Pemkab Kupang Mengambil Langkah Antisipasi Menghadapi Anomali Iklim di Musim Tanam

Pemerintah Kabupaten Kupang telah mengambil langkah-langkah antisipatif guna menghadapi dampak anomali iklim terhadap musim tanam petani tahun ini. Persiapan tersebut bertujuan memastikan kegiatan pertanian berjalan optimal serta produktivitas tetap terjaga meskipun pola hujan mengalami perubahan yang tidak menentu.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Juariah, STP, M.M., menyatakan bahwa pihaknya secara aktif mendorong petani untuk segera menyiapkan lahan dengan memanfaatkan curah hujan yang mulai turun. “Persiapan yang meliputi ketersediaan benih dan pupuk sudah terdistribusi. Selain itu, pendampingan teknis kepada petani oleh penyuluh pertanian di sejumlah kecamatan juga telah dilakukan. Untuk musim tanam pertama ini, luas tanam sudah mencapai sekitar seribu tiga ratus hektare,” ujarnya pada wawancara dengan RRI Kupang, Jumat, 23 Januari 2026.
Selain memastikan ketersediaan sarana produksi, Dinas Pertanian menyoroti potensi dampak anomali iklim berupa perubahan pola hujan yang dapat memengaruhi jadwal tanam, ketersediaan air, serta risiko kekeringan atau genangan berlebih pada fase pertumbuhan tanaman. Untuk mengantisipasi hal tersebut, salah satu langkah mitigasi yang telah dilaksanakan adalah penyaluran bantuan pompa air kepada petani.
Pompa air tersebut memiliki fungsi ganda, yaitu mengairi lahan sawah pada periode curah hujan rendah sekaligus mengurangi genangan air di area persawahan ketika hujan deras tiba secara tiba-tiba. Langkah ini sangat relevan mengingat karakteristik iklim semi-arid di Kabupaten Kupang, di mana pengelolaan air menjadi faktor penentu keberhasilan usaha tani.
Dengan kesiapan sarana produksi, pendampingan teknis intensif oleh penyuluh pertanian, serta penyediaan infrastruktur pendukung seperti pompa air, diharapkan musim tanam dapat berlangsung lancar. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian secara keseluruhan serta memperkuat ketahanan pangan daerah melalui pencapaian swasembada pangan yang lebih kokoh.
