Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Dosen UMY Kembangkan Mete NTT Jadi Biofuel Pesawat, Modal Sosial Jadi Kunci Kolaborasi Internasional

June 13, 2026June 15, 2026 Artikel

Komoditas mete selama ini lebih dikenal sebagai camilan. Namun, kini mete mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan.

Cahyo Wisnu Rubiyanto, S.P., M.App.Sc., Ph.D, dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tengah mengembangkan perkebunan mete di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lahan seluas 3.000 hektare ini akan menjadi penyedia bahan baku (feedstock) biofuel penerbangan.

Cahyo memaparkan proyek ini dalam seminar internasional UMY Summer School 2026 di Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). Proyek ini berjalan melalui kemitraan dengan perusahaan asal Jepang.

Menurut Cahyo, mete di NTT adalah komoditas strategis. Nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar produk pangan. Mete berpotensi menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Saat ini, industri aviasi global sedang fokus pada SAF untuk mengurangi emisi karbon.

Kolaborasi Global dan Pemberdayaan NTT

“Kami saat ini sedang mengembangkan perkebunan mete hingga mencapai 3.000 hektare,” ujar Cahyo.

Dalam pendanaan dan pengembangan proyek, UMY menggandeng Nishihara Soji Holdings. Perusahaan tersebut berbasis di Jepang dan menjadi pilar utama proyek ini

Pengembangan komoditas mete tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi. Proyek ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengelolaan kebun yang berkelanjutan.

Pentingnya Modal Sosial dalam Pembangunan

Cahyo menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk proyek ini. Pendekatan ini menjelaskan faktor keberhasilan proyek dan kolaborasi internasional.

Ada lima jenis modal yang menjadi fondasi penghidupan berkelanjutan:

  • Modal manusia (human capital)
  • Modal alam (natural capital)
  • Modal sosial (social capital)
  • Modal finansial (financial capital)
  • Modal fisik (physical capital)

Dari kelima modal tersebut, modal sosial sering kali menjadi faktor penentu. Sayangnya, modal ini justru kerap diabaikan.

“Sebelum membangun modal sosial, kita harus membangun diri sendiri terlebih dahulu,” jelas Cahyo. Kita harus memiliki modal manusia berupa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Tanpa modal itu, kita akan sulit membangun kepercayaan dengan pihak lain.

Keberhasilan kolaborasi internasional tidak hanya bergantung pada dana atau teknologi. Kunci utamanya adalah kemampuan membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan. Modal finansial tidak akan berjalan optimal tanpa modal sosial.

Rumus “Five C” untuk Pasar Internasional

Selain mengembangkan proyek mete di NTT, Cahyo juga aktif sebagai konsultan bagi Nikko, perusahaan cokelat asal Jepang. Ia membantu pengembangan biji kakao Indonesia untuk pasar internasional. Selain itu, ia pernah menjadi dosen tamu di Tokyo University of Agriculture.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Cahyo merumuskan prinsip Five C dalam kolaborasi internasional:

  1. Curiosity (rasa ingin tahu)
  2. Communication (komunikasi)
  3. Consistency (konsistensi)
  4. Contribution (kontribusi)
  5. Collaboration (kolaborasi)

Bagi Cahyo, keberhasilan global tidak lagi ditentukan oleh indeks prestasi akademik semata. Kemampuan teknis juga bukan satu-satunya penentu.

“Yang benar-benar dibutuhkan saat ini adalah jaringan global dan komunikasi lintas budaya,” pungkasnya. (ID)

Sumber : Mete NTT Jadi Bahan Bakar Pesawat Masa Depan

Post navigation

Previous Previous
Bupati Rote Ndao Pimpin Panen Raya Sorgum dan Pembelian Perdana Hasil Panen di Desa Daiama
NextContinue
Perempuan Jadi Motor Ekonomi Restoratif NTT, Pameran Weaving Wonders Dorong Kolaborasi Investasi Berkelanjutan
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search