Gerakan Tanam Padi Serentak se-NTT Perkuat Komitmen Swasembada Pangan Berkelanjutan Tahun 2026

Kupang, 16 Februari 2026 — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melaksanakan Gerakan Tanam (GERTAM) Padi Serentak se-Provinsi NTT sebagai langkah strategis dalam memperkuat swasembada pangan berkelanjutan menuju tahun 2026. Kegiatan dipusatkan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, dan dilaksanakan secara serentak di seluruh kabupaten/kota se-NTT, baik secara luring maupun daring melalui Zoom.
Hadir dalam kegiatan tersebut Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Bupati Kupang Yosef Lede, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, perwakilan Kementerian Pertanian RI, unsur TNI/POLRI, para penyuluh pertanian, kelompok tani, serta Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng bersama mahasiswa.
Kegiatan diawali dengan penyambutan adat melalui tarian tradisional, dilanjutkan dengan penayangan video selayang pandang capaian pembangunan sektor pertanian NTT yang menunjukkan tren peningkatan signifikan produksi pangan daerah dalam dua tahun terakhir.
Komitmen Bersama Memperkuat Ketahanan Pangan
Dalam sambutannya, Gubernur Nusa Tenggara Timur menegaskan bahwa petani merupakan aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

“Petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari tangan petani, pangan masyarakat tersedia dan kehidupan bisa berjalan,” tegas Gubernur.
Gubernur juga menekankan bahwa swasembada pangan merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, petani, perguruan tinggi, dunia usaha, serta dukungan TNI dan Polri.
Ia menekankan bahwa swasembada pangan bukanlah pekerjaan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, serta dukungan TNI-Polri dan seluruh masyarakat.
Gubernur juga mengapresiasi Kabupaten Kupang yang menargetkan produksi padi di atas 100 ribu ton. Menurutnya, sektor pertanian terbukti menjadi pengungkit ekonomi daerah sekaligus solusi menekan kemiskinan ekstrem dan stunting.
Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan menanam sebagai budaya. Setiap keluarga didorong untuk menanam padi, jagung, tanaman pangan, perkebunan, maupun tanaman obat sesuai potensi wilayah masing-masing.
Produksi Padi NTT Mengalami Peningkatan Signifikan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur memaparkan progres capaian produksi gabah kering giling (GKG) di NTT.
Tahun 2025, produksi GKG mencapai 968.324 ton, meningkat sebesar 260.532 ton atau 36,81% dibandingkan tahun 2024.
Produksi beras tahun 2025 tercatat 567.178 ton, meningkat 152.602 ton (35,38%) dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 414.576 ton.
Peningkatan tersebut turut berdampak pada penyerapan beras oleh Perum Bulog di NTT sebanyak 6.056 ton.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, atas dukungan maksimal kepada NTT, mulai dari bantuan alsintan, traktor, pompa air, bibit hingga pupuk.
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan implementasi nyata Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Gerakan Tanam Serentak dan Penandatanganan Komitmen Bersama

Gerakan tanam dilakukan secara simbolis oleh Gubernur NTT bersama unsur Forkopimda, kepala daerah, dan perwakilan petani, serta dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Provinsi NTT.
Sebagai penguatan komitmen bersama, kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen pencapaian swasembada pangan berkelanjutan oleh perwakilan kepala daerah dan Kepala Dinas Pertanian dari masing-masing kabupaten/kota.
Komitmen ini menjadi wujud keseriusan pemerintah daerah dalam: Menjamin keberlanjutan swasembada pangan di seluruh wilayah NTT, Meningkatkan produksi pertanian, Memperkuat ketahanan pangan
Diversifikasi Pangan: Sorgum dan Jagung
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma turut menekankan pentingnya strategi adaptasi pertanian sesuai potensi wilayah.
Ia mendorong Kabupaten Sabu Raijua untuk mengembangkan sorgum dan jagung sebagai komoditas unggulan lahan kering.
Menurutnya, pengembangan komoditas selain padi sangat penting sebagai substitusi beras, terutama di daerah dengan karakteristik iklim kering.
Target Produksi 2026 dan Strategi Daerah
Bupati Kupang Yosef Lede menargetkan produksi padi tahun 2026 mencapai 100.000 ton, meningkat dari 87.000 ton pada tahun sebelumnya.
Strategi yang diterapkan meliputi:
- Mekanisasi pertanian melalui sistem brigade alsintan
- Program cetak sawah rakyat
- Optimalisasi lahan tadah hujan
- Persiapan pembentukan BUMD Agrobisnis untuk menjaga stabilitas harga hasil panen
Langkah ini diharapkan mampu menjamin kebutuhan pangan masyarakat bersumber dari produksi petani lokal.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, melaporkan bahwa tahun 2026 Pemprov NTT menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90% menjadi 273.800 hektare, dari tahun 2025 seluas 253.700 hektare.
Target produksi tahun 2026 ditetapkan sebesar:
- 1.186.456 ton GKG
- 694.944 ton beras
Target tersebut disesuaikan dengan rata-rata kebutuhan beras NTT sekitar 650.000 ton per tahun.
Penyerahan Bantuan Pemerintah dan Penghargaan
Dalam rangka mendukung peningkatan produksi pertanian, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga menyerahkan bantuan pemerintah kepada kelompok tani sebagai bagian dari penguatan kapasitas produksi pertanian di daerah.
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT memberikan penghargaan kepada tiga kabupaten dengan kontribusi peningkatan produksi padi tertinggi pada tahun 2025, yaitu:
Kabupaten Manggarai Barat
Kabupaten Kupang
Kabupaten Sumba Timur
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas komitmen pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta petani dalam meningkatkan produksi pangan daerah.
Dialog Interaktif dan Penguatan Kolaborasi
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan dialog interaktif daring bersama perwakilan petani, penyuluh pertanian, dan dinas pertanian kabupaten/kota untuk memperkuat koordinasi dan sinergi program.
Gubernur menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada tahap menanam dan panen saja, tetapi harus dilanjutkan pada pengolahan, pengemasan, dan peningkatan nilai tambah hasil panen sebelum dipasarkan.
Menurutnya, membangun Indonesia yang kuat harus dimulai dari daerah, dan NTT siap memperkuatnya melalui swasembada pangan yang berkelanjutan.





