Brigade Penyulap Lahan Tandus di Timor
Mengolah lahan tandus butuh kerja keras dan kreativitas. Banyak lahan di Timor menanti digarap.
Suhu berkisar 34 derajat celsius menikam kepala saat berjalan membelah semak belukar yang meranggas. Jumat (18/7/2025) itu, tanah Pulau Timor di Nusa Tenggara Timur menunjukkan jati dirinya ketika musim kemarau datang: kerontang.
Berharap kemarau basah membawa sedikit titik air pun tak banyak menyelamatkan lahan kering di tanah berkapur itu. Tanaman menyerah, menguning, lalu menanti tersulut api dan terbakar. Siklus rutin yang terjadi setiap tahun.
Daratan itu bakal menghijau lagi pada Desember jika musim hujan datang tepat waktu. Beberapa tahun belakangan, musim hujan sudah bergeser sebagai dampak perubahan iklim akibat pemanasan global tiga dekade terakhir.
Kini, di tengah hamparan lahan tandus itu terlihat hamparan tanaman menghijau dalam areal sekitar 10.000 meter persegi. Hamparan hijau itu berada di Desa Tanah Putih, Kabupaten Kupang. Kesegaran itu hadir berkat tangan Ajun Inspektur Dua Benny Sem Meni, anggota Satuan Brigade Mobil Polda NTT. Ia bersetia membangun pertanian hortikultura di wilayah itu.

Sawi, kangkung, dan beberapa jenis tanaman hortikultura sudah tumbuh dengan umur bervariasi. Beberapa bedeng menanti datang hari panen. Di bedeng yang lain, sedang ditanami. Waktu tanam diatur agar panen berkelanjutan. Kangkung, misalnya, tiga minggu sudah bisa dipanen.
Areal tanaman berupa lapangan terbuka itu produktif ketika musim kemarau. Saat musim hujan, budidaya tanaman hortikultura bakal gagal karena kelebihan air. ”Karena itu, butuh pengadaan terpal bening, tapi saya masih kumpul modal dulu,” ucap Benny.
Di sudut lahan, mesin pompa air terus menyedot air dari sumur bor berkedalaman 12 meter. Setiap hari, tanaman disiram paling lama 4 jam tergantung umur tanaman dan tingkat kelembaban tanah. Kondisi tanah Pulau Timor yang berkapur dengan panas terik cukup boros air.
Menyulap lahan tandus
Lahan yang diolah Benny dulunya tandus dan jauh dari sumber air. Warga sekitar biasanya menjadikannya tempat mencari kayu bakar. Ketika musim hujan, mereka menggembalakan ternak sapi di sana. Tak ada yang melirik untuk mengolahnya karena tidak ada akses jalan ke sana.

Setelah membeli lahan tersebut, Benny awalnya menanam jagung sekali dalam setahun. Ia kemudian memutuskan budidaya hortikultura karena prospek ekonomi menjanjikan. Perputaran uang dari bisnis tersebut lebih cepat dan berlipat ganda dalam waktu singkat.
Ia mempekerjakan 14 warga lokal dengan sistem bagi hasil. Di luar jam dinas, ia ikut bekerja dan mencari pasar di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Banyak pedagang datang ke kebun untuk memborong sayuran.
Agar laku di pasar, Benny menciptakan diferensiasi. Fokusnya produk hortikultura berbasis organik. Ia tidak menggunakan pupuk kimia, melainkan pupuk dari kotoran sapi yang banyak bertebaran di dekat kebun. Ia memberdayakan warga lokal untuk menyiapkan pupuk kandang.
”Kami memilih pertanian organik karena saat ini pasarnya cukup besar. Banyak kalangan menengah ke atas yang memilih makan sayur organik demi kesehatan,” kata Benny. Kini ia mengelola 42 bedeng tanaman sayur.

Polri untuk masyarakat
Kepala Polda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko yang dihubungi secara terpisah mengapresiasi dan memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada Benny atas dedikasi dan inovasi dalam mendukung ketahanan pangan. Benny dianggap sosok pekerja keras dan memiliki kreativitas tinggi.
Menurut Rudi, inisiatif Benny sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto melalui Makan Bergizi Gratis. Pasokan sayur segar dari lokal ikut mendukung program tersebut. Benny juga dinilai memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
”Ini adalah bukti bahwa anggota Polri tidak hanya menjalankan tugas keamanan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan dan solusi bagi berbagai tantangan sosial. Semoga menjadi inspirasi bagi seluruh personel jajaran Polda NTT. Sejatinya, Polri untuk masyarakat,” kata Rudi berharap.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan NTT Joaz Umbu Wanda mengatakan, budidaya tanaman hortikultura banyak digeluti karena perputaran uang yang berlangsung cepat. ”Dua sampai tiga minggu sudah menghasilkan uang,” kata Joaz.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi NTT dominan disokong sektor pertanian dan tanaman pangan. Tanaman hortikultura menyumbang kontribusi paling besar. Hortikultura terdiri atas tanaman sayuran, buah, dan tanaman obatan. Total rumah tangga petani di NTT sebanyak 1,46 juta.
Sentra tanaman hortikultura di NTT tersebar di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Belu, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya. ”Cabai di Kabupaten Belu sebagian diekspor ke Timor Leste,” ucap Joaz.
Di NTT masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan untuk pertanian. Tengoklah pada cerita Benny, seorang anggota brigade mobil yang menyulap lahan tandus menjadi kebun hortikultura yang produktif.
Sumber : https://www.kompas.id/artikel/brigade-penyulap-lahan-tandus-di-timor
