Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

BMKG Prediksi Curah Hujan NTT Meningkat Bertahap hingga Desember 2026, Sektor Pertanian Perlu Siapkan Langkah Adaptasi

September 23, 2026September 23, 2026 Informasi
BMKG Prediksi Curah Hujan NTT Meningkat Bertahap hingga Desember 2026, Sektor Pertanian Perlu Siapkan Langkah Adaptasi

Kupang, 23 September 2026 – Curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi meningkat secara bertahap pada periode Oktober hingga Desember 2026. Berdasarkan Buletin Klimatologi Provinsi Nusa Tenggara Timur Edisi September 2026 yang diterbitkan Stasiun Klimatologi Kelas I NTT, curah hujan pada Oktober secara umum masih berada pada kategori rendah, meningkat pada November, dan memasuki kategori menengah pada Desember. Informasi ini menjadi penting bagi sektor pertanian dalam menyesuaikan waktu tanam, pengelolaan air, pemilihan komoditas, serta langkah antisipasi terhadap organisme pengganggu tanaman.

Prediksi tersebut disusun berdasarkan analisis deterministik ECMWF dengan mempertimbangkan kondisi dinamika atmosfer dan lautan hingga awal September 2026. Buletin BMKG secara khusus memuat prediksi curah hujan dan sifat hujan NTT untuk Oktober hingga Desember 2026.

Hujan Masih Rendah pada Oktober, Meningkat Memasuki Desember

Gambaran tiga bulan ke depan menunjukkan perubahan curah hujan yang cukup jelas. Pada Oktober 2026, curah hujan NTT secara umum diprediksi berkisar 0–20 mm per bulan atau kategori rendah dengan sifat hujan Bawah Normal. Pada November, curah hujan secara umum meningkat menjadi 51–100 mm per bulan, tetapi masih berada dalam kategori rendah dan sifat hujan Bawah Normal. Memasuki Desember, curah hujan diprediksi meningkat menjadi 201–300 mm per bulan atau kategori menengah, meskipun secara umum sifat hujan masih Bawah Normal.

Peta prediksi yang diterbitkan BMKG juga menunjukkan bahwa kondisi setiap wilayah tidak seragam. Pada Oktober, sebagian besar wilayah NTT masih didominasi curah hujan rendah. Memasuki November, peningkatan mulai terlihat di sejumlah wilayah, sedangkan pada Desember kategori hujan menengah semakin meluas. Beberapa daerah bahkan diprediksi menerima curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi.

Dalam klasifikasi BMKG, curah hujan bulanan 0–100 mm termasuk kategori rendah, 101–300 mm kategori menengah, 301–500 mm kategori tinggi, dan lebih dari 500 mm kategori sangat tinggi.

Sementara itu, istilah Bawah Normal tidak berarti suatu wilayah sama sekali tidak mengalami hujan. Sifat hujan merupakan perbandingan antara jumlah hujan dalam satu bulan dengan kondisi normal klimatologis pada bulan yang sama. BMKG mengategorikan sifat hujan Normal pada kisaran 85–115 persen dari normalnya, sedangkan nilai di bawah 85 persen termasuk Bawah Normal.

El Niño Sangat Kuat Masih Mempengaruhi Pola Hujan

Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika iklim global. Buletin Klimatologi NTT mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada awal September 2026 menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat, sementara BMKG memprediksi fenomena tersebut dapat bertahan hingga awal 2027. Pada saat yang sama, Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan berpeluang tetap berada pada fase positif hingga akhir 2026.

Perkembangan terbaru BMKG pada 22 September 2026 juga menguatkan kondisi tersebut. Secara nasional, 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dari rerata klimatologisnya. Untuk NTT, BMKG menyebut sebagian kecil wilayah mulai memasuki musim hujan pada November, sedangkan sebagian besar wilayah NTT diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Informasi yang sama diberitakan ANTARA berdasarkan pemaparan BMKG, yang menyebut awal musim hujan 2026/2027 berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi El Niño sangat kuat yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.

Informasi Iklim Penting untuk Perencanaan Pertanian

Bagi sektor pertanian NTT yang sangat dipengaruhi ketersediaan air, perubahan pola hujan Oktober–Desember perlu menjadi bagian penting dalam perencanaan kegiatan budidaya. Kondisi Oktober dan November yang relatif kering membuat keputusan waktu tanam perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah, tidak hanya mengandalkan turunnya hujan pertama.

BMKG dalam informasi terbarunya merekomendasikan sektor pangan untuk memperhatikan penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas dengan siklus lebih pendek, pengendalian organisme pengganggu tanaman serta efisiensi pemanfaatan air. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan juga didorong mengoptimalkan konservasi serta pengelolaan sumber daya air.

Bagi petani, informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan awal sebelum melakukan pengolahan tanah dan penanaman. Ketersediaan sumber air, jenis tanaman, umur varietas, kondisi tanah serta prakiraan cuaca yang lebih pendek seperti prediksi dasarian tetap perlu diperhatikan sesuai kondisi setempat.

Peningkatan curah hujan pada Desember juga membuka peluang lebih luas bagi kegiatan pertanian, tetapi tetap perlu diikuti kesiapan menghadapi perubahan kondisi lapangan. Kenaikan intensitas hujan dapat memengaruhi kelembapan tanah, perkembangan hama dan penyakit, kebutuhan drainase hingga pengaturan kegiatan tanam dan pemupukan.

Pemanfaatan informasi iklim secara tepat menjadi bagian dari penguatan pertanian NTT yang semakin adaptif terhadap perubahan cuaca. Data klimatologi dapat membantu petani dan pemerintah menentukan langkah berdasarkan kondisi aktual, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan sarana produksi, serta menjaga keberlanjutan produksi pangan lokal.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, BMKG, petugas pertanian di lapangan, penyuluh, kelompok tani dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting agar informasi iklim dapat diterjemahkan menjadi langkah teknis yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. BMKG sendiri mengingatkan bahwa prakiraan bulanan perlu mengacu pada informasi terbaru yang terus dimutakhirkan.

Post navigation

Previous Previous
Pengawas Benih Tanaman Periksa Perbenihan Padi, Jagung dan Mangga di Kambera
NextContinue
Distankp NTT Perkuat Kolaborasi Pengendalian Penyakit Darah Pisang di Flores, Lembata, dan Sabu Raijua
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Maklumat Pelayanan
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2025)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Portal Data Dinamis Pertanian NTT
      • Platform Belanja Dist_mart
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search