PLN dan Pemkab Manggarai Barat Dorong Hilirisasi Porang, Petani Dibekali Energi untuk Naik Kelas

Upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas porang di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, memasuki tahap baru. PT PLN (Persero) UP3 Flores Bagian Barat berkolaborasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat melalui Program Pesta Porang 2.0. PLN dan Pemkab Manggarai Barat Dorong Hilirisasi Porang, Petani Dibekali Energi untuk Naik.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem porang dari hulu hingga hilir, terutama melalui pemanfaatan listrik sebagai penopang proses pengolahan pascapanen.
Program PESTA PORANG merupakan singkatan dari Program Elektrifikasi Strategis Tanaman Porang. Inovasi PLN UP3 Flores Bagian Barat ini dirancang untuk menyediakan dukungan kelistrikan yang andal, fleksibel, dan efisien bagi petani serta pelaku usaha yang bergerak dalam pengolahan porang.
Dukungan tersebut mencakup kebutuhan listrik untuk proses perajangan, pengeringan menggunakan oven, hingga penyimpanan hasil panen. Dengan dukungan energi listrik, proses pengolahan diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien sehingga mampu meningkatkan nilai tambah komoditas porang.
Manager PLN UP3 Flores Bagian Barat, Yudistira Adi Guna, mengatakan Pesta Porang 2.0 tidak dirancang sebagai program jangka pendek. Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kerja sama berkelanjutan antara PLN, pemerintah daerah, petani, dan pelaku usaha. “Pesta Porang 2.0 kami dorong menjadi sebuah gerakan bersama. Potensi ekonomi komoditas ini sangat besar, namun pengembangannya membutuhkan dukungan lintas sektoral,” ujar Yudistira.
Ia menjelaskan, PLN mengambil peran melalui penyediaan listrik yang mendukung penggunaan mesin produksi dan pengolahan porang.
“Kami ingin hasil bumi ini memberikan dampak finansial yang maksimal bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Yudistira, keberadaan listrik di sektor pertanian perlu dilihat lebih luas. Listrik tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi salah satu infrastruktur yang mendukung produktivitas dan pertumbuhan usaha masyarakat. Karena itu, Pesta Porang 2.0 membawa semangat “Petani Berdaya, Porang Berjaya, dan Flores Sejahtera”.
Program tersebut diarahkan agar petani tidak berhenti pada penjualan porang dalam bentuk umbi mentah. Dengan pengolahan pascapanen, produk porang diharapkan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Tarsisius Gonza, S.T., mengapresiasi kolaborasi tersebut.
Menurut Tarsisius, pembangunan sektor pertanian membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dukungan infrastruktur energi.
“Sektor pertanian tidak bisa berdiri sendiri. Kami sangat menyambut baik inisiatif PLN yang selalu hadir memberikan kontribusi nyata, mengawal dari sektor hulu hingga ke hilir industri pertanian di Manggarai Barat,” ujar Tarsisius.
Ia menyebut kondisi tanah di Manggarai memiliki potensi untuk pengembangan tanaman porang. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut melalui proses hilirisasi.
“Tanah Manggarai sangat cocok untuk budidaya porang. Kuncinya ada pada hilirisasi. Kami ingin petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu memproduksi barang setengah jadi maupun barang jadi,” katanya.
Menurut Tarsisius, pengembangan industri pengolahan porang di daerah dengan dukungan listrik yang andal dapat membantu meningkatkan penyerapan hasil panen dan memberi peluang bagi petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.
Pengembangan porang juga dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan logistik sektor pariwisata Manggarai Barat yang terus berkembang. Karena itu, penguatan sektor pertanian dan industri pengolahan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, mengatakan Pesta Porang 2.0 menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mendorong pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif masyarakat.
“Menyongsong Hari Kesaktian Pancasila, Pesta Porang 2.0 menjadi cerminan nyata bahwa nilai-nilai luhur bangsa hidup dalam kerja kolaboratif,” kata Eko.
Ia menegaskan bahwa PLN tidak hanya menjalankan fungsi penyediaan infrastruktur kelistrikan, tetapi juga mendorong pemanfaatan listrik untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami berkomitmen memastikan akses listrik yang andal mampu mendorong kemandirian ekonomi, meningkatkan taraf hidup, dan mewujudkan kesejahteraan yang merata di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.
Melalui integrasi listrik dengan sektor agrikultur, proses pengolahan porang seperti perajangan, pengeringan, dan penyimpanan dapat dilakukan dengan peralatan yang lebih modern.
Pesta Porang 2.0 sekaligus menunjukkan bagaimana energi listrik dapat ditempatkan sebagai bagian dari rantai produksi pertanian. Bagi petani porang di Manggarai Barat, dukungan tersebut membuka ruang untuk mengembangkan usaha dari sekadar menghasilkan bahan baku menuju pengolahan produk bernilai tambah.
Dengan demikian, kolaborasi PLN dan Pemkab Manggarai Barat diarahkan bukan hanya untuk menjaga keberlangsungan produksi porang, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha agar manfaat ekonomi komoditas tersebut dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
