Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Perempuan NTT Pilar Ekonomi Restoratif dan Ketahanan Pangan

June 15, 2026June 15, 2026 Artikel
Perempuan NTT Pilar Ekonomi Restoratif dan Ketahanan Pangan

Kupang, 15 Juni 2026 –  Perempuan memiliki potensi besar untuk mendorong roda perekonomian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui dukungan dan kolaborasi lintas sektor, peran perempuan kini bertransformasi menjadi pilar utama pembangunan ekonomi restoratif di wilayah tersebut. Upaya pemberdayaan inilah yang diangkat dalam pameran bertajuk Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur.

Eksibisi yang berlangsung di Tugu Kunstkring, Jakarta, pada 13-27 Juni 2026, itu tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya NTT melalui tenun, kuliner, dan arsitektur rumah adat. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang kolaborasi melalui sharing session, lokakarya, dan Dialog Kunstkring yang diinisiasi oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari serta Penabulu-Oxfam.

Membangun Peta Jalan Ekonomi Restoratif

Dialog tersebut menghadirkan para pemegang kebijakan, akademisi, praktisi, hingga masyarakat adat untuk menyusun peta jalan kedaulatan pangan dan pariwisata berkesadaran. Yori Antar, pendiri Yayasan Uma Nusantara sekaligus inisiator pameran, menegaskan pentingnya ruang kolaborasi ini.

“Pameran Weaving Wonders diharapkan mempertemukan pemerintah, LSM, investor, hingga lembaga donor untuk mengeksplorasi kebijakan yang mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Yori.

Tantangan pengembangan ekonomi restoratif di Indonesia memang tidak ringan. Berdasarkan laporan Center of Economic and Law Studies (Celios) tahun 2024, Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp892 triliun hingga tahun 2045 untuk mengimplementasikan strategi ekonomi restoratif secara efektif.

Menjawab Tantangan Sosial-Ekonomi NTT

NTT dipilih sebagai fokus karena kondisi sosial-ekonominya yang menantang. Data BPS per Februari 2026 menunjukkan tingkat kemiskinan di NTT masih mencapai 17,5%, dengan prevalensi stunting sebesar 31,4%–angka yang jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, isu kekerasan terhadap perempuan dan human trafficking masih menjadi persoalan serius.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menyatakan bahwa masalah stunting, kekerasan, hingga pekerja anak di NTT berakar pada persoalan ekonomi. “Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” tegasnya.

Namun, di balik tantangan tersebut, perempuan NTT menunjukkan produktivitas luar biasa. Survei GoodStats 2024 mencatat kontribusi perempuan NTT terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 42,4%, melampaui rata-rata nasional yang sebesar 36,1%.

Terobosan Hak Kelola Hutan

Momentum bersejarah terjadi pada Mei 2026, saat negara secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT. Total lahan yang dikelola mencapai 648 hektare. Ini merupakan langkah langka dalam distribusi hak kelola hutan nasional yang selama ini jarang menyentuh kelompok perempuan.

Dukungan sektor swasta juga mengalir, salah satunya dari Grup Astra melalui Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra. Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menyatakan bahwa kearifan lokal dan pemberdayaan masyarakat adalah aset vital bagi pembangunan Indonesia yang inklusif.

Melalui sinergi antara tradisi tenun dan inovasi lahan semai, perempuan NTT kini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memimpin pemulihan ekosistem sebagai ruang hidup yang berkelanjutan.

Sumber: Media Indonesia

Post navigation

Previous Previous
Perkuat Komitmen Pemerintahan Berintegritas Wagub NTT dan Istri Ikuti Pelatihan Antikorupsi
NextContinue
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Hadiri Penanaman Serentak 2.000 Hektare di Sumba Barat Daya
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search