Dari Tenun hingga Berkebun, Kelompok Nusa Lontar Lasiana Terima Benih Hortikultura

Kupang, 22 September 2026 – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur melakukan kunjungan ke Kelompok Tenun Nusa Lontar di Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas menyerahkan paket benih hortikultura berupa kangkung, cabai keriting, mentimun, dan cabai rawit sebagai dukungan terhadap pemanfaatan lahan dan pengembangan kegiatan pertanian di lingkungan kelompok.
Kelompok Tenun Nusa Lontar terdiri atas seorang ketua dan 13 anggota yang merupakan ibu-ibu dari wilayah sekitar Lasiana. Selain aktif menjalankan kegiatan tenun, kelompok ini memiliki potensi untuk mengembangkan kegiatan produktif lainnya melalui pemanfaatan pekarangan maupun lahan yang tersedia untuk budidaya hortikultura.
Bantuan benih tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong anggota kelompok menanam sayuran secara mandiri, baik untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga maupun untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai kondisi dan potensi lahan masing-masing.
Tenun dan Pertanian Bertemu dalam Aktivitas Produktif Masyarakat
Kelompok Tenun Nusa Lontar telah berkembang sebagai salah satu kelompok usaha berbasis masyarakat di Lasiana. Keberadaan kelompok tersebut juga tercatat dalam publikasi Jurnal Trimas tahun 2025 yang menyebut Kelompok Tenun Nusa Lontar berlokasi di RT 24/RW 06 Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang dan bergerak dalam produksi tenun ikat. Publikasi tersebut juga mencatat adanya pendampingan untuk memperluas pemasaran produk dengan dukungan teknologi digital.
Kegiatan pertanian yang mulai diperkenalkan melalui bantuan benih hortikultura dapat menjadi pelengkap aktivitas produktif yang selama ini telah dijalankan anggota kelompok.
Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah maupun lingkungan kelompok, ibu-ibu anggota Nusa Lontar dapat mulai membudidayakan tanaman yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, seperti kangkung, cabai, dan mentimun.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Pemanfaatan pekarangan juga dapat menjadi ruang produksi pangan apabila dikelola secara baik dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Benih Hortikultura untuk Pekarangan yang Lebih Produktif
Empat jenis benih yang diserahkan dalam kegiatan ini merupakan komoditas hortikultura yang umum digunakan dalam kebutuhan rumah tangga, yakni kangkung, cabai keriting, mentimun, dan cabai rawit.
Literatur Kementerian Pertanian mengenai strategi pemanfaatan pekarangan menjelaskan bahwa jenis dan model budidaya dapat disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki. Kangkung dapat dikembangkan antara lain melalui sistem vertikultur, sedangkan cabai dan mentimun dapat dibudidayakan menggunakan pot atau polibag pada pekarangan dengan ruang terbatas.
Karena itu, ketersediaan lahan yang tidak terlalu luas tidak harus menjadi hambatan untuk mulai menanam. Pemanfaatan ruang secara sederhana dapat memberi kesempatan kepada keluarga untuk menghasilkan sebagian kebutuhan sayuran dari lingkungan tempat tinggal sendiri.
Semangat tersebut juga sejalan dengan pendekatan pemanfaatan pekarangan yang terus dikembangkan dalam penguatan ketahanan pangan. Badan Pangan Nasional menjelaskan bahwa pemanfaatan pekarangan, lahan tidur, dan lahan yang belum produktif dapat membantu meningkatkan ketersediaan serta akses pangan rumah tangga, dan apabila berkembang dapat berorientasi pada peningkatan pendapatan.
Di NTT, pemanfaatan pekarangan untuk kegiatan budidaya juga terus didorong. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT pada September 2026, misalnya, mengembangkan dan memperluas bedeng sayuran di lingkungan kantor dengan memanfaatkan ruang yang tersedia sebagai lahan produktif
Perkuat Pangan Keluarga dari Lingkungan Terdekat
Penyerahan benih kepada Kelompok Tenun Nusa Lontar tidak hanya membuka peluang menambah aktivitas kelompok, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya yang berada paling dekat dengan masyarakat.
Ketika pekarangan dapat menghasilkan sayuran, sebagian kebutuhan pangan keluarga dapat diperoleh langsung dari lingkungan sendiri. Dalam skala yang lebih luas, kebiasaan menanam juga dapat membantu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memanfaatkan setiap ruang yang tersedia secara produktif.
Bagi kelompok perempuan, kegiatan tersebut memiliki nilai yang lebih luas karena dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas utama mereka. Anggota kelompok tetap dapat menjalankan kegiatan tenun sekaligus merawat tanaman hortikultura di sekitar tempat tinggal.
Model kegiatan seperti ini turut memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui dua potensi lokal sekaligus. Produk tenun mempertahankan kreativitas dan keterampilan masyarakat, sedangkan budidaya hortikultura membantu membuka ruang produktif baru yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan keluarga.
Jika dikelola secara berkelanjutan, hasil tanaman yang melebihi kebutuhan rumah tangga juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara ekonomi. Dengan demikian, proses produksi dapat dimulai dari lingkungan terdekat, sekaligus membantu memperpendek jarak antara sumber pangan dan masyarakat yang mengonsumsinya.
Kunjungan ke Kelompok Tenun Nusa Lontar menjadi bagian dari upaya mendekatkan pelayanan pertanian kepada masyarakat sekaligus mendorong semakin banyak lahan dan pekarangan yang dapat dimanfaatkan secara produktif.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan kelompok masyarakat, penguatan sektor pertanian dapat tumbuh dari berbagai ruang, termasuk dari kelompok perempuan dan rumah tangga di kawasan perkotaan. Langkah sederhana melalui penyediaan benih dan pemanfaatan pekarangan diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan yang memberi manfaat bagi keluarga, kelompok, dan masyarakat di sekitarnya.
