Gelar Teknologi Jagung Hibrida di Oepura Lanjutkan Pemupukan Susulan, Perkuat Praktik Budidaya

Kupang – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur terus mengawal perkembangan Demplot Ke-2 Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Pada Jumat (9/10/2026), kegiatan pemeliharaan dilanjutkan melalui praktik pemupukan susulan pertama pada tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam (HST) sebagai bagian dari penerapan teknologi budidaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang optimal.
Gelar Teknologi Jagung Hibrida di Oepura merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Kabupaten Kupang. Demplot ini dikembangkan sebagai sarana percontohan sekaligus pembelajaran lapangan untuk mengamati pertumbuhan berbagai varietas jagung hibrida serta penerapan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi pertanian di NTT.
Sejak penanaman yang dimulai secara bertahap pada 28 Agustus 2026, sejumlah kegiatan pemeliharaan telah dilaksanakan, meliputi pengairan, penyulaman, pemupukan, pengamatan pertumbuhan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman. Setiap tahapan dilakukan dengan memperhatikan umur dan kondisi pertumbuhan pada masing-masing petak demplot.
Pemupukan Susulan Dukung Pertumbuhan Jagung Hibrida
Pada kegiatan kali ini, pemupukan susulan pertama dilakukan pada salah satu petak pertanaman jagung yang menggunakan benih produksi Syngenta. Pemupukan dilaksanakan dengan menggunakan mikroorganisme lokal (MOL), pupuk urea, dan ZA pada tanaman yang telah memasuki umur 30 HST.
Pemupukan susulan merupakan salah satu tahapan penting dalam pemeliharaan tanaman jagung, khususnya pada fase pertumbuhan vegetatif. Pada fase ini, tanaman membutuhkan ketersediaan unsur hara yang cukup untuk mendukung perkembangan batang, daun, serta sistem perakaran sebelum memasuki tahapan pertumbuhan berikutnya.
Penerapan pemupukan yang tepat perlu memperhatikan jenis pupuk, waktu pemberian, kebutuhan unsur hara, dan kondisi lahan. Melalui gelar teknologi, praktik pemupukan dapat dipelajari secara langsung sekaligus menjadi bagian dari pengamatan terhadap perkembangan tanaman di lapangan.
Kegiatan pemeliharaan secara berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penerapan teknik budidaya yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hasil pengamatan selama masa pertumbuhan hingga panen nantinya dapat menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan jagung hibrida di NTT.
Gelar Teknologi Jadi Sarana Pembelajaran bagi Aparatur Pertanian
Selain menjadi lokasi penerapan teknologi budidaya, Demplot Ke-2 Gelar Teknologi Jagung Hibrida di Oepura juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran teknis bagi aparatur pertanian.
Dalam pelaksanaan pemupukan susulan, pegawai Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) bersama Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terlibat langsung dalam praktik pemupukan di lahan.
Keterlibatan CPNS merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam budidaya tanaman pangan. Melalui pembelajaran langsung, para CPNS memperoleh pengalaman mengenai tahapan pemeliharaan tanaman, penggunaan sarana produksi pertanian, serta pentingnya penerapan teknologi budidaya berdasarkan kondisi tanaman di lapangan.
Pembelajaran ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman aparatur terhadap proses produksi pertanian, sehingga pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat dapat didukung oleh pengetahuan teknis yang memadai.
Pengembangan Gelar Teknologi Jagung Hibrida di Oepura diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, petani, produsen benih, dan mitra pertanian dalam memperkenalkan serta mengevaluasi teknologi budidaya yang sesuai dengan potensi wilayah.
Melalui pemeliharaan yang terarah, penerapan teknologi yang tepat, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendorong pengembangan komoditas jagung yang lebih produktif dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Nusa Tenggara Timur.
