Luas Panen Jagung NTT 2025 Tembus 114,52 Ribu Hektare, Produksi Capai 305,34 Ribu Ton

Kinerja sektor pertanian jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Berdasarkan hasil pengamatan KSA Jagung, luas panen jagung pipilan kering mencapai 114,52 ribu hektare atau meningkat 5,70 ribu hektare (5,24 persen) dibandingkan 2024 yang tercatat 108,82 ribu hektare.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Matamira B. Kale, saat jumpa pers di Kantor BPS NTT, Senin (2/3).
Sejalan dengan kenaikan luas panen, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 tercatat sebanyak 305,34 ribu ton. Angka ini naik 12,28 ribu ton atau 4,19 persen dibandingkan produksi 2024 yang sebesar 293,05 ribu ton.Peningkatan tersebut mencerminkan membaiknya aktivitas budidaya jagung, baik dari sisi perluasan lahan maupun produktivitas panen.
Menurut dia, memasuki awal 2026, potensi panen masih menunjukkan tren pertumbuhan. Untuk periode Januari–Maret 2026, luas panen jagung pipilan kering diperkirakan mencapai 50,75 ribu hektare. Angka ini meningkat 7,59 ribu hektare atau 17,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 43,16 ribu hektare. Estimasi tersebut merupakan angka potensi dengan asumsi seluruh tanaman yang dipanen berada dalam bentuk jagung pipilan.
Dari sisi produksi, pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 134,51 ribu ton. Angka ini masih bersifat sementara. Jika dibandingkan dengan produksi Januari–Maret 2025 yang sebesar 114,67 ribu ton, maka terjadi kenaikan sekitar 19,84 ribu ton atau 17,31 persen.
Secara keseluruhan, pertumbuhan luas panen dan produksi jagung ini memperkuat optimisme terhadap kontribusi komoditas jagung dalam menopang perekonomian daerah, khususnya dalam menjaga pasokan dan mendukung kesejahteraan petani di NTT.
