Perbanyak dan Panen Starter Trichoderma untuk Pengendalian OPT Ramah Lingkungan

Kupang – UPTD Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Seksi Pengamatan dan Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman melaksanakan kegiatan perbanyakan dan panen starter Agen Pengendali Hayati (APH) jamur Trichoderma menggunakan media beras pada 14 September 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya teknis dalam menyiapkan dan mengembangkan agens pengendali hayati yang dapat mendukung pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara lebih ramah lingkungan.
Perbanyakan Trichoderma Menggunakan Media Beras
Dalam kegiatan tersebut, Trichoderma diperbanyak dengan memanfaatkan beras sebagai media pertumbuhan. Media padat seperti beras merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam perbanyakan Trichoderma. Literatur teknis Kementerian Pertanian juga mencatat bahwa selain beras, bahan lain seperti jagung dan dedak dapat digunakan sebagai media padat dalam proses perbanyakan jamur tersebut.
Setelah melalui proses pertumbuhan dan perkembangan pada media, starter Trichoderma yang telah memenuhi tahapan perbanyakan kemudian dipanen. Kegiatan ini membutuhkan penanganan yang baik agar starter yang dihasilkan dapat dipertahankan kualitasnya sebagai bahan dalam pengembangan APH lebih lanjut.
Secara teknis, Trichoderma dikenal sebagai salah satu jamur antagonis yang telah banyak dikembangkan sebagai agens pengendali hayati. Publikasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menjelaskan bahwa Trichoderma spp. memiliki kemampuan menekan sejumlah patogen tanaman melalui beberapa mekanisme, antara lain kompetisi, mikoparasitisme dan antibiosis.
Mendukung Pengendalian OPT yang Lebih Ramah Lingkungan
Pengembangan APH menjadi salah satu pendekatan penting dalam perlindungan tanaman karena memberikan alternatif pengendalian OPT dengan memanfaatkan organisme yang memiliki kemampuan antagonis terhadap organisme penyebab penyakit.
Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian juga memasukkan agen pengendali hayati dan Trichoderma dalam pengembangan bahan pengendali OPT ramah lingkungan serta mendukung penerapan pengelolaan OPT berdasarkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Perbanyakan starter secara berkelanjutan sekaligus memperkuat kapasitas teknis UPTD Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan dalam menyiapkan dukungan perlindungan tanaman. Ketersediaan APH merupakan bagian penting dalam mendukung tindakan pencegahan maupun pengelolaan gangguan penyakit tanaman sesuai kebutuhan di lapangan.
Pemanfaatan teknologi pengendalian hayati juga sejalan dengan pengembangan sistem pertanian yang semakin memperhatikan efisiensi penggunaan sarana produksi dan keberlanjutan lingkungan. Perlindungan tanaman yang baik turut menentukan kemampuan tanaman mempertahankan pertumbuhan dan produksinya sehingga hasil pertanian lokal dapat terus diperkuat.
Melalui kegiatan perbanyakan dan panen starter Trichoderma, UPTD Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan terus memperkuat fungsi teknis perlindungan tanaman sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung pertanian Nusa Tenggara Timur yang produktif dan berkelanjutan.
