Dukung OVOP dan Tingkatkan PAD, Dinas Pertanian NTT Mulai Pasarkan Kopi De Roma Produk Asli Kebun Dinas

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai memasarkan Kopi De Roma, produk kopi olahan yang berasal dari kebun dinas sebagai bagian dari program hilirisasi pertanian dan implementasi konsep One Village One Product (OVOP). Selain memperluas pasar produk lokal, langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Seksi Produksi Benih dan Pengolahan Kebun Dinas, Mikson Lakidang, menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar kopi dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh petani maupun pemerintah masih rendah.
Menurutnya, melalui proses pengolahan dan pengemasan yang lebih baik, nilai jual kopi dapat meningkat signifikan.
“Kalau dulu kopi hanya dijual dalam bentuk kopi kulit, harganya relatif rendah. Setelah diolah menjadi green bean atau kopi ose, nilainya bisa naik hingga sekitar Rp65 ribu per kilogram. Ketika diolah lagi menjadi kopi bubuk siap seduh dengan kemasan yang baik, nilai tambahnya menjadi jauh lebih tinggi,” jelas Mikson.
Kopi yang dipasarkan dengan merek De Roma merupakan singkatan dari kopi yang dihasilkan dari beberapa kebun dinas, termasuk kebun yang dikelola di wilayah penghasil kopi seperti kawasan Manggarai. Produk ini saat ini mulai dipasarkan dan sedang dalam proses perluasan distribusi.
Dinas Pertanian juga tengah mengupayakan pemasaran melalui NTT Mart, pengurusan sertifikasi halal, hingga penjualan melalui marketplace seperti Shopee dan platform digital lainnya. “Harapannya produk ini bisa menjangkau konsumen yang lebih luas dan menjadi media promosi bagi kopi-kopi unggulan NTT,” katanya.
Saat ini kapasitas produksi masih terbatas karena menggunakan mesin sangrai berkapasitas kecil. Namun produksi terus ditingkatkan seiring upaya peremajaan tanaman kopi di kebun dinas.
“Kami juga sedang melakukan peremajaan tanaman.Dalam tiga tahun ke depan diharapkan produksi bisa meningkat lebih besar lagi,” tambahnya.
Target PAD Rp11 Miliar Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Oemboe Wanda, mengatakan pengembangan kopi melalui program OVOP menjadi salah satu strategi penting untuk mencapai target PAD sektor pertanian sebesar Rp11 miliar.
Menurut Joaz, pengembangan kopi tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga mencakup pengolahan hingga pemasaran agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.
“Melalui OVOP ini kita ingin mendorong peningkatan PAD sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Kopi tidak boleh hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi harus diolah sehingga nilai tambahnya dinikmati oleh masyarakat dan petani,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa pada Juli mendatang Dinas Pertanian akan menjalankan program pengembangan kopi di Manggarai dengan melibatkan petani dan pemerintah desa untuk memperkuat kapasitas budidaya hingga pengolahan pascapanen.
Bangun Brand Kopi NTT Mendunia
Joas menegaskan, NTT memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil kopi berkualitas, mulai dari Manggarai, Manggarai Barat, Ngada hingga sejumlah wilayah lain di Flores dan Timor.
Karena itu, pemerintah ingin membangun identitas dan merek kopi NTT agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
“Kita ingin kopi NTT memiliki brand sendiri yang dikenal dunia. Jangan sampai lima atau sepuluh tahun ke depan kopi kita justru diakui daerah lain. Kita harus mulai membangun identitas kopi NTT dari sekarang,” tegasnya.
Selain pasar domestik, pemerintah juga membuka peluang pemasaran ke luar negeri, termasuk ke Timor Leste, Singapura, Eropa dan Amerika Serikat.
Salah satu kopi unggulan yang tengah dipromosikan adalah Kopi Juria, kopi spesialti asal Manggarai yang telah mendapat pengakuan dari sejumlah komunitas kopi di Bali dan Jakarta karena memiliki karakter rasa yang khas serta adaptif terhadap lingkungan setempat.
“Kopi Juria ini menjadi salah satu kopi spesialti yang kita dorong. Saat ini memang belum terlalu dikenal, tetapi potensinya sangat besar dan akan terus kita promosikan,” kata Joas.
Sebagai bagian dari strategi promosi, Dinas Pertanian NTT juga berencana menggelar berbagai kegiatan kopi bertepatan dengan Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober dan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi NTT berharap kopi tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi juga menjadi identitas daerah sekaligus penggerak ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan pendapatan daerah
