NTT Raih Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meraih Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional yang diserahkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia. NTT bersama empat provinsi lainnya, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan Papua Pegunungan, menerima penghargaan tersebut pada 12 Januari 2026 di Jakarta. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya daerah dalam meningkatkan produksi dan kinerja pembangunan sektor pertanian, khususnya pada komoditas utama seperti padi dan jagung.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menekankan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak terkait, mulai dari penyusunan kebijakan hingga implementasi di lapangan. “Pemasangan PIN Swasembada Pangan ini adalah buah dari kerja kolektif seluruh jajaran, mulai dari dinas provinsi, kabupaten, penyuluh, petugas pengendali hama, hingga para petani. Swasembada pangan di NTT pasti bisa tercapai,” ujar Gubernur Melki pada Jumat, 16 Januari 2026.

Keberhasilan ini juga sejalan dengan visi Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan nasional, khususnya di sektor padi dan jagung.

Meningkatkan Produksi di Lahan Kering

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, yang menerima penghargaan tersebut, menjelaskan bahwa pencapaian ini sangat istimewa mengingat mayoritas wilayah NTT didominasi oleh lahan kering yang mencakup sekitar 1,8 juta hektare, sementara lahan sawah hanya sekitar 309.000 hektare. “Dengan dukungan dari Gubernur dan Wakil Gubernur melalui program Dasa Cita Melki-Johni, terutama dengan fokus dari ladang menuju pasar, kami melaksanakan gerakan pengembangan padi sawah dan padi gogo secara masif sepanjang tahun 2025,” ungkap Joaz.

Hasilnya, luas tambahan tanam padi pada 2025 mencapai 250.528 hektare, atau sekitar 96,11 persen dari target yang ditetapkan. Luas panen juga meningkat 25,92 persen dibandingkan tahun 2024, sementara produksi padi NTT mengalami lonjakan sebesar 35 hingga 40 persen.

Dukungan untuk Modernisasi Pertanian dan Brigades Pangan

Pencapaian tersebut didorong oleh upaya modernisasi pertanian dan penyediaan sarana produksi yang semakin maju. Pada 2024–2025, NTT menerima 3.072 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor roda dua, pompa air, rice transplanter, dan combine harvester. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan benih untuk 17.567 hektare lahan, mencakup benih padi gogo, biofortifikasi, dan intensifikasi pertanian.

Program transformasi sektor pertanian semakin diperkuat melalui pembentukan 81 Brigade Pangan yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Brigade ini berperan penting dalam menggerakkan mekanisasi serta menjadi wadah regenerasi petani muda berbasis korporasi.

Pemerintah juga melaksanakan program Optimalisasi Lahan Kering (Oplah) yang mencakup 28.723 hektare serta program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang mendukung peningkatan indeks pertanaman. Sebagai contoh, di Kabupaten Kupang, pembangunan sawah baru pada 2025 telah mencapai 423 hektare dari target 500 hektare.

Dukungan curah hujan yang meningkat, perbaikan jaringan irigasi, bantuan pompa air, dan peran aktif penyuluh yang kini didukung dengan biaya operasional dari APBD, semakin mendorong petani untuk dapat menanam hingga dua atau bahkan tiga kali dalam setahun.

Sebagai bagian dari penghargaan ini, Kementerian Pertanian RI juga memberikan apresiasi kepada Andi Faisal, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi NTT, serta Joaz Bily Oemboe Wanda atas kontribusi mereka dalam mewujudkan swasembada pangan.

Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional ini menegaskan posisi NTT sebagai contoh sukses transformasi pertanian di wilayah dengan keterbatasan agroklimat. Dengan capaian ini, NTT berkomitmen untuk melangkah menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Similar Posts