan hara.

“PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas. Tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif,” kata Fadjry.

Hasil penerapan PM-AAS mulai terlihat di sejumlah daerah. Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, demplot seluas 100 hektare menghasilkan sekitar 12,5 ton per hektare.

Bupati Polewali Mandar Samsul Mahmud mengatakan hasil tersebut meningkat dibandingkan produktivitas sebelumnya. Sebelumnya, hasil panen berada pada kisaran tujuh hingga delapan ton per hektare.

“Demplot PM-AAS 100 hektare, alhamdulillah tadi panen. Infonya 12,5 ton per hektare,” ujar Samsul.

Peningkatan juga dirasakan petani di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Petani Abdullah mengatakan hasil panennya meningkat setelah menerapkan PM-AAS.

“Di sini dulu cuma mampu dapat 5 sampai 6 ton per hektare. Maksimalnya itu 7 ton,” ujar Abdullah.

Setelah mengikuti program tersebut, Abdullah menyebut hasil panennya mencapai 11 ton per hektare. Ia menilai penerapan PM-AAS menguntungkan dan berharap program tersebut dilanjutkan.

Petani Sidrap lainnya, Anas, juga merasakan peningkatan hasil melalui pola tanam PM-AAS. Dari lahan seluas 50 are, ia memperoleh hampir 30 karung gabah.

Petani lainnya, Nurdin, menyebut hasil varietas Inpari 48 juga meningkat. Hasil panennya mencapai 143 dibandingkan sebelumnya sekitar 120.

Nurdin berharap penerapan PM-AAS dapat diperluas ke lebih banyak daerah. Menurutnya, program tersebut dapat memberikan manfaat bagi petani di berbagai wilayah.

Efisiensi juga dirasakan petani di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Abdul Rohim menyebut metode tanam menggunakan drum seeder atau paralon membuat proses tanam lebih efisien.

Petani lainnya, Angga Dwi Hadianto, mengombinasikan metode tanam baru dengan penggunaan drone. Menurutnya, teknologi tersebut mempercepat pekerjaan sekaligus menghemat tenaga kerja.

Hasil pengujian multi-lokasi BRMP kemudian memperkuat capaian tersebut. Pada musim tanam pertama 2026, pengujian PM-AAS dilakukan di sekitar 2.000 hektare pada 15 provinsi.

Pengujian tersebut berbentuk demfarm dengan luas sekurang-kurangnya 100 hektare setiap provinsi. Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah panen, hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas.

Berdasarkan hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas PM-AAS mencapai 10,34 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan praktik non-PM-AAS yang mencapai 6,32 ton GKP per hektare.

Artinya, terdapat tambahan produktivitas sekitar 4,02 ton per hektare. Secara persentase, produktivitas PM-AAS meningkat sebesar 63,46 persen.

Sebanyak 12 dari 18 lokasi atau 66,7 persen juga mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP per hektare. Di sejumlah lokasi lainnya, produktivitas PM-AAS berada pada kisaran sembilan hingga 11 ton GKP per hektare.

Pengembangan PM-AAS dilakukan BRMP secara intensif sejak awal 2025. Teknologi tersebut telah melalui pengujian pada berbagai lokasi dan musim tanam.

Sebelum menjadi paket teknologi siap diterapkan, PM-AAS menjalani pengujian dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 8–9. Pengujian dilakukan pada berbagai kondisi lahan dan ekosistem.

Produktivitas 10 ton per hektare sebelumnya berhasil dicapai selama dua musim berturut-turut di Soppeng, Sulawesi Selatan. Pengujian kemudian diperluas ke lahan irigasi teknis, irigasi nonteknis, dan lahan rawa.

Capaian tersebut menjadi penting karena produktivitas padi nasional relatif stagnan selama sekitar 20 tahun. Produktivitas tersebut berada pada kisaran 5,3 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare.

Mentan Amran menegaskan peningkatan produktivitas harus bermuara pada kesejahteraan petani. Karena itu, pertanian modern juga harus menekan biaya usaha tani dan meningkatkan pendapatan.

“Kalau disiplin, produksinya tidak akan di bawah delapan ton. Bisa 10 ton, bahkan 12 ton,” ujar Amran.

Menurut Amran, produktivitas tinggi dapat meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. Ia mencontohkan satu hektare sawah dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp16,3 juta per bulan.

Penerapan PM-AAS selanjutnya diarahkan untuk diperluas ke lebih banyak wilayah. Teknologi tersebut diharapkan memperkuat produktivitas, efisiensi usaha tani, dan keberlanjutan produksi pangan nasional.

Sumber : Panen PM-AAS di Berbagai Daerah Tembus 10 Ton per Hektare – RRI.co.id

Post navigation

Previous Previous
Rakor Pengawasan Keamanan dan Mutu Pangan Segar Perkuat Kepatuhan Pelaku Usaha di Kota Kupang
NextContinue
Stand Distankp NTT di Pameran Pembangunan BaSTEL 2026: Inovatif, Interaktif, dan Adaptif
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search