Distankp NTT Perkuat Koordinasi dengan Kementan, Bahas Bantuan Gempa Flores dan Pengembangan Padi 2027

Kementerian Pertanian RI, 28 September 2026 – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendukung penanganan dampak gempa Flores sekaligus mempersiapkan pembangunan sektor tanaman pangan tahun mendatang. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT melakukan kunjungan kerja dan pertemuan di Kementerian Pertanian RI, Senin (28/9/2026), dengan agenda antara lain penyerahan proposal bantuan bagi penanganan dampak gempa Flores serta pembahasan rencana pengembangan padi di NTT tahun 2027.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Kepala Dinas bertemu dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, untuk membahas dukungan yang dibutuhkan daerah dalam merespons dampak bencana di Flores. Pertemuan menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi dan sinkronisasi antara Pemerintah Provinsi NTT dan Kementerian Pertanian agar kebutuhan daerah dapat terhubung dengan dukungan pemerintah pusat. Suwandi tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dalam struktur pejabat kementerian saat ini.
Koordinasi tersebut berlangsung dalam periode pemulihan pascagempa bumi M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. BMKG pada pertengahan September melaporkan aktivitas gempa susulan telah memasuki fase peluruhan, sementara proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak mulai berjalan.
Kementerian Pertanian sebelumnya juga telah mengambil bagian dalam penanganan dampak bencana. Dalam kunjungan Menteri Pertanian ke NTT pada Agustus 2026, dukungan pangan dan kebutuhan lainnya disalurkan kepada masyarakat di sejumlah wilayah terdampak di Flores.
Diskusi Inovasi Budidaya dan Intensifikasi Panen Padi
Selain penanganan dampak gempa, pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian turut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai inovasi pertanian yang berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani.
Salah satu yang dibahas adalah inovasi budidaya yang dalam pertemuan disebut “sawah palsu”. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam pertemuan, inovasi tersebut memiliki potensi untuk mendorong intensitas panen padi hingga lima kali dalam satu tahun melalui pengaturan sistem budidaya dan waktu tanam yang lebih intensif.
Pembahasan ini menjadi masukan bagi NTT untuk terus melihat berbagai pendekatan baru dalam pembangunan pertanian, terutama teknologi yang dapat membantu mengoptimalkan pemanfaatan air, lahan, waktu tanam, serta sumber daya produksi. Setiap inovasi tentunya memerlukan penyesuaian dengan kondisi agroekosistem, ketersediaan air, karakteristik lahan, serta kelayakan penerapannya di tingkat petani.
Upaya meningkatkan indeks pertanaman sendiri telah menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam produksi padi. Dalam kegiatan Kementerian Pertanian sebelumnya, peningkatan indeks pertanaman dilakukan antara lain melalui penggunaan varietas berumur genjah, percepatan persemaian dan tanam kembali, serta dukungan ketersediaan air. dinpertan.banyumaskab.go.id
Bagi NTT yang memiliki karakteristik wilayah dan ketersediaan air yang beragam, pengembangan inovasi semacam ini dapat menjadi bahan kajian untuk mencari pola budidaya yang paling sesuai dengan kondisi setempat, terutama pada kawasan yang memiliki sumber air memadai dan peluang peningkatan intensitas tanam.
Siapkan Arah Pengembangan Padi NTT Tahun 2027
Rangkaian koordinasi dilanjutkan dengan pertemuan bersama Kelompok Padi Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. Pertemuan difokuskan pada pembahasan rencana kegiatan pengembangan padi di Provinsi NTT pada tahun 2027.
Pembahasan sejak awal diperlukan agar kebutuhan dan potensi daerah dapat dipersiapkan secara lebih terarah, baik berkaitan dengan peningkatan produksi, produktivitas, dukungan budidaya maupun pengembangan kawasan pertanaman padi.
Direktorat Serealia secara kelembagaan mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang budidaya padi, jagung, dan aneka serealia. Fungsinya antara lain mencakup peningkatan produksi dan produktivitas, bimbingan teknis, supervisi, pemantauan serta evaluasi kegiatan serealia. BRMP Padi
Koordinasi dengan unit teknis tersebut menjadi penting agar perencanaan pengembangan padi NTT tahun 2027 dapat diselaraskan dengan kebijakan pemerintah pusat sekaligus mempertimbangkan kondisi riil pertanian di daerah. Pendekatan ini diharapkan mendukung pemanfaatan bantuan dan program secara lebih tepat sasaran serta memperkuat hasil pertanian lokal.
Pertemuan di Kementerian Pertanian tersebut sekaligus memperkuat jalur komunikasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, baik dalam merespons kebutuhan masyarakat pascabencana maupun dalam mempersiapkan program pembangunan pertanian ke depan.
Melalui perencanaan yang terkoordinasi, pemanfaatan teknologi yang sesuai kondisi daerah, serta dukungan lintas sektor, pembangunan pertanian NTT diharapkan semakin mampu meningkatkan produksi, memperpendek dan mengefisienkan rantai pasok pangan, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani dan masyarakat.
