Panen Kakao Kebun Dinas Waikadada Dukung Produktivitas dan PAD NTT

Sumba Barat Daya – UPTD Perbenihan Kebun Dinas dan Laboratorium Hayati Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, melaksanakan kegiatan panen dan pemeliharaan tanaman kakao di Kebun Dinas Waikadada, Kabupaten Sumba Barat Daya, Selasa (29/9/2026). Kegiatan meliputi pemanenan buah kakao, pemangkasan tunas air serta cabang nonproduktif, hingga pengangkutan hasil panen ke gudang untuk proses pembelahan buah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengelolaan kebun dinas secara berkelanjutan untuk menjaga kondisi tanaman, mendukung produktivitas kakao, serta mengoptimalkan pemanfaatan hasil kebun. Pengelolaan Kebun Dinas Waikadada juga diarahkan untuk memberikan nilai ekonomi bagi daerah, termasuk sebagai salah satu kegiatan yang mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT.
Panen dan Pemeliharaan Dilakukan Bersamaan
Panen buah kakao dilakukan terhadap buah yang telah mencapai tingkat kematangan untuk selanjutnya dibawa menuju tempat penanganan hasil. Setelah dipanen, buah dikumpulkan dan diangkut menggunakan sarana yang tersedia menuju gudang sebagai lokasi proses pembelahan buah dan tahapan penanganan berikutnya.
Di sela kegiatan panen, petugas juga melakukan pemangkasan tunas air dan cabang-cabang yang tidak produktif. Pemeliharaan tersebut penting agar pertumbuhan tanaman lebih terarah dan kondisi kebun tetap terjaga.
Dengan mengintegrasikan panen dan pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun tidak berhenti pada pengambilan hasil produksi. Tanaman yang telah menghasilkan tetap mendapatkan perawatan sehingga siklus produksi berikutnya dapat dipersiapkan sejak dini.
Langkah tersebut juga membantu menciptakan pengelolaan kebun yang lebih efisien, karena kegiatan produksi, pemeliharaan tanaman, dan penanganan hasil dilakukan dalam satu rangkaian kerja yang saling mendukung.
Kebun Dinas Dioptimalkan untuk Mendukung PAD
Pengelolaan Kebun Dinas Waikadada memiliki fungsi ekonomi selain fungsi teknis pengembangan komoditas perkebunan. Optimalisasi tanaman produktif dan hasil kebun menjadi bagian dari upaya memanfaatkan aset pemerintah daerah secara lebih produktif.
Arah tersebut sejalan dengan upaya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT dalam mengoptimalkan potensi PAD yang bersumber antara lain dari unit pelayanan, aset, hasil usaha, dan kegiatan teknis. Dinas juga sebelumnya telah menempatkan pemeliharaan Kebun Dinas Waikadada sebagai bagian dari upaya mendorong produktivitas kakao sekaligus PAD daerah.
Dalam Laporan Kinerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, penerimaan dinas juga tercatat bersumber dari retribusi daerah dan kegiatan usaha yang berada dalam lingkup pengelolaan dinas. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan aset dan sumber daya pertanian secara produktif serta tertib untuk memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
Karena itu, rangkaian pekerjaan mulai dari pemeliharaan tanaman, panen hingga penanganan hasil menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi Kebun Dinas Waikadada. Semakin baik tanaman dikelola dan hasil ditangani, semakin besar pula peluang untuk mengoptimalkan nilai ekonomi komoditas yang dihasilkan.
Perkuat Pengelolaan Komoditas Perkebunan NTT
Kegiatan di Kebun Dinas Waikadada juga menjadi bagian dari penguatan pengelolaan komoditas perkebunan NTT dari hulu hingga pascapanen. Pemeliharaan tanaman mendukung keberlanjutan produksi, sedangkan penanganan hasil yang tertata menjadi langkah awal untuk mempertahankan mutu dan meningkatkan nilai tambah kakao.
Pengalaman pengelolaan kakao pada kebun dinas lainnya di Sumba Barat Daya juga menunjukkan perhatian terhadap peningkatan mutu pascapanen melalui pemanfaatan sarana fermentasi dan pengeringan, sekaligus diarahkan untuk mendukung nilai ekonomi hasil kebun serta PAD.
Optimalisasi kebun dinas seperti Waikadada diharapkan terus memperkuat pengelolaan aset pertanian milik pemerintah daerah, menjaga produktivitas tanaman perkebunan, dan menciptakan rantai penanganan hasil yang semakin efisien. Upaya tersebut menjadi bagian dari pembangunan pertanian NTT yang menempatkan sumber daya lokal sebagai kekuatan ekonomi sekaligus mendukung penerimaan daerah untuk pelayanan dan pembangunan masyarakat.
