Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi kondisi cuaca yang cukup dinamis pada dasarian III Januari 2026. Berdasarkan analisis curah hujan, sebagian besar wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori menengah (51-150 mm/dasarian) hingga kategori tinggi (151-300 mm/dasarian). Meskipun intensitas hujan variatif, wilayah ini umumnya tercatat mengalami Hari Hujan dan Hari Tanpa Hujan dalam rentang yang sangat pendek, yakni antara 1 hingga 5 hari.
Menjelang dasarian I Februari 2026, peluang curah hujan di wilayah NTT diperkirakan akan tetap berada pada kategori menengah, dengan probabilitas mencapai 81-100%. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi hujan yang signifikan pada bulan depan. Selain itu, terpantau bibit siklon tropis 98P di wilayah Darwin, Australia bagian Utara, yang dapat meningkatkan intensitas hujan dengan kondisi sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang yang berpotensi mempengaruhi wilayah NTT.
Faktor lainnya yang memperburuk kondisi cuaca di NTT adalah adanya kombinasi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan gelombang Kelvin yang terpantau aktif di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan NTT. Aktivitas ini memperkuat proses konvektif, meningkatkan potensi hujan, dan memperbesar kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat NTT untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Kondisi atmosfer yang labil dan peningkatan intensitas hujan mengharuskan kita untuk menjaga kewaspadaan di tingkat keluarga dan lingkungan sekitar.
Sebagai langkah mitigasi, diperkirakan bahwa puncak musim hujan di NTT akan berlangsung hingga Februari 2026. Masyarakat dapat memanfaatkan periode hujan ini untuk melakukan panen air hujan sebagai upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, mengingat potensi curah hujan yang tinggi.