loader image
Close
Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Dari Kebun ke Layar Ponsel: Cara Petani Tuik Bukael di Molo Tengah Promosi Produk dan Bersuara Untuk Kebutuhan Mereka

March 4, 2026March 5, 2026 Artikel
Anggota Kelompok Tani Tuik Bukael Desa Kualeu, Kec. Molo Utara, Fridolin Tfukan

Siang itu, tepatnya pada Sabtu (28/02/2025) pukul 13:30 WITA, kabut tipis masih membalut langit Kota Soe. Dinginya udara kota menuju desa cukup menggigit ketika saya bersama dua rekan wartawan menyuduri jalan aspal tua berkerikil menuju Desa Kualeu, Kecamatan Molo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami mencari markas kelompok tani Tuik Bukael, para petani dan kebun-kebun mereka.

Kami menuruni lereng terjal menuju kebun-kebun petani di wilayah lembah yang sedang menghijau oleh ragam tanaman hortikultura. Di antara barisan wortel dan cabai hijau yang tumbuh subur, Fridolin Tfukani (28) berdiri menenteng tas hitam kecil, sambil jemarinya sesekali menggapai ujung dedaunan tanaman cabai hasil usahanya bersama anggota kelompok.

Pandangannya kuat ke arah kami bertiga dan Irma (seorang staf Yayasan CIRMA), ketika sorotan kamera menantangnya. Fridolin adalah anggota Kelompok Tani Tuik Bukael. Bersama 20 anggota lainnya, dua perempuan dan 19 laki-laki ia kini tak hanya berkutat di kebun, tetapi juga belajar menjadi “pewarta” bagi aktivitas mereka sendiri.

Inspirasi itu muncul setelah ia dan rekannya Demris Oematan mengikuti pelatihan jurnalisme warga yang digelar Yayasan Media Flores Peduli (YMFP) mitra Yayasan CIRMA dalam kerja sama dengan jurnalis Kompas, Frans Pati Herin pada awal Februari 2026 lalu.

“Saat ini kami sudah bisa edit foto dan video sederhana. Sudah mulai tayang di Facebook dan TikTok,” kata Fridolin dengan wajah berbinar.

Sejak pelatihan itu, Fridolin dan rekannya Demris mulai rajin mendokumentasikan setiap kegiatan kelompok. Mulai dari menanam wortel, menyiangi kacang panjang, hingga rapat kecil di bawah pohon.

“Belum banyak, tapi kami sudah mulai. Tanam sayur, kami foto dan video. Lalu edit sedikit, kasih caption, lalu tayang,” ujarnya.

Meski terlihat sederhana, proses itu tidak selalu mudah, kata Fridolin. Telepon genggam yang digunakan sering kali tidak mendukung aplikasi pengeditan. Beberapa fitur terkunci dan hanya bisa dibuka jika membayar versi premium.

“HP belum memungkinkan. Baru edit sedikit sudah muncul tulisan premium, harus bayar. Kami belum ada uang,” katanya sambil tersenyum malu. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan semangatnya dan Sefris.

Di hadapan kami, Fridolin mengungkapkan bahwa ia dan anggota kelompok Tuik Bukael mengelola lahan yang dulu dikenal sebagai tanah tidur, keras dan tandus. Mereka membalik tanah secara manual, tanpa alat modern. Pelan-pelan, lahan itu berubah menjadi kebun hijau yang ditanami wortel, cabai, tomat, pare, hingga kacang panjang.

Air untuk mengairi tanaman berasal dari sumber mata air kali yang mengalir dari ketinggian sepanjang musim. Namun saat kemarau tiba, mereka sering kekurangan air karena belum memiliki pipa dan mesin pendorong. Mereka hanya mengandalkan media sederhana seadanya, seperti bilah bambu.

Selain air, tantangan lain datang dari hama di musim hujan. Semua diatasi secara mandiri, dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Jika tidak tahu, mereka bertanya kepada Irma.

Bibit tanaman sebagian dibantu pemerintah desa dan pemerintah daerah. Sementara untuk pendampingan teknis, mulai dari pengolahan lahan hingga pemasaran, mereka didukung oleh Yayasan CIRMA.

Kini, kebun mereka relatif aman dari gangguan ternak karena hewan peliharaan warga sudah ditertibkan.

Sumber :Dari Kebun ke Layar Ponsel: Cara Petani Tuik Bukael di Molo Tengah Promosi Produk dan Bersuara Untuk Kebutuhan Mereka – Koran Timor

Post navigation

Previous Previous
Cuaca Ekstrem di NTT: Hujan Ringan hingga Sangat Lebat pada 03-09 Maret 2026
NextContinue
BMKG Prediksi Musim Kemarau Datang Lebih Cepat, Ini Jadwalnya
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search