Distan KP NTT Perluas Bedeng Sayur, Optimalkan Pekarangan Kantor Jadi Lahan Produktif

Kupang – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Distan KP NTT) terus mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan kantor sebagai ruang produktif untuk kegiatan pertanian. Kali ini, sejumlah area di sekitar pelataran kantor mulai ditata dengan pembuatan bedeng baru yang dipersiapkan untuk penanaman berbagai jenis sayuran.
Kegiatan dilakukan secara gotong royong oleh pegawai dengan menyiapkan lahan, mengolah dan meratakan tanah, membuat pembatas bedeng, hingga melakukan penyiraman awal. Pemanfaatan ruang yang tersedia tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas budidaya di lingkungan kantor agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menambah Ruang Tanam di Lingkungan Kantor
Pembuatan bedeng dilakukan dengan memanfaatkan bagian-bagian pekarangan yang masih memungkinkan untuk dikembangkan menjadi area tanam. Bedeng dibentuk secara sederhana dan disesuaikan dengan kondisi ruang yang tersedia sehingga pelataran kantor tetap dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu fungsi utama lingkungan kerja.
Setelah media tanam siap, bedeng-bedeng tersebut akan digunakan untuk budidaya sayuran. Jenis tanaman yang akan ditanam dapat disesuaikan dengan kondisi lahan, musim, ketersediaan benih, serta kebutuhan pengelolaan kebun.
Langkah ini melanjutkan praktik pemanfaatan pekarangan yang telah dilakukan di lingkungan Distan KP NTT. Sebelumnya, kebun pekarangan kantor telah dimanfaatkan untuk membudidayakan pakcoy, kangkung, bayam, paria, terong, lombok hingga brokoli. Pengelolaannya dilakukan melalui siklus penanaman, panen, pemulihan lahan, dan penanaman kembali agar ruang yang tersedia tetap produktif.
Pekarangan Menjadi Ruang Belajar Pertanian
Pemanfaatan pekarangan kantor tidak hanya berkaitan dengan hasil tanaman yang nantinya dapat dipanen. Kegiatan ini juga menghadirkan ruang praktik sederhana untuk memperlihatkan bahwa budidaya sayuran dapat dimulai dari lahan yang relatif terbatas.
Mulai dari penyiapan media tanam, pembuatan bedeng, penanaman, pemeliharaan hingga panen dapat dilakukan langsung di lingkungan kerja. Pola tersebut sekaligus menjadi contoh pemanfaatan ruang terbuka yang sebelumnya kurang produktif menjadi lahan yang memberi manfaat.
Optimalisasi pekarangan juga memiliki konteks yang lebih luas dalam pembangunan pangan. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi menempatkan pengoptimalan lahan, termasuk pekarangan, sebagai salah satu upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Arah tersebut juga diperkuat dalam strategi nasional percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal, yang salah satunya menempatkan optimalisasi pemanfaatan lahan, termasuk pekarangan, sebagai bagian dari strategi penguatan kemandirian pangan.
Dari Ruang Kosong Menjadi Ruang Produksi
Pengembangan bedeng baru menunjukkan bahwa ruang terbatas di lingkungan perkantoran tetap dapat dikelola secara produktif. Selain menambah area hijau, pekarangan dapat menjadi tempat menghasilkan tanaman pangan sekaligus sarana pembelajaran budidaya yang mudah dilihat dan diterapkan kembali.
Dalam skala sederhana, produksi yang dilakukan dekat dengan lingkungan pengguna juga dapat membantu memperpendek jarak antara kegiatan budidaya dan pemanfaatan hasilnya. Pendekatan seperti ini relevan untuk mendorong pemanfaatan sumber daya secara efisien sekaligus menumbuhkan kebiasaan menanam dari lingkungan terdekat.
Melalui penataan pekarangan secara bertahap, Distan KP NTT berupaya menjaga agar lingkungan kantor tidak hanya menjadi ruang pelayanan administrasi, tetapi juga menjadi ruang praktik pertanian. Dari bedeng-bedeng sederhana tersebut, semangat membangun pertanian NTT dapat dimulai melalui pemanfaatan lahan, kerja bersama, serta penerapan kegiatan budidaya yang berkelanjutan.
