Rapat Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Lahan dan Irigasi Pertanian Tingkat Provinsi NTT 2025: Konsolidasi Menuju Swasembada Pangan

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DISTANKP) melaksanakan Rapat Evaluasi Kegiatan Lahan dan Irigasi Pertanian Provinsi NTT Tahun 2025 pada tanggal 11-12 Desember 2025 bertermpat di Hotel Kristal Kupang. Kegiatan ini diikuti oleh  Kepala Bidang Prasarana Sarana, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PSP2HP) Kabupaten/Kota   se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, dan selanjutnya Pembahasan teknis dan evaluasi kegiatan dipimpin oleh Kepala Bidang PSP2HP  DISTANKP Prov NTT.

Evaluasi kinerja pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2025 menunjukkan perkembangan signifikan, terutama pada sektor pangan. Berdasarkan data KSA BPS, luas panen padi tahun 2025 diperkirakan mencapai 212.142 hektar, meningkat 25,73 persen dari tahun 2024. Produksi padi juga diproyeksikan meningkat menjadi 956.832 ton GKG, atau naik 35,19 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tren positif juga terlihat pada sektor hortikultura. Produksi bawang merah mengalami peningkatan 15 persen, sementara cabai mengalami penyesuaian 1,82 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui penguatan lahan, irigasi, dan dukungan sarana produksi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas.

Pada lahan dan irigasi, sejumlah kegiatan strategis terus menunjukkan kemajuan. Program optimasi lahan non-rawa dilaksanakan di 22 kabupaten/kota dengan total luas mencapai 28.723 hektar yang ditambahkan pada tahun 2025 pelaksanaan kegiatannya. Kegiatan ini berperan penting dalam meningkatkan pemanfaatan lahan potensial untuk kebutuhan pangan. Tahun 2025 pelaksanaan kegiatan ini terus berjalan dengan penguatan sarana dan prasarana pertanian yang semakin optimal.

Pembangunan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan tersebar di 20 kabupaten/kota, dengan total 219 unit irigasi perpompaan dan 270 unit irigasi perpipaan. Kegiatan ini menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan ketersediaan air serta mendorong peningkatan intensitas tanam, khususnya pada wilayah rawan kekeringan.

Pelaksanaan kegiatan cetak sawah tahun 2025 dilaksanakan di Kabupaten Kupang seluas 423 ha dari target 500 ha yang tersebar di Desa Manusak 198 ha, Oelpuah 178 ha, dan Pukdale 47 ha. Progres pekerjaan meliputi land clearing sebesar 355,84 hektar, land leveling 63,62 hektar, serta pembangunan saluran tersier sepanjang 1.904 meter.

Selain itu, dukungan sarana produksi pertanian terus menguat. Penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2025 mencapai tingkat realisasi yang tinggi dengan total alokasi 85.019 ton. Sementara itu, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berjumlah 1.168 unit, mencakup traktor, pompa air, rice transplanter, dan combine harvester. Lebih dari 70 persen unit telah tiba di kabupaten/kota dan sebagian besar sudah mulai disalurkan kepada kelompok tani.

Program penguatan hilirisasi dan akses pasar juga mendapat perhatian melalui Bidang PSP2HP. Progres menunjukkan bahwa berbagai kegiatan pemasaran hasil pertanian, termasuk fasilitasi pasar dan peningkatan mutu hasil, terus berjalan untuk memperkuat posisi petani dalam rantai pasok. Kegiatan OPLAH dan CSR juga menunjukkan progres sesuai target yang ditetapkan, serta terus memberikan dukungan kelembagaan dan sarana pendukung bagi petani di berbagai wilayah.

Secara keseluruhan, hasil evaluasi memperlihatkan bahwa berbagai intervensi pemerintah mulai dari penguatan lahan, penyediaan irigasi, peningkatan sarana produksi, hingga penguatan pasar telah memberikan dampak yang nyata terhadap peningkatan produksi pertanian NTT sepanjang tahun 2025. Kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi pelaksanaan program.

Dengan capaian yang telah diraih, Nusa Tenggara Timur terus melangkah menuju ketahanan dan kemandirian pangan yang berkelanjutan. Upaya ini sekaligus memperkuat peran daerah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.

Similar Posts